Hot!

Penyair Gunung dari Sumatera Selatan


Tipografi, gaya dan pemilihan diksi dalam puisi-puisinya menandakan karakternya yang tidak pernah main-main untuk mengatakan segala sesuatu yang nyata dan benar itu adalah benar. Lelaki nyentrik yang suka memanjangkan rambut ini dijuluki oleh penyair-penyair nusantara sebagai "Penyair Gunung". Ia juga dikenal sebagai Pencetus terbentuknya Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Nama Kab. Empat Lawang pertama kali bergulir dari rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulumusi, 1998. Nama lengkapnya Syamsu Indra Usman, seorang penulis puisi, cerita bersambung, bahkan sering menulis resep masakan tradisional.

Sejak tahun 70-an karya-karyanya bertebaran di media massa lokal dan nasional, seperti Harian Pelita Jakarta, Harian Mimbar Umum Medan, Harian Semarak Bengkulu, Mingguan Sentana Jakarta, Mingguan Taruna Baru Medan, Buletin Sastra Kreatif Batu Malang, Gelora Musi Palembang, dan Buletin Sastra Revitalisasi Sastra Pedalaman Ngawi. Puisi-puisi karyanya telah diterbitkan dalam banyak antologi baik antologi bersama maupun antologi tunggal. Indra Usman juga seorang pencipta lagu. Ia menciptakan lagu daerah Empat Lawang. Lagu-lagu ciptaannya yang lain sudah diproduksi dalam bentuk kaset dan diedarkan di Sumatera Selatan.

Karakter penulisan puisinya sangat khas. Sesuai dengan julukannya, Penyair Gunung. Puisi-puisinya adalah bahasa tegas dan seringkali memuat repetisi yang lihai memainkan makna yang mudah dipahami oleh semua umur dan kalangan.

Tak Ada Gunanya Ijazah

Tak ada gunanya
ijazah
bila tak pandai bekerja

Tak ada gunanya
ijazah
bila hanya menjadi penghias pigura berkaca

Tak ada gunanya
ijazah
bila tak punya usaha

Tak ada gunanya
ijazah
bila tak pandai menciptakan lapangan kerja

Tak ada gunanya ijazah
bila tak punya minat wiraswasta

Tak ada gunanya
ijazah
bila hanya pandai meminta

Lahat Kota Takwa, 1978


Penyair Bercerita

Penyair
adalah manusia
yang bercerita
tentang seni dan sastra
dan bercerita
tentang kehidupan
bercerita tentang haus dan lapar
dan semua keindahan

dan kesucian
di antara duka dan tawa
mereka
mereka melihat ulah
manusia
yang kini berpaling
dari kebenaran

(Jember, 1978)

Kemaren Bukan Sejarah

Aku tak bisa bicara
dalam semua waktu dan peristiwa
dalam semua megnerti
aku tak mengerti
meski apa yagn kuperbuat
atas peristiwa hari ini
dan peristiwa kemaren
tentang ap ayagn telah terjadi
sepanjang penderitaan
yagn selau mengancam perjalanan
di sepanjang hidupku
akupun tak tau
sikap bagaimana menghadapi
segala cobaan
aku akan menerima segalanya
dengan rasa pasra
jika tuhan akan menghendaki demikian
aku akan tabah, aku akan sabar
barangkali ini adalah janjiku
yang dulu aku ikrarkan
saat menghadap-Mu
kini aku tak kuasa mengelak
karena aku sadari pada-Mu lah tempat
aku menyerahkan diri
dan seluruh ragaku
di hadapan-Mu aku terasa terlalu kerdil
yang tak punya kekuatan
segalanya kuperuntukkan untuk-Mu ya Tuhan

(Lubukpuding, 25/10 1991 - tatkala sedang sakit)


Saya tidak akan memposting banyak-banyak puisinya di sini. Jika ingin berkenalan lebih dekat lagi dengan karya-karyanya, langsung saja menuju ke sarangnya di http://penyairgunung.blogspot.com/

17 apresiator:

  1. hmm begitu ya guna ijazah dan apa yg disebut penyair itu.

    bukan penyair kalu hanya bisa membuat puisi mellow...
    memang diriku masih jauh dari sebutan penyair bang....

    BalasHapus
  2. weh keren ya karyanya...

    hum.. kadang kalo sakit baru inget deh... hehe

    BalasHapus
  3. Duh bener2 lugas dan tegas ya karya2 penyair gunung unu....Mantabbb mas reviewnya....

    BalasHapus
  4. Diksi2 yang mantap.....setuju emang kereeeennnnn

    BalasHapus
  5. karyanya sangat menarik terimakasih artikelnya

    BalasHapus
  6. Postinganmu selalu memperkenalkan orang-orang besar dunia sastra. Ada yang sudah saya tahu, sebagian bahkan sayapun baru mengenalnya di blog-mu, Van.
    Terima kasih sudah berbagi.

    Teruslan menulis tentang orang-orang di dunia keindahan ini (bahkan di tangan mereka, kepahitan menjelma kata2 indah meski tetap menyiratkan rasa kesat). Untuk itulah mereka hidup.

    BalasHapus
  7. Biasanya buat puisi kalau hati sedang gundah dan terkesan curhat ,itu aku lho hehe..karena aku bukan penyair tapi hanya menumpahkan kegundahan lewat puisi ..

    Tapi Indra Usman menuangkan kata dengan syairnya untuk kepedulian lingkungan ,sungguh penyair yg sejati...

    makasih ya udah share ,mantap seperti biasa...(^_^)

    BalasHapus
  8. Wow.... puisinya keren-keren, muantab.

    BalasHapus
  9. Mas Ivan pengetahuan sastranya segudang nih
    =O

    BalasHapus
  10. kenapa seh sastrawan tuh kebanyakan berambut panjang?

    BalasHapus
  11. Beliau memang Penyair Gunung van. Lihat saja isi syairnya, seperti menimpuk, berat, kadang ujug-ujug juga (seperti batu gunung). Beliau penyair yang sangat peduli dengan tanah kelahirannya. Terimakasih sudah merekam jejaknya disini.

    BalasHapus
  12. Satu lagi rekam jejak tokoh yang mantap.
    Seorang penyair gunung yang nyentrik.

    BalasHapus
  13. Karyanya keren abis
    makanya bisa disebut penyair
    gak kaya aku
    ini puisi lagi sedih apa seneng gak jelas sama sekali

    hmm..nice posting mas

    BalasHapus
  14. Hai Ivan,
    Karakter Penyair ini sangat tegas...ini salah satu ciri dari wong sumatera selatan
    Makin ke gunung makin tegas
    Bukan sebaliknya

    Salam

    BalasHapus
  15. lha, ini aku malah baru kenal sosok penyair gunung..
    makasih bang...banyak info ttg sosok penyair yg aku baru kenal dr sini..

    jejak rekammu memang keren!.. :)

    BalasHapus
  16. Sama kek mbak Tisti, saya baru kenal penyair gunung ini. Salut, kepanadaiannya menulis fiksi tapi, di barengei dengan menulis resipi...

    BalasHapus
  17. Sama kek mbak Tisti, saya baru kenal penyair gunung ini. Salut, kepanadaiannya menulis fiksi tapi, di barengei dengan menulis resipi...

    BalasHapus