Hot!

Gaung Sastra dari Pesantren

Dalam sejarah islam khususnya pada masa perjuangan Nabi, sastrawan dan karyanya memiliki peran yang sangat penting. Saat perang Khandaq, Nabi Muhammad, SAW juga sempat menyenandungkan puisi. Bahkan Nabi memberikan penghargaan kepada Ka’ab bin Zuhair yang membacakan puisi di depan Banat Su’ad. Tradisi berpuisi juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Lalu, tradisi ini berkembang sampai ke tangan kiyai dan Pesantren. Begitu pentingnya sastra, sehingga dalam Alquran ada satu surah khusus yang diberi nama Assyuara’ (Para Penyair). Dalam sejarah Walisongo, salah satu wali yaitu Sunan Kalijaga juga disebutkan banyak menciptakan syair-syair di samping seni wayang sebagai salah satu medianya dalam berdakwah.

Dari masa ke masa tradisi ilmu sastra di pesantren telah diajarkan. Anda yang pernah belajar di pesantren mungkin pernah membaca kitab Siraj At-Talibin-nya Kyai Ihsan- Kediri, atau kitab Al-Miftah, Aroudl, Balagah, Ma’ani dan lain sebagainya. Banyak tokoh-tokoh islam yang intens berdakwah melalui sastra seperti Ibnu Hazm, ulama fiqh asal Spanyol, penulis buku fikih termashur Al Muhalla, puisi cinta yang luar biasa indah Tauqul Hamamah (Kalung Burung Merpati). Para penyair Islam non-ulama (fikih) antara lain Muizzi, Abu A’la Alma’ari, Hathim At Thai, Abu Nuwas Al Hani, Abu Faraj al Asfahani, hingga Syauqi Bey. Dari kalamgan sufi, pasti kita kenal nama Jalaludin Rumi, Hafiz, Attar, Al Hallaj, Rabiah al Adawiyah, Abu Yazid al Bustami, dan masa-masa subur para penyair sufi Islam pada abad ke 10-14.

Di Indonesia nama-nama sastrawan yang berlatar pendidikan Pesantren seperti, Emha Ainun Najib, Jamaluddin Kafie, Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosie Herfanda, Abdul Hadi WM, Fudholi Zaini, Danarto, D Zawawi Imron, Kuntowijoyo, Ibrahim Sattah, Jamal D. Rahman, Mathori A Elwa, Ahmad Nurullah, Zainal Arifin Thoha, Syubbanuddin Alwy, Isbedy Stiawan ZS, Abidah El-Khalieqy, Hamdy Salad, KH Mustofa Bisri, CM. Hizboel Wathoni serta sederet nama-nama lain yang banyak mengusung sastra spiritual.

Sejak awal tahun 2000, sastra pesantren di Indonesia menunjukkan geliat yang luar biasa. Atmosfir sastra pesantren menunjukkan sekaligus mengukuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu pusat peradaban. Di sisi lain, meski Seni (fan) dan kesenian (al-fannan) kadang dianggap tidak esensial, bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang bisa melenakan orang, membuat penikmatnya berleha-leha, melalaikan orang dari urusan syari’at. Klaim ini diperkuat oleh adanya suatu histeria historis; dimana banyak sekali literatur keilmuan klasik (fiqh) yang dipergunakan pesantren yang menghukumi seni itu syubhat, makruh bahkan haram. Hukum-hukum fiqih ini kemudian difahami dengan sempit, tidak disertai dengan penggalian dengan wawasan hermeneutik. Padahal, interpretasi terhadap teks-teks fiqih terhadap kesenian seharusnya kritis dan kompherensif dalam mempertimbangkan berbagai konteks (asbabul wurudl). Salah satunya konteks kekinian di mana perubahan dan kecenderungan berbeda di setiap zaman.

Dewasa ini, secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan. Maka, bertambahlah jenis baru, genre baru ke dalam khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua jenis baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash.

Ciri khas sastra yang lahir dari kalangan pesantren giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos). Sangat nyata mengusung nuansa religius. Bisa ditelusuri pada karya-karya sastrawan pesantren dekade 90-an seperti Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abidah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi’ie, Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lainnya yang secara kultural memang habitatnya adalah lingkungan kehidupan santri.

Secara kuantitatif, genre sastra pesantren pop juga meramaikan industri perbukuan. Sederetan karya sastra pop pesantren yang terkenal antara lain: Santri Semelekete (karya Ma’rifatun Baroroh), Bola-Bola Santri (Shachree M Daroini), Kidung Cinta Puisi Pegon (Pijer Sri Laswiji), Dilarang Jatuh Cinta (S. Tiny), dan Santri Baru Gede (Zaki Zarung) Salahkah Aku Mencintaimu (Ahmad Fazlur Rosyad) dan sederet nama lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Motivasi lahirnya karya sastra pesantren yang "ngepop" ini mungkin beragam. Satu hal yang positif, anak-anak pesantren memang telah memasuki abad baru dalam berdakwah. Salah satunya melalui karya sastra, apapun bentuknya.

8 apresiator:

  1. Geliat Sastra dari pesantren memang sempat membahana ya gaungnya. Semoga terus membahana.

    BalasHapus
  2. Para religius yg sastrawan ,sangat indah.Aku ingin seperti mereka...Luar biasa dan sangat sempurna .karna sastranya dipenuhi oleh kecintaannya pada sang khalik...postingan yg luar biasa sahabat...

    BalasHapus
  3. salam kenal. sastra yg menarik. ;)dalem neh pembahasannya ;) selalu berbagi ilmu

    BalasHapus
  4. seperti lagu saykoji dah mulai online pagi2 pdhal face masih ngantuk, ternyata gusi sya membengkak ne sakit rasanya.

    BalasHapus
  5. @ Newsoul, amiin..bunda Elly. Tapi maaf nih kalo teralu banyak menggunakan istilah2 njlimet. He he..
    @ ateh75, Alhamdulillah. Sesungghnya segala pujian hanya untuk-Nya.
    @ Awal Sholeh, salam kenal balik. Gigi sakit? Minum antibiotik asemmenafat, bang.

    BalasHapus
  6. waaahh setuju neh, buwel suka tuh ama karyanya Gus Mus...kerennnnnnnn

    BalasHapus
  7. @ buwel, Gus Mus? ya, kyai penyair juga. Hebat.

    BalasHapus