Hot!

Sastra Indonesia Sangat Hebat


Ada beberapa orang ahli seni berpandangan bahwa tak ada hukum atas imajinasi, sehingga hasil imajinasi tak dapat dihadapkan pada aturan hukum manapun. Humanisme universal yang memegang teguh l'art pour l'art, seni untuk seni, dan bahwa sastra memiliki dunianya sendiri dijadikan tameng oleh sastrawan untuk tidak mempertanggungjawabkan karyanya. Padahal sastra adalah sebuah dunia manusia yang diciptakan manusia untuk manusia, tak bisa tidak, sastra tak bisa dilepaskan dari adab hidup umat manusia. Mereka menulis dengan semangat kebebasan berekspresi, namun berlepas tangan terhadap apa yang akan diakibatkan oleh karyanya.


Indonesia ketinggalan dalam dunia sastra? Ah, tidak juga. Pramoedya Ananta Toer contohnya sastrawan tanah air yang mampu mendunia. Sejumlah karya sastra dari beberapa negara di Asia dapat mendunia karena ditulis dalam bahasa Inggris dan dapat diterima oleh masyarakat pembaca dunia. Dalam acara penganugrahan Nobel Sastra tahun 2005 oleh Akademi Swedia, Pramoedya Ananta Toer dikabarkan masuk nominasi sebagai urutan ketiga di bawah Ali Ahmed Said (Suriah), Ko Un (Korea Selatan), dan Thomas Transtromer (Swedia), namun yang terpilih ternyata Harold Pinter, dramawan Inggris, menyusul Elfriede Jelinek (Swedia) yang menerima hadiah tersebut di tahun 2004. Kegagalan Pram-yang dicalonkan sejak 1981-dapat dikatakan sebagai kegagalan Indonesia di dunia sastra. Meskipun dalam penghadiahan tersebut tidak jelas kriteria pemilihannya. Namun hal ini menjadi semacam cermin yang merefleksikan kualitas sastra Indonesia.


Bukan soal mendunia atau tidak. Kita harus berbicara tentang hebat atau tidak hebatnya. Lebih hebat lagi karya-karya sastra berbau seks ditulis oleh perempuan-perempuan beraliran liberal seperti Ayu Utami dengan Saman, Larung, dan si Parasit Lajang, Djenar Maesa Ayu dengan bukunya Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), dan Nayla, Dinar Rahayu dengan Ode untuk Leopold van Sacher Masoch, Herlinatiens dengan Garis Tepi Seorang Lesbian, Clara Ng dengan Tujuh Musim Setahun, atau Ratih Kumala dengan Tabularasa-nya. Yang lainnya ada Ucu Agustin dengan tema sodomisme-nya dan Dina Oktaviani dengan kegamangan teologis, serta Mariana Aminuddin dengan estetika kelamin.


Maka berbondong-bondonglah penulis atau sastrawan menjadi pengikut Ayu Utami yang karya-karyanya berhaluan sekuler-liberal. Mereka mengusung tinggi kebebasan di segala hal, terutama dalam soal seks; sastra tanpa seks diopinikan seperti sayur tanpa garam, tidak sedap. Ayu Utami yang di dalam berbagai pertemuan menyampaikan kredonya tentang menolak lembaga pernikahan dengan seperangkat aturan dan nilainya serta menyetujui kebebasan seks, menyatakan bahwa dia menganut pandangan humanisme-universal. Itulah yang diamini oleh banyak sastrawan dan calon sastrawan, sehingga berlomba-lomba menghasilkan karya yang tak jauh-jauh dari gagasan seperti itu. Karya-karya sastra belakangan tidak lagi menawarkan pencerahan pemikiran yang berguna untuk peningkatan harkat hidup orang banyak. Sebaliknya memicu pencerabutan khalayak dari nilai-nilai yang luhur dan sakral.

Satu kenyataan bahwa novel seks di Barat hanya diletakkan di etalase paling bawah. Sastra Indonesia memang sangat hebat (?) bahkan lebih hebat dari sastra yang paling porno di Barat sekalipun.

0 apresiator:

Posting Komentar