Hot!

Rumah Politik untuk Seni Budaya

Apakah seniman, sastrawan dan makhluk sejenisnya masih bisa dijamin independensinya dalam ranah politik? Adalah hak setiap individu termasuk seorang seniman mengekspresikan diri untuk sebuah pilihan politik. Pilihan politik bisa diam-diam ataupun terbuka. Adakah yang menyentak dari penampilan WS Rendra yang baca puisi di acara deklarasi Mega-Prabowo di Bantar Gebang Jakarta? Siapa saja tidak berhak memprotes ketika seorang budayawan sekelas Ishak Ngeljaratan hadir di acara deklarasi JK-Win di Makassar. Semuanya sah dan halal-halal saja. Tapi saya merasa aneh dan ganjil. Akibatnya saya memindahkan channel televisi ketika WS Rendra berorasi menyatakan dukungannya lalu baca puisi.

Tidak ada pertanyaan dengan tanda tanya besar dengan huruf tebal di sana. Kecuali mungkin sisa tanya tentang biaya setengah milyar hanya untuk deklarasi di atas pemukiman pemulung sampah Bantar Gebang. Setengah milyar rupiah yang bisa saja menusuk hati orang-orang miskin yang menyaksikannya melalui layar kaca. Apalagi bagi para wong cilik sendiri yang kebetulan hadir di sana. Begitu perih? Pasti. Ironis dengan konsep perjuangan wong cilik Mega-Pro. Terlebih dengan deklarasi SBY-Boediono yang menghabiskan lebih satu milyar rupiah. Bayangkan jika uang sebesar itu disumbangkan kepada kaum dhuafa. Lalu deklarasi cukuplah dilakukan di tempat sederhana.


Tiba-tiba
kita menemukan tanah air yang berbeda di hari ini. Sebuah delarasi ternyata memerlukan juga sebuah puisi yang bisa dibolak-balikkan sesuai momen oleh seorang WS Rendra. Politik ternyata membutuhkan seorang penyair besar yang sejak orde baru dikenal independen dan tak berpihak itu. Puisi Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar dibacakan Rendra hanya karena tercantum nama Bung Karno di sana? Bisa jadi agar ada stimulan bagi rakyat yang menyaksikannya. Tidak ada tanya tentang independensi seorang seniman, budayawan dan masa depan seni itu sendiri. Padahal belum ada bentuk jelas dari desain rumah politik bagi seni budaya di tanah air ketika seniman dan budayawan terang-terangan berkampanye untuk capres tertentu.

Sangat rumit untuk memastikan sikap manakah yang paing ideal bagi seniman. Di satu sisi ada nuansa yang unik ketika seniman terkenal dikenali oleh rakyat sebagai simpatisan capres tertentu. Bisa jadi ada nilai tambah atau sebaliknya justru menjadi bumerang. WS Rendra berhak memproklamirkan pilihan politiknya. Itu adalah pendidikan politik yang bagus. Lalu bagaimanakah dengan proyek idealis dari seorang Rendra untuk mencerdaskan bangsa melalui seni budaya? Saya sendiri masih bingung.
Jika seorang Rendra saja bisa pikun dan siapa tahu telah kehilangan cita rasa kebudayaan, nah apalagi dengan yang lainnya.

0 apresiator:

Posting Komentar