Hot!

Ketika Sastra Menjadi Sunyi

Beberapa hari yang lalu ada yang sungguh terlupa dalam tulisan saya "Dari Cihampelas Hingga Sastra Sunda" yang merupakan sedikit oleh-oleh dari tanah parahyangan. Saya tidak sempat mencatat sedikit hal tentang geliat sastra di Bandung. Padahal beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 25 Januari 2009 di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, Majelis Sastra Bandung didirikan. Majelis itu ditegakkan oleh Matdon, seorang penyair sekaligus jurnalis bersama penyair muda lainnya yang sering malang melintang di tiap sudut kota Bandung. Pada hari itu juga dibuka temu ide dan bicara yang bertajuk "Menengok Tradisi Sastra di Jawa Barat."

Memang banyak Matdon-Matdon lainnya di banyak kota di tanah air. Matdon adalah contoh tipikal anak muda yang punya kegigihan untuk berbuat sesuatu yang dirasa sebagai penyelamatan seni, atau sastra pada khususnya. Ketika sastra dirasakan menjadi sunyi maka anak muda semacam Matdon akan muncul. Tapi tentunya siapapun tidak boleh berharap terlalu banyak akan selalu ada anak muda semacam ini. Jangan-jangan Matdon hanya terdapat di beberapa kota saja di tanah air.

Matdon melihat kehidupan sastra di kota Bandung telah berada pada titik menjemukan. Miskin apresiasi dan ruang diskusi. Karya-karya para penyair mudanya pun masih terhitung sedikit. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Kenyataan ini berbeda dengan ruang seni lain yang lebih aktif dan memiliki komunitas yang kuat serta infrastruktur yang bagus. “Situasi sastra kita yang menjemukan ini harus diubah. Penyair muda harus mau berdarah-darah untuk membuat sebuah karya,” kata Matdon. Maka ia bersama para penyair lain di kota Bandung mendirikan Majelis Sastra Bandung. Tujuannya sederhana saja, bahwa para penyair Bandung tak akan punya alasan kekurangan ruang apresiasi dan ruang bertukar pikiran.

Bilamanakah sastra menjadi sunyi? Yang jelas bukan ketika para sastrawan senior telah meninggal dunia semua. Sastra bisa jadi adalah tugu kematian di dalam sebuah festival, kampung budaya dan semacamnya jika memang sastra kebetulan hanya berupa ruh gentayangan. Secara fisik dia tak ada lagi. Tapi syukurlah, masih banyak yang mau berbuat seperti Matdon secara fisik. Bahkan mampu berdarah-darah untuk itu semua. Sastra di Indonesia tak akan menjadi sunyi selama masih ada anak-anak muda yang paling tidak tetap rajin menulis karya sastra meski tak kunjung dimuat juga oleh penerbit manapun. Yang tidak bisa disepelekan juga adalah sastra cyber yang sebahagian besar malah tak mau bergantung kepada sastra cetak sebab internet adalah rumah yang nyaman bagi mereka.

Bagaimana dengan anda? Tetaplah menulis di mana saja. Yakinlah selalu ada yang mau membaca karya anda. Dengan demikian sastra tak akan menjadi sunyi.




0 apresiator:

Posting Komentar