Hot!

Menelusuri Sejarah Melalui Karya Sastra


Masyarakat Indonesia sejak dulu banyak belajar dan mengetahui sejarah dengan hanya melalui karya sastra. Mungkin anda pernah baca novel-novel karya Purnawan Tjondronegoro yang banyak berkisah dengan latar belakang seputar proklamasi, agresi Belanda dan sebagainya ataupun karya-karya S. Tidjab yang membawa pembaca melanglang buana ke masa baheula. Karya sastra yang mengandung unsur sejarah yang kental di antaranya Hulubalang Raja yang ditulis oleh Nur Sutan Iskandar, Sandyakalaning Majapahi, Airlangga dan Kertadjaya karya Sanusi Pane, Cerita Surapati dan Robert Anak Surapati oleh Abdul Muis. Mohamad Yamin dalam naskah Ken Arok dan Ken Dedes yang bersumber dari peristiwa sejarah kerajaan Singasari dan Tumapel, dan deretan daftar panjang lainnya. Dalam kesusastraan Melayu dikenal hikayat yaitu sejarah dan cerita kepahlawanan para nabi yang ditulis sesuai pakem sastra. Dalam sastra Jawa Kuna Bali misalnya dikenal istilah babad yaitu silsilah atau sejarah yang ditulis dalam bentuk cerita.

Teknik pengarapan karya sastra tentu bersumber dari penulisan sejarah sebagai tema atau latar belakang cerita, baik berupa roman, puisi, novel maupun drama. Semisal Hulubalang Raja, sebuah sastra roman yang menceritakan peristiwa kedatangan orang-orang Belanda yang pertama datang ke daerah pesisir Sumatera Barat sekitar tahun 1662 sampai 1667. Dalam pendahuluan roman itu diterangkan bahwa segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah diambil dari buku "De Westkust en Minangkabau" oleh Kroeskamp. Selain itu juga penulisan didasarkan surat-surat kompeni yang tersimpan dalam arsip negara.

Yang unik, unsur estetika yang bercampur baur secara elegan dengan kenyataan sejarah yang faktual begitu menyatu sehingga pembaca karya sastra sejarah secara tidak sadar telah belajar tentang sebuah peristiwa sejarah. Pada penulisan sejarah, pembaca menemukan kenyataan faktual, sedangkan pada penulisan karya sastra yang bersumber sejarah, pembaca menemukan kenyataan fiksional. Dalam kenyataan fiksional, penulis berimajinasi namun masih dalam batas koridor sejarah. Terdapat nilai estetis, informatif, edukatif dan moralitas yang bisa dijumpai dalam karya sastra-sejarah.

Yang menarik, penulisan sejarah murni justru sebaliknya sering menuai kontroversi yang sering mengundang perdebatan dan interpretasi beragam di tengah masyarakat seperti peristiwa G 30 S/PKI, Supersemar, Proklamasi, Serangan Umum Kota Yogjakarta dan lainnya. Peristiwa-peristiwa sejarah itu dinilai oleh banyak orang telah melenceng jauh dari fakta sejarah. Banyak fakta sejarah sengaja dikaburkan oleh rezim tertentu. Untuk lebih banyak mengetahui sejarah maka semestinya generasi bangsa ini harus lebih banyak menelusuri karya-karya sastra yang mengandung sejarah. Sudah saatnya metodologi penelitian sejarah yang objektif seharusnya juga menyertakan referensi karya sastra yang mengandung peristiwa sejarah.

23 apresiator:

  1. Wah aku malah ga pernah baca sastra yg berbau sejarah. Tapi sekarang memang jarang ada di toko buku ya?

    BalasHapus
  2. Hello..Ivan..Apa khabar?Ivan,Makasi ya mampir ke Blog saya..Ivan,kamu dr mana ya?Ivan.ngapain ngak ada Chatbox d Blog kamu?Letak aja agar mudah teman2 meninggal kn jejak mereka..Oh,ya..Ivan,d mana ya saya perlu ambil Award nya?Saya tdk ketemu d mana ya award nya yg saya perlu ambil.. :)

    BalasHapus
  3. percaya atau tidak, dulu saya suka sekali baca karya sastra yang berbau sejarah kerajaan2. Tapi sekarang harus kalah sama baca Komik, payah sekali saya :((

    BalasHapus
  4. Sastra... lain dulu lain sekarang...
    BTW, aku masih saja heran, kok bisa ya sejarah 'dibelokkan' dan 'dikaburkan'... ?
    Bukankah banyak orang-2 yg menjadi saksi sejarah ?
    Apakah mereka memang dilarang utk bicara tentang kebenaran suatu sejarah ?
    Atau... selama ini sejarah dicatat sesuai dengan cara pandang orang-2 yg mencatat sejarah itu sendiri ? Padahal cara pandang seseorang sangat tergantung pada kepribadiannya dan kepentingan diriya...

