Hot!

Musa Manurung

Anak muda itu bernama Musa Manurung. Dia salah satu dari sekian banyak anak muda di negeri ini yang suka menulis puisi, prosa dan sebagainya. Seperti kebanyakan pendengar radio lainnya, Musa dengan saya belum pernah bertemu langsung. Komunikasi kami hanya melalui email, SMS dan saling mengunjungi blog masing-masing. Yang juga agak sedikit berbeda dengan pendengar radio lainnya, Musa hanya bisa mendengarkan RCA 102, 5 FM melalui internet. Rumahnya di kota Barru, salah satu kabupaten yang belum bisa terjangkau oleh siaran RCA yang baru meliputi tujuh kabupaten di Sulsel. Saya memastikan dia paling menyukai program acara Ekspresi, sebuah program pembacaan puisi dan prosa di RCA setiap jam 11 siang hari Minggu.

Yang menarik, sejak sebulan terakhir saya baru menyadari bahwa ternyata nama Musa Manurung jauh lebih akrab di telinga pendengar RCA dibanding nama-nama besar seperti Afrizal Malna, Zawawi Imron,
WS Rendra, Ikranegara dan sederetan sastrawan lainnya yang karya mereka juga sering dibacakan di RCA. Beberapa waktu lalu sebuah survei kecil-kecilan pernah dilakukan oleh beberapa relawan terhadap masyarakat pendengar radio.

Program Ekspresi RCA memang identik dengan dominasi karya-karya sastra yang tidak atau belum pernah dipublikasikan di media cetak. Sebuah peluang manis bagi siapa saja yang suka menulis. Pintu istimewa bagi para penulis muda seperti Musa untuk lebih intens menetaskan karya. Pada edisi Minggu hari ini di Ekspresi saya akan membacakan sebuah puisi karya Musa yang dikirim beberapa hari lalu melalui e-mail di ivankavalera@yahoo.co.id dan sebenarnya saya juga sangat menginginkan dia untuk sekali waktu mengirimkan rekaman pembacaan puisi dengan suaranya sendiri (siapa pun juga boleh). Entah dalam bentuk CD, kaset atau audio lewat e-mail. Meski membacakan karya sendiri di Ekspresi itu bukanlah hal yang wajib. Berikut ini isi email dari Musa yang estetis:

apa kabar mas ivan? maaf, baru muncul, sibuk sih. ni aku baru nulis lagi sekitar 3 jam lalu, itung itung met hari kartini kemaren mas. nih ada dikit buat acara ekspresi:

Surat

salam sejahtera wahai perempuan calon
ibu dari anak anakku
hanya mampu kusapa engka dari kejauhan ini
ketika langit sedang mendung
dan
angin angin menerbangkan dedaunan

bahkan rindu tak membuatku berani menemuimu
aku takut!
haruskah dengan belasan luka kuhampiri
engkau di kaki pelangi sudut sana
atau dengan api yang menyala dalam pelukku?

kutemukan aromamu pada cahaya senja
dan hangat air laut
mereka masih resah membisikkan syair syairmu
syair yang engkau balut dengan bening keristal airmata
dan nada nada gema

di kejauhan ini, di sebuah persimpangan
pilihanku jelas.

Puisi dari Musa itu merupakan kiriman karyanya yang ke lima kalinya ke RCA. Sesuatu yang luar biasa sebab nama anak muda itu lebih populer dibanding WS Rendra khusus bagi kalangan pendengar RCA. Sastra di radio, dia melintas di telinga dan tidak banyak terdokumentasikan bagi penikmatnya dalam bentuk arsip cetak. Sebagian kecil mungkin juga ada pendengar yang berusaha merekamnya. Mungkin sebahagian kadang terlepas dan ada juga karya dan nama penulisnya yang tertangkap pendengaran hati di kalangan pendengar radio. Kadang ada yang menyadari sendiri bahwa karya mereka mungkin akan dimakamkan di sastra-audio seperti radio, bukan di pekuburan sastra cetak atau bahkan sastra cyber sebab sebahagian penulis di sastra radio bukan blogger. Mereka sebahagian besar hanya anak-anak muda biasa, pelajar, mahasiswa, pengangguran, sastrawan sungguhan dan sebagainya. Musa Manurung adalah salah seorang dari mereka.


2 apresiator:

  1. Sungguh saya tidak menyangka, semua akan seperti ini. Terima kasih.

    BalasHapus
  2. dan sungguh saya tak menyangka akn membaca postingan ini...

    BalasHapus