Hot!

Perseteruan Sastra

Judul di atas bisa juga dibalik menjadi "sastra perseteruan." Maaf, tapi ingatkah kita dengan polemik besar antara Sanusi Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana di zaman lampau? Atau antara Pramoedya Ananta Toer dengan kelompok Manikebu. Melompat lagi setelah Manikebu pecah dari dalam dan Pram meninggal, pertengkaran antara kelompok sastra masih terus berlangsung.

Memperebutkan hegemoni sastra itu penting? Jawabnya ada pada pihak-pihak yang berebut. Sastra itu sendiri adalah hasil kerja, hasil pemikiran, hasil peng-aktivan bakat yang biasa disebut orang sebagai seni sastra yang menawarkan kepada peminatnya untuk dinikmati sebagai hasil seni, hasil karya seseorang penciptanya. Jadi di luar tujuan tersebut sastra tidak memerlukan hegemoni, tidak memerlukan kapten, jendral apalagi marsekal. Sastra adalah arena kompetisi yang diwasiti oleh masyarakat sastra, dan bahkan seluruh kemanusiaan. Siapa yang menghasilkan karya sastra yang terbaik dialah yang dikagumi dan dihargai serta dihormati masyarakat sastra. Jadi penentunya bukan salah satu hegemonist. Tapi dalam satu masyarakat sastra yang sedang terjadi pertempuran memperebutkan hegemoni, akan timbul bermacam-macam klas sastra: Sastra dominan, sastra Pemerintah, sastra Partikulir, sastra yang dipencilkan dan sebagainya.

Dalam masyarakat sastra yang demikian, tidak akan terdapat atmosfir sastra yang sehat karena sastra dalam perang perebutan itu bersifat agressif, super spontan dan bahkan bisa pula melahirkan sastra ekstrim: kiri, kanan, muka, belakang. Kompetisi yang terjadi bukan lagi bagaimana agar bisa melahirkan sastra yang paling baik mutunya tapi hanya yang paling garang bunyinya. Dalam hal ini sastra yang terpencilkan adalah satra yang hampir dibikin setara dengan sastra Paria, sastra klas terbawah, tak punya hak suara. Umpamanya apa yang dinamakan sastra Eksil sebagai yang kurang dikenal, para penulis Eksilan Indonesia yang menetap di luar negeri korban peristiwa politik 65.

Sastra dan juga sastrawaan eksil Indonesia ini sudah lama di luar pertempuran perebutan hegemoni dan cuma jadi penonton pasif meskipun masih tetap aktif berkarya (sebagian). Klas sastra yang dipencilkan ini otomatis menjadi sastra oposisi terhadap sastra Pemerintah, oposisi kecil yang bahkan tak pernah diketahui oleh sastra Pemerintah atau sastra yang sedang berdominasi dan mereka ini rendah hati tapi bukan rendah diri. Klas golongan ini ingin dihapus dari sejarah sastra resmi, diabaikan dan dianggap rendah mutu karya-karya mereka meskipun sangat mungkin tak permah dibaca atau diperhatikan secara memadai oleh kesan prematur rendahnya mutu karya mereka.

Perebutan hegemoni sastra tentu saja antara lain yang terpenting adalah merebut berbagai media sebagai sarana untuk mempublikasikan hasil karya mereka. Siapa yang lebih banyak menguasai media seperti majalah, koran-koran, radio, penerbit-penerbit dan sebagainya, dialah yang akan berdominasi. Itu tentu saja akan bersangkutan dengan uang, modal dan para sponsor, besar dan kecil, dalam dan luar negeri. Sastra di abad ini adalah juga UANG, UANG dan UANG.

Tapi para sastrawan dan sastra terpinggirkan masih beruntung ada internet yang mau menampung karya-karya mereka meskipun tidak dibayar malah membayar ongkos penggunaan komputer dan sebagainya. Sastra internet atau sastra gratis tanpa hambatan editor ini oleh para hegemonist sastra resmi dianggap sebagai sastra sampah, tidak bermutu dan bukan sastra. Yang bernilai adalah cuma sastra hegemonist, sastra yang dimuat dalam majalah, dalam koran, di radio dan TV serta yang diterbitkan penerbit besar dan terkenal. Tidaklah mengherankan kalau dalam masyarakt sastra yang selalu dalam keadaan perang memperebutkan hegemoni ini,suka ribut dan bertengkar. Nilai sastra tidak lagi pada sastranya tapi pada para raja sastra pemegang hegemoni yang itupun masih ada tingkat-tingkat klasnya: hegemoni tingkat satu, dua, tiga dan seterusnya. Lalu bagaimanakah nilai obyektif hasil sastra dalam masyarakat stabil perang sastra demikian? Hari ini sastra berseteru. Tapi orang-orang yang mencintai sastra termasuk kita semua di sastra cyber, justru menemukan damai.

0 apresiator:

Posting Komentar