    BalasHapus
  5. Karya sastra belatar sejarah, memang lebih mengasyikkan. Terlebih bila kita sedikit banyak tau tentang sejarah yang ditorehkan. Banyak contoh, termasuk mungkin The Good Earth nya Pearl S.Buck, yang berlatar sejarah zaman sulit di tiongkok dulu. Postingan mantap van, seperti biasanya.

    BalasHapus
  6. Babad Tanah Jawi, dulu aku pernah memilikinya dna belum selesai terbaca. tapi, ia telah menguap entah kemana. Padahal, aku belum selesai baca. Makasih sahrenya mas...

    Di sini, memang bakyak ilmu

    BalasHapus
  7. mungkin ini waktunya untuk belajar sejarah dan sastra.. hehehe.. sep bang...

    BalasHapus
  8. @ Fanda> Masih banyak kok, mbak. Walau sudah jarang jumlahnya.
    @ ~ieDa~> Saya dari Indonesia, Makassar-Bulukumba, mbak. Chatboxnya terletak di sudut kanan paling atas. Klik saja kotak kecil persegi empat bertuliskan 'buku tamu' warna hijau. Awardnya silahkan diambil di postingan berjudul 'sastra radio award 2009' thanks.
    @ J O N K> Komik yg berbau sejarah juga bagus tuh, sobat.
    @ reni> Setiap rezim yg berkuasa pada kurun waktu tertentu memiliki kepentingan masing2 untuk melanggengkan kekuasaannya. Tidak heran kurikulum sejarah di sekolah2 selalu berubah setiap kali puncak kekuasaan berganti pemerintah.
    @ Newsoul> The Good Earth-nya Pearl S.Buck kebetulan saya belum pernah baca. Boleh dong nanti dipinjemin, bunda?
    @ anazkia> Hmmm, menguap ke udara menjadi awan tapi telah turun kembali menjadi air kan? He he..
    @ Story of Jaiman> Benar, siipp kang.

    BalasHapus
  9. wah, topik yang menyenangkan...aku penyuka novel berlatar sejarah atau budaya. Sejauh ini judul2 di atas masih blum tersentuh, tengkyu banget infonya. Dan sebuah karya sastra bersejarah yang masih membuatku terkesan sampe sekarang adalah Maling Republik, Soenaryono Basuki Ks. Cerita berlatar tahun 1945 sampai masuk ke jaman orde baru ini cukup menarik mengingat setting tempat yang diambil salah satunya adalah Malang, kotaku tercinta :P

    BalasHapus
  10. Emang ada ya komik yg ceritanya sejarah?
    terutama komik Indonesia

    BalasHapus
  11. Betul bro,saya dulu suka sekali baca sejarah-sejarah sastra seperti surapati,ken arok, ken dedes, tapi dah lupa semua sekarang..ah payah..

    BalasHapus
  12. Melalui karya sastra, kita bakal melintasi panorama sejarah secara kritis. Bahkan, lantaran kecakapan sang pujangga meruwat fakta sejarah, sastra mampu menyuguhkan sejarah yang menyentil emosi serta menggugah kesadaran penikmatnya akan keunikan pojok sejarah –meminjam istilah Emha Ainun Najib (Cak Nun)– yang kadang tidak kita insafi.

    BalasHapus
  13. @ Penikmat Buku, terimakasih ya untuk awardnya, mbak Sinta.
    @ Pipit, ya ada..
    @ AISHALIFE-LINE, cerita2nya pasti sangat menarik..

    BalasHapus
  14. Sudah saatnya ada langkah kreatif dari para sejarawan dan sastrawan untuk berkolaborasi, dan saling bahu membahu dalam menyuguhkan sejarah yang sejati. Melalui sejarah yang autentik, generasi muda bisa belajar guna menata peradaban dan bangsa ini menjadi jauh lebih baik.

    BalasHapus
  15. ibuku dulu guru sejarah.. tapi pelajaaran PSPBku ancuurr...remidi teruss..

    hahahahaa

    BalasHapus
  16. Sejarah sekarang banyak yang dipertanyakan... kenapa ya??

    BalasHapus
  17. mungkin saja karya sastra mengikuti jaman..dan bukan jaman mengikuti sastra..itu masih mungkin

    BalasHapus
  18. @ Seti@wan Dirgant@Ra, benar pak Iwan.Dibutuhkan sinergitas gerakan untuk meluruskan sejarah agar generasi bangsa ke depan tidak tersesat dg pemahaamn sejarah yg salah.
    @ BrenciA KerenS, Gak apa2 kok kalo hancur, mbak. Sebab PSPB itu kan kurikulum warisan rezim orba yg terbukti banyak pelencengan fakta.
    @ Sigit, ya, tetap optimis!

    BalasHapus
  19. tapi gak mudah lho buat karya sastra yg mengandung sejarah. butuh penelitian mendalam.

    BalasHapus
  20. Mbak Fanny benar. Justru itu adalah tantangan menarik, bukan?

    BalasHapus
  21. Sejarah memang patut dilestarikan...bisa melalui apa saja..nice artikel ..

    BalasHapus
  22. makasih mas infonya, inget waktu sd dulu suka karyanya sh mintardja...

    BalasHapus