Hot!

Tri Astoto Kodarie, Penyair yang Meminang Badai


Tri Astoto Kodarie, dilahirkan di Jakarta, 29 Maret 1961. Buku puisinya yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992), Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (AKAR Indonesia, 2007) dan antologi esai Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing, 2007). Kemudian antologi puisi bersama antara lain: Gunungan (Yogya, ‘84), Ombak LosariTabur Bunga Penyair Indonesia (Jakarta, ’92), (Blitar, ’95), Batu Beramal IIBangkit II (Batu, ’95), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Solo, ’95), Antara Dua Kota (Batu, ’95), (Parepare, ’95), Ininnawa (Makassar, ’97), Antologi Puisi Indonesia (Bandung, ’97), Amsal Sebuah Patung (Magelang, ’97), Antologi Sastra Kepulauan), Antologi Penyair Makassar (Makassar, ’98 (Makassar, ’99), Ombak Makassar (Makassar, 2000), Antologi Baruga (Makassar, 2000), Hijau Kelon & Puisi (Jakarta, 2002), Pintu Yang Bertemu (Makassar, 2003), Tak Ada Yang Mencintaimu Setulus Kematian (Jakarta, 2004). Antologi esai: Parepare dalam Siklus Waktu (Parepare, 2005).

Mengembara di setiap lekuk puisi-puisi Tri adalah seolah berjalan di dalam hujan makna yang tak bisa dituntaskan dalam semusim saja. Puisi-puisi Tri sedari dulu memang sudah seperti itu. Tak cukup sekedar gelembung-gelembung kesadaran saat kita menangkap realitas yang ia sampaikan.


Di Pekuburan Kutaburkan Puisi

ketika engkau bernafas seperti
pohon kamboja
yang bergerak ditiup angin
waktu yang bergerak seperti ulat bulu
di daun-daun
lalu bunga yang gugur mencium bau tanah
dan aroma puisi yang kutaburkan
kemarin sore

tubuhmu yang pergi merantau
mencari dermaga sejati
berlayar dengan perahu
yang mengapung di awan
burung-burung nampak mengiringi
dengan kepak kepedihan
sebab engkaulah perempuan
yang selalu memutihkan perihku
di tatapan nisan-nisan kaku dan dingin

dan engkaulah jenazah itu
yang terbujur kaku
di sudut kelopak mataku
lalu kutaburkan puisi penuh kasih
di bawah kilatan guntur yang menggemuruh.


Seperti Malam Tak Juga Menyapa

akan kuurai malam ini hingga dasar lautmu
yang lupa menyisirrambut panjangmu
yang legam itu,
kusirami kemudian dengan air bergaram
yang kuambil dari pesisir pantai,
tempatmu selalu berlabuh
bermain atau menuliskan kisah masa
kanak-kanak
di atas pasir

tak ada malam sampai kau datang
dan menancapkan bulan
di keningnya sendiri
sambil membaca firasat
dan takdir di ujung kegelapan,
sedang angin sudah lama
menjarah tubuhmu
kulihat matamu berair,
seperti membentuk sebuah danau
dengan arus air yang melingkar-lingkar
membentuk pusaran entah di mana
wajahmu kausimpan

dari tepi dermaga ini
kupanggil seserpih bulan di balik awan
mungkin juga namamu yang kulupa
huruf awalnya.


Nyanyian Gerimis

pulanglah menuju gerimis dengan
pintu-pintu angin
lembab jalanan masih menyisakan dingin itu
yang kautanyakan ketika kututup jendela

seperti embun mengkristal bening
jatuh bersama daun yang menguning
kaubawa segenggam rintihan dari
benua sunyi

dalam gerimis mestinya kutawarkan
segelas kehangatan di atas meja
melenyapkan gemetar cuaca di dadamu

tapi mana mata air yang kau janjikan
untuk kutimba dengan tangan waktu
sambil membasuh sisa mimpi semalam.

Tri Beberapa kali memenangkan sayembara penulisan bidang bahasa dan sastra serta masalah lingkungan hidup, baik tingkat propinsi maupun nasional. Pada bulan Agustus 2000 menerima Anugerah Seni di bidang sastra dari Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS). Sebagai peserta forum “Cakrawala Sastra Indonesia” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2004. Selain menulis puisi, juga menulis cerpen dan esei. Tulisannya dipublikasikan di beberapa media terbitan Medan, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Denpasar, dan Makassar, antara lain: Masa Kini (Jogja), Swadesi (Jakarta), Sinar Harapan (Jakarta), Suara Karya (Jakarta), Kompas (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Minggu Pagi (Jogja), Bernas (Jogja), Jogja Post (Jogja), Suara Merdeka (Semarang), Cempaka (Semarang}, Horison (Jakarta), Suara Pembaharuan (Jakarta), Nusa Tenggara (Denpasar), Fajar (Makassar), Pedoman Rakyat (Makassar), dan beberapa buletin.

Penyair hebat ini menyelesaikan pendidikan pascasarjana program kekhususan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Makassar. Kini pekerjaan sehari-harinya sebagai Kepala SMP Negeri di Parepare, Sulawesi Selatan sambil menjadi kolumnis tetap bidang pendidikan di harian Pare Pos serta aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan yang mengurusi pendidikan, sosial, dan budaya. Tri Astoto Kodarie, ia yang meminang badai.



7 apresiator:

  1. dari tepi dermaga ini
    kupanggil seserpih bulan di balik awan
    mungkin juga namamu yang kulupa
    huruf awalnya.

    aduh ..puisinya bagus .Ternyata begitu banyak ya sastrawan yg aku baru tahu tapi hebat2 sekali.mksih selalu infonya mas.nice post.

    BalasHapus
  2. Mantap, cuma itu yang bisa saya komentari membaca ulasan tentang Tri Astoto Kodarie ini sembari saya ngupi. Puisi-puisinya memang hebat. Hidup rekam jejak sastra!

    BalasHapus
  3. @ ateh75, benar mbak, sungguh banyak sastrawan di negeri ini yg belum dikenal oleh para pencinta sastra sendiri.
    @ Newsoul, prosa karya bunda Elly juga paling asyik lho dibaca sambil ngopi.

    BalasHapus
  4. @ ateh75, benar mbak, sungguh banyak sastrawan di negeri ini yg belum dikenal oleh para pencinta sastra sendiri.
    @ Newsoul, prosa karya bunda Elly juga paling asyik lho dibaca sambil ngopi.

    BalasHapus
  5. waaaaahhh ada kesedihan di karya2 nya ya

    BalasHapus
  6. tak dapat dipungkiri lagi, top bgt..

    BalasHapus
  7. @ buwel, he he ya sepakat. Tapi kesedihan yg romantis..
    @ Sigit, juga tak dapat dipungkiri karya2 bang Sigit top banget lho.

    BalasHapus