Hot!

Siapakah Presiden Indonesia?


Judul di atas adalah untuk segala waktu dan cuaca di Indonesia. Mungkin juga untuk semua generasi di tanah air yang pernah bertanya hal sama tapi dengan niat berbeda-beda. Siapakah presiden Indonesia? Secara tidak sengaja pertanyaan itu pernah terlontar dari mulut lugu seorang tukang becak di mulut sebuah gang yang menuju rumahku. Sebenarnya tukang becak itu tidak begitu peduli dengan pemilu. Mungkin juga dia belum terdata sebagai pemilih. Sebab setahuku dia datang ke kota ini tanpa KTP. Bertahun-tahun kemudian dia masih belum memiliki kartu itu yang konon adalah pengenal warga negara yang sah di republik ini.

Tukang becak itu bertanya kepada temannya yang kebetulan bisa menjawab dengan benar. Maka dia pun mengangguk-angguk sambil mencoba mengulang nama yang diucapkan temannya. Daeng Ero' nama tukang becak berusia separuh baya itu masih berusia belasan tahun ketika Bung Karno masih menjadi presiden. Daeng Ero' di masa itu juga masih sangat kuat begadang ketika di kampungnya dia ikut kena giliran jaga malam. Maklum waktu itu hampir semua rakyat ikut terlibat dalam pengganyangan komunis.

Banyak peristiwa di republik ini yang hanya tersisa kenangan di kepala tukang becak berusia tua itu. Rambutnya memutih pertanda beberapa zaman telah dia kunyah bersama waktu. Bung Karno misalnya. Dia masih tak habis mengerti. Sang proklamator tidak mengutang sesenpun dari luar negeri. Tapi negeri ini begitu dihormati dan dihargai oleh segala bangsa di dunia. Negara-negara di asia menjadikan republik ini sebagai kiblat tentang bagaimana cara sebuah bangsa tidak ingin jadi kuli bangsa lain. Konon Amerika pun segan dan tidak berani mendikte republik ini. Tidak seperti sekarang.

Daeng Ero' menghela nafas panjang. Siapakah lagi presiden Indonesia yang bisa seperti Bung Karno? Lelaki tua itu tiba-tiba mengernyitkan dahi. Diingatnya ucapan-ucapan seorang tetangganya yang katanya pengurus LSM, bahwa Bung Karno juga nyaris menenggelamkan bangsa ini. Tapi tentu saja dengan pikirannya yang polos daeng Ero' tidak mempercayainya. Lelaki tua itu lebih meyakini tentang apa-apa yang telah dia kunyah bersama waktu. Banyak peristiwa di republik ini yang terekam jelas di benaknya. Termasuk ketika rumahnya digusur, katanya atas perintah pak walikota. Juga termasuk peristiwa kemarin pagi. Seorang caleg dari partai anu datang ke gubuknya dengan penuh senyum dan cerita berapi-api tentang idealismenya. Senyum itu tak lepas-lepas hingga sang caleg permisi. Heran! Tukang Becak yang lugu dan polos itu tentu saja heran sebab ketika caleg itu masih bertetangga dengannya di kota anu tak sekalipun dia mau bertegur sapa dengan daeng Ero' apalgi seperti kemarin, sebuah peristiwa ajaib sebab justru orang kaya itu yang sudi berkunjung ke gubuk reotnya. Tamunya kemarin menitipkan sebuah kartu nama lengkap dengan foto orang itu. Tapi daeng Ero' menerimanya dengan ikhlas walau dia tidak dapat sama sekali membaca apa saja yang tertulis di kartu itu. Daeng Ero' kebetulan seorang buta huruf. (Ivan Kavalera)

1 apresiator: