Hot!

Sastra Pembebasan


Masih adakah sastra pembebasan? Jawabannya membuat gamang. Tak pasti. Mungkinkah kita masih bisa saling mengawasi, berinteraksi, saling belajar di dunia maya ini? Sebagian sastrawan mencoba menjelajahi berbagai bentuk eksprimen. Mulai dari romantisme sampai ilusiminimalis. Merdeka tanpa paksaan? Lihatlah burung yang tak mengenal penjara. Namun mereka toh tahu jalan pulang ke sarangnya.

Tapi masih bisakah kita saling mengawasi? Ribuan penulis di internet dengan gagahnya mengklaim diri sebagai bagian kecil dari gerakan sastra pembebasan. Sastra adalah salah satu alat pencerahan bangsa. Namun saya agak bingung ketika menemukan blog seorang teman yang tiba-tiba saja berubah sama sekali tampilannya. Sama sekali tak ada lagi puisi-puisi dan esai yang dulunya justru merupakan ciri khas blognya. Tema-tema karyanya pun bergerak ke arah 'pembebasan' meminjam ucapannya sendiri. Blog teman itu sekarang jauh lebih mirip "blog iklan" bukannya blog untuk mendukung semangatnya dalam berkarya.

Siapapun termasuk seorang penulis memang butuh makan dan uang. Sama sekali bukan pertimbangan estetis ketika sebuah blog sastra mendadak lebih banyak dijejali iklan daripada segala yang berbau sastra. Konsekuensi adalah batasan yang sangat abstrak dalam hal ini. Tapi siapa tahu teman itu juga benar bahwa salah satu makna pembebasan yang didengungkan sebagian sastrawan tanah air ternyata memang adalah pembebasan dari kelaparan? Saya masih sering termangu mencoba memahami ucapannya.

0 apresiator:

Posting Komentar