Hot!

Imperialisme Bahasa


Tidak ada yang lebih dikhawatirkan oleh para pakar bahasa selain imperialisme bahasa. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa pula yang menjadi pengawal budaya sebuah bangsa. Benteng apalagi yang tepat kita gunakan ketika kenyataan kini menunjukkan imperialisme bahasa dalam setiap sudut? Abad baru menawarkan dua imperialisme bahasa. Imperium pertama adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional yang paling penting. Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kaum elite di banyak negara berkembang bahkan berhasil memilah-milah stratifikasi sosial dalam masyarakat. Imperium kedua adalah bahasa gaul (prokem). Keseharian kita, jujur 90% kaum terdidik adalah pembawa kedua imperialisme tersebut. Walaupun bahasa Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai bahasa nasional namun terbatas dalam penggunaan.

Uniknya, bahasa daerah tak luput menjadi korban akulturasi bahasa gaul lokal di masing-masing ranah budaya dan suku. Anak Makassar berkata,"Kenapako nda' bisa menulis kah? Mudahji itu, ces!" Menakjubkan, sama sekali tak ada unsur bahasa Makassar maupun bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kalimat itu. Sepertinya begitu rumit untuk mengubahnya menjadi,"Mengapa tidak bisa menulis? Sebenarnya menulis itu sangat mudah, kawan!" dengan dialek berintonasi lokal sebenarnya bisa dilakukan. Tapi masalahnya nyaris tak ada usaha untuk mengasah kebiasaan. Bahasa gaul yang paling besar imperialismenya di tanah air adalah bahasa Jakarta ( dialek dan logat Betawi )."Eh lo mo kemane? Di sini aja ngebacain puisi buat gue!" Sebuah kalimat yang bukan bahasa Betawi sekaligus sama sekali bukan bahasa Indonesia.

Negara menghargai dan mempertahankan semua bahasa daerah di Indonesia, namun pemakaiannya dalam ruang lingkup daerah itu sendiri dan pada ranah budaya. Pemakaian bahasa pada ruang publik secara luas tentu saja sebagai bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional seperti pada salah satu fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara yang tercantum pasal 36 Bab XV UUD 1945.


Sesungguhnya belajar dan menggunakan satu bahasa tambahan merupakan cara yang sangat ampuh untuk menghargai dan memahami budaya-budaya lain. Mahatma Gandhi berkata, "Saya tidak ingin rumah saya ditemboki pada semua bagian dan jendela saya ditutup. Saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berembus di seputar rumah saya sebebas mungkin. Tetapi, saya menolak untuk terbawa dan terempaskan."

Arus deras penyebaran dan pertumbuhan bahasa Inggris tidak mungkin lagi dihindari dalam peta kekuasaan dunia, upaya yang bisa dilakukan bukanlah menghentikan atau memperlambat pertumbuhan bahasa Inggris di Indonesia. Upaya ini akan sia-sia saja dan malah tidak akan menguntungkan posisi bahasa Indonesia. Yang perlu adalah menemukan formula tepat untuk menjinakkan penyebaran bahasa Inggris, untuk memastikan bahwa bahasa ini tidak bertindak sebagai rintangan dalam perolehan ilmu pengetahuan maupun pengembangan pribadi dan bangsa. Sementara untuk memangkas bahasa gaul lebih membutuhkan penyadaran, pembiasaan, bukannya secara radilkal tapi dibutuhkan kehati-hatian sebab ranah bahasa gaul adalah yang terbesar pemakainya di tanah air. Dari sabang sampai Merauke. Instrumen pendukung satu-satunya adalah keberanian memangkas bahasa gaul di radio, televisi, majalah serta media lainnya. Media sebagai ranah khas bagi kaum terdidik adalah tempat paling efektif untuk memulai. Khusus di radio, semisal program berita, dakwah, sastra, budaya, talk show dan semacamnya diharapkan mampu meredam imperialisme bahasa gaul. Penyusupan ke dalam program musik dan entertainment yang lebih akrab dengan anak muda, juga diyakini mampu menjadi proses pembiasaan. Dibutuhkan lebih dari kreativitas untuk melakukan itu.Yang penulis maksud adalah tergantung kebijakan para pemilik media di Indonesia.






.




2 apresiator:

  1. selamat malam yu kita sama sama dukung prita yang teraniaya oleh rumah sakit di tunggu dukungannya

    BalasHapus