Hot!

Romantisme Sastra, Makhluk Apa Pula Itu?


Konon seorang sastrawan yang selalu mampu menggedor cakrawala cinta pembacanya sangat berkemungkinan mengundang rasa penasaran perempuan pembacanya. Benarkah? Apakah si penulis itu romantis dan sangat memahami wanita? Sudut pandang yang berbeda diletakkan pada kecurigaan yag sama oleh setiap orang tapi tentu bisa salah.

Ada beberapa kasus di mana para lelaki pun bisa penasaran, lalu berkhayal dengan mencari referensi dari sana-sini, yang ujung-ujungnya adalah obsesi bahwa sang wanita penulis novel (atau penulis blog) itu juga sosok yang bisa menggelegak dan masih mencari penyaluran hasrat-hasrat rahasia. Wah! Mungkin akan terlalu jauh lagi analisa ini jika dikaitkan dengan kisah-kisah pesona sang sastrawan dan kenyataan bahwa kaum perempuan memang sebahagian besar menyukai hal-hal yang melenakan.Termasuk puisi-puisi indah, mungkin.
Tapi maaf, paragraf pertama di atas bukan untuk memprovokasi para perempuan untuk berhati-hati terhadap sastrawan. Romantisme bisa bersumber darimana saja.

Seorang teman yang menyebut dirinya penyair rombeng mengakui bahwa para perempuan yang ditemui dan dikenalnya justru adalah makhluk-makhluk sumber inspirasinya. Bukan untuk dicintai, katanya. Namun tak lebih sebagai proses olah rasa yang mencari estetika murni. Sebuah alasan yang menggugah jika itu memang benar. Menjijikkan jika itu pembenaran profesionalisme. Paragraf ketiga tulisan ini hanya untuk menegaskan bahwa sastra itu murni, kritis sekaligus romantis. Bila terdapat ekses dari romantisme dan ketidakmurnian olah rasa artistik maka itu hanya berasal dari "oknum" pelaku sastra. Bagaimana dengan anda?


0 apresiator:

Posting Komentar