Hot!

Menulis Cerpen untuk Radio


Anak tetangga sebelah pada mulanya tidak begitu suka membaca novel. Tapi sejak menonton film Laskar Pelangi, beberapa hari kemudian justru anak itu penasaran ingin membaca novel karya Andrea Hirata itu. Masalahnya, anak itu kecewa berat sebab ada saja yang mengganjal pikirannya tentang adegan film yang berbeda dengan cerita aslinya. Bisa dibayangkan kejadian sebaliknya yang lebih parah bagi pembaca novel yang mendadak keranjingan menonton film yang diangkat dari sebuah novel laris, misalnya. Disimpulkan, ranah dan media yang berbeda tetap akan memunculkan perbedaan mendasar dari cara menikmati sebuah karya seni.

Penulis teringat seorang teman yang tidak terlalu suka dengan segala yang berbau sastra. Awalnya hanya suka menyetel radio untuk menikmati lagu-lagu terbaru dan sesekali informasi aktual. Di suatu hari telinganya menangkap sebuah cerpen yang dibacakan di radio. Dia menanyakan kepada penulis, "cerpen yang dibacakan itu dimuat di koran apa ya?" Penulis belum tahu apakah dia akan lebih suka yang mana, antara menikmati melalui radio ataukah langsung membaca teks asli cerpen tersebut? Sebuah rasa penasaran yang sungguh potensial untuk digarap oleh pelaku sastra, khususnya penulis cerpen yang mungkin berniat intens menulis cerpen untuk radio.

Cerpen di koran, majalah ataupun yang dibaca di internet tentunya memiliki kelebihan masing-masing bagi penikmatnya. Yang mungkin kurang digarap saat ini adalah penulisan cerpen untuk dibacakan khusus di radio. Persoalannya, era sandiwara radio yang telah berakhir sejak akhir 1990-an akan sangat berbeda dengan nuansa pembacaan cerpen secara monolog dari penyiar radio. Berbeda dengan puisi yang lebih dulu mampu berkubang dalam program sastra radio.

Sejauh ini, musik latar dan sound efek tertentu lumayan membantu pembacaan cerpen untuk menghidupkan chemistry ataupun merangsang telinga pendengar. Kerumitan yang muncul, nyaris semua cerpen yang pernah dibacakan di radio merupakan cerpen yang ditulis khusus buat dibaca orang-orang di media cetak. Nyaris tidak pernah ada cerpen yang ditulis khusus untuk konsumsi telinga. Sebagaimana halnya teks berita. Teks berita berbeda tergantung medianya apakah untuk dibacakan di radio, di televisi atau dimuat di koran. Cerpen radio akan sangat berbeda strategi dalam penulisan sebab akan dibacakan untuk menggiring imajinasi pendengar yang tidak langsung berhadapan dengan teks sebagaimana pembaca cerpen di media cetak. Siapa tahu sebuah peluang baru bagi anda yang ingin merambah-jelajahi bahkan mungkin akan muncul istilah baru "cerpenis radio?"

0 apresiator:

Posting Komentar