Hot!

Michael Jackson, Budaya Pop dan Kita


Perbincangan tentang budaya pop mulai mencuat lagi setelah kepergian Michael Jackson pada 25 Juni 2009. Jacko sebagai ikon budaya pop ditangisi di banyak sisi. Ada dua sisi utama yang paling kehilangan. Pertama, penggemar musik dari King of Pop di seantero dunia yang merupakan lingkaran massif budaya pop dunia. Kedua, dunia Islam yang tentu mau tak mau harus merasakan kehilangan salah satu aset penting. Michael Jackson atau Mikail (namanya setelah masuk Islam) adalah seorang pemeluk Islam yang tidak biasa, sebab meski muallaf tapi almarhum Jacko adalah fenomena istimewa bagi umat Islam di planet ini.

Michael Jackson sebagai ikon budaya pop selama empat dekade terbukti mampu menghipnotis siapapun termasuk mereka yang berada di luar mainstream budaya pop. Dunia islam juga berada di luar mainstream itu. Tapi kedekatan religius yang merekatkan hubungan itu meski baru berjalan kurang lebih setahun.

Penggagas utama dari kategori budaya pop yakni Theodore W. Adorno seorang filsuf memperlihatkan dengan tajam kaitan antara kultur industrial dengan gaya hidup nge-pop secara luas. Kehidupan ekonomi konsumerisme yang selama ini membelenggu jiwa masyarakat kita memang telah menanamkan sifat fetitistik dan itulah inti utama gaya hidup ngepop. Karena gaya hidup berarti cara berfikir, maka dari perilaku ekonomi ini kemudian menular ke dalam segi lain. Kekacauan ekonomi juga banyak ditularkan dari budaya pop.

Dalam dunia seni contohnya, terlihat gejala menjamurnya genre pop-art seperti bidang desain grafis, estetika mural, graffiti, seni lukis. Watak seni pop adalah kecenderungan untuk mengeksploitasi hal-hal profan dari manusia, seperti erotisme tubuh, keliaran hasrat atau wilayah absurd personal di tengah publik yang kesemuanya tertransfigurasikan lewat media yang dipakai kesenian itu secara khusus. Estetika kesenian pop tidak mengenal nilai transedensi humanitas, tetapi lebih cenderung mengeksplorasi hasrat-hasarat dangkal dan terkadang sisi gelap dalam diri manusia.

Ngepop adalah berarti pola konsumsi yang telah dan akan dibentuk oleh kekuasaan pasar lewat media pencitraannya saat ini. Apapun komoditas tidak dibeli berdasarkan fungsi dan kebutuhan yang sesungguhnya, tetapi berdasarkan rasa tertarik, eye catching dan ukuran-ukuran semu lainnya. Saat ini, Semua hal tengah dikomoditaskan, tak terkecuali ilmu pengetahuan. Buku-buku diperdagangkan dengan mengedepankan citra dan unsur-unsur artifisial dan bukan karena fungsi atau memang kualitas diskursifnya yang patut dibutuhkan.

Seorang blogger sahabat penulis pernah menceritakan keraguannya tentang idealismenya sebagai penulis blog. Karena di blognya sekarang bertumpuk iklan, kini dia merasa curiga dirinya tergerus dengan ide-ide yang dianggapnya ngepop. Penulis hanya mampu menghiburnya dengan kalimat,"Teruskanlah menuliskan ide-idemu. Ide juga layak dibayar sebab ide itu mahal harganya. Yang terpenting adalah niat baik. Yakinkan bahwa updating bukanlah semata untuk kepentingan traffic dan semacamnya."

7 apresiator:

  1. Makash dah ngasih catatan. Artikel2 di sini juga bagus dan tidak ngepop. Jarang ada blog yang berisi tentang budaya dan sastra.

    BalasHapus
  2. Untuk Michael Jakson ...Innalalillahi wainnailaihi roojiuun,semoga khusnul khotimah dan Amal ibadahnya diterima di sisi Nya,Sebagai kaum muslim yg seiman bersyukur sang super star telah diberikan Taufik dan Hidayah dan wafat dlm keadaan baik diakhir hidupnya...amin

    BalasHapus
  3. Saya ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Michael Jackson ini. He, saya tertarik dengan komentar blogger ngepop tadi. Ya, berpulang pada niat masing-masing saja. Nice posting.

    BalasHapus
  4. A. Khudori Soleh, terimakasih mas. Di sini kumpulan artikel biasa saja kok. Belajar menulis agar bisa seperti tulisan2 mas.
    ateh75, amin ya rabbal alamin.
    Newsoul,yg penting nawaitunya, sepakat mbak. Thanks.

    BalasHapus
  5. Dexter, kapan nih kirimkan rekaman audio pembacaan puisinya ke RCA? Pasti akan diputar di program sastra. Bisa dikirim via email di pseualfian@yahoo.com

    BalasHapus