Hot!

Perempuan Palembang

Seperti bunyi kecipak air telaga yang dijatuhi beberapa butir batu kecil di larut malam. Hanya beberapa butir namun memaksa telinga untuk lebih mengamati lebih jelas lalu membuka mata. Bunyi kecipak itu memang ditimbulkan oleh sesuatu. Seperti itulah pendengaran saya terhadap kecipak sastra dan perempuan di Palembang. Saya belum pernah menjejakkan kaki ke sana namun beberapa buku hasil karya penulis Palembang di rak buku, memaksa saya untuk ikut melemparkan sebutir batu kecil ke tengah telaga hening ketidaktahuan kita.

Di Palembang, ternyata ada beberapa sastrawan perempuan seperti Indah Rizky Ariani (penyair), Deris Afriani (cerpenis), Ikhtiar Hidayati (puisi/cerpen), Handayani (penyair), Dahlia (cerpenis, penyair, novelis) dan Duhita Ismaya Arimbi (penyair). Siapa yang tidak kenal novel bagus seperti Juaro dan Buntung karya T. Wijaya?

Di Palembang, sejak lama muncul gerakan pemurnian warna lokal dalam puisi, cerpen, drama, dan novel. Seperti Novel Buntung karya T. Wijaya, misalnya. novel ini bercerita soal masa depan Indonesia, sebuah prediksi (materialisme marxis) yang membenturkan kondisi sosial, ekonomi, politik, sejarah, dan kepercayaan (agama) masyarakat Indonesia. Namun dengan mengambil setting “ Indonesia kecil” yakni Palembang, di mana Palembang memiliki sejarah yang panjang dan besar di nusantara, tentunya menjadi contoh ideal buat Indonesia .

Yang terakhir dan menghentak, adalah munculnya novel Jungut yang ditulis oleh seorang novelis perempuan bernama Dahlia Rasyad. Novel itu bercerita tentang perampasan tanah adat seluas 3000 Ha, yang pada gilirannya tanah itu menjadi hutan industri. Setting lokal sangat kuat mewarnai novel tersebut. Kemudian penulis lainnya, Purhendi mencoba mengetengahkan persoalan sosial budaya dalam novelnya Sang Duta.

Sesuatu memang telah terjadi di Palembang Sumatera Selatan. Sebuah gerakan pemurnian muncul sebagai semangat lokal sastra yang tidak ingin terus menerus dikuasai oleh hegemoni pusat. Bagaimana dengan semangat daerah lainnya di Indonesia?

22 apresiator:

  1. kapling dulu akhh..mumpung petromaxxx, hihiii

    BalasHapus
  2. tidak disumatera, tidak dijawa, atau kalimantan bahkan sulawesi dan papua..., semua semestinya bangkit dalam ekplorasi karya satra. jangan hanya diam!

    BalasHapus
  3. Wah ..telat nih jadi yang pertama ,abis perjalanan jauh banget dari jakarta ke bulukumba hehe.

    *Dengan artikel ini sayapun jadi tahu tentang sastrawati palembang.

    Nice share seperti biasa

    BalasHapus
  4. apa hendak dikata tak punya kemampuan saya untuk menulis karya sastra

    BalasHapus
  5. alangkah indahnya..negri kita ini "banyak pualam-pualam" bersyair..
    cantiknya...

    BalasHapus
  6. @ TRIMATRA- Selamat ya jadi yg pertama he he. Semua daerah memang seharusnya bangkit dlm eksplorasi masing2, setuju mas.

    @ Murni Ardi- seorang model kan juga menentukan kadang menentukan kesuksesan sebuah produk hehehehe. sastra hanya salah satu alat, mas. Bidang lainnya jg harus digarap.

    @ Ya, benar2 jauh ya ha ha ha..
    Hmm, salah seorang yg sastrawati yg jg telah lama bersama kita dan berasal dari Palembang yakni sosok bunda Elly Suryani, lho mbak.

    BalasHapus
  7. @ Tisti Rabbani- benar, bunda. Maaf nih saya agak jarang blogwalking lagi disebabkan pemadaman bergilir di tempatku.

    BalasHapus
  8. Perempuan-2 sudah banyak yang bangkit dan memberikan arti bagi Indonesia...
    Perempuan Palembang... cantik nian..!!

    BalasHapus
  9. perempuan.....atau wanita?........Girl Power..karena kekuatan sebuah negara terdapat pada wanita....Bdw, cantik banget yang ada di foto?

    BalasHapus
  10. Mantap neh postingannya. Sebagai orang Palembang, bangga dong saya membaca rekam jejak Ivan kali ini. Ya setuju dengan Trimatra, seluruh penjuru pertiwi ini harus bangkit. BTW, Purhendi dan T (Taufik Wijaya) itu laki-laki lho van,bukan perempuan. Mungkin saya salah baca, nice posting.

    BalasHapus
  11. ada jugaya sastrawati dari palembang terimakasih ilmunya

    BalasHapus
  12. met pagi sobat,....
    Awardnya sudah dijemput belum Disini

    Ternyata banyak perempuan Sastrawan dari Palembang.

    kalau dari Makassar siapa saja sih DAENG?

    BalasHapus
  13. wah, saya gak kenal semuanya nih. maklum katro. he he he....

    BalasHapus
  14. btw wanita lampung juga cakep looh (menunjuk diri sendiri)

    BalasHapus
  15. ternyata Palembang lebih dari sekedar pempek...:D

    BalasHapus
  16. Subhanallah memang,,,kita akan selalu terkagum ketika mendengar para tokoh sastra....
    kapan ya, biografi saya bakal diulas oleh mas Ivan di blog ini???hahahahahahahahhaha

    BalasHapus
  17. Mampir malam seperti biasa untuk silaturrahmi ,setelah seharian mati lampu ..hiks

    BalasHapus
  18. Ada award utkmu, diambil ya..?
    Disini : http://another-reni.blogspot.com/2009/10/perhatian-sahabat.html

    BalasHapus
  19. saya dari solo
    *lho? lho?*

    BalasHapus
  20. Halo mas Ivan, maaf ya aku dah lama gak kesini.

    Bangga juga bahwa makin banyak wanita Indonesia yg berkiprah di bidang sastra.

    BalasHapus
  21. Nyari bukunya dimana Sang Duta ???

    BalasHapus