Hot!

Marah Roesli, Bapak Roman Modern Indonesia


Siti Nurbaya, sebuah karya monumentalnya dalam bentuk roman diterbitkan pada tahun 1920 dan melegenda sampai hari ini. Kisah klasik itu bercerita tentang perempuan muda yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya. Sebuah kisah cinta yang dicederai oleh kenyataan zaman. Kisah Siti Nurbaya bahkan lebih dikenal dibanding namanya sendiri sebagai penulis roman yang melegenda itu. Ia adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka. Namanya Marah Roesli tapi lebih sering kali dieja Marah Rusli. Lelaki yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari 1968.

Pekerjaan Marah Rusli yang sebenarnya adalah dokter hewan. Jika Taufiq Ismail dan Asrul Sani benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena lebih memilih menjadi penyair, Marah Rusli justru tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Sejak masih kecil Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya dan membaca buku-buku sastra.

Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat. Dalam lembaran sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia.

Dalam Siti Nurbaya, Ia telah meletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat kaum perempuan mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Kesan itulah yang terus melekat hingga kini. Puluhan tahun sejak novel itu ditulis, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Beberapa karya Marah Roesli yang lainnya yaitu: La Hami (1924), Anak dan Kemenakan (Balai Pustaka. 1956), Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis),Tesna Zahera (naskah Roman). Ia juga menerjemahkan novel Charles Dickens "Gadis yang Malang" pada 1922.

referensi: selembar catatan lama di bangku sekolah

25 apresiator:

  1. Mungkin bisa dikatakan sitti nurbaya adalah roman paling populer dari angkatan balai pustaka

    BalasHapus
  2. Ya, Marah Roesli, penegak tonggak roman modern Indonesia. Siapa tidak kenal "Siti Nurbaya", sebuah karya yang berani menampilkan dan mendobrak nilai-nilai adat yang usang. Rekam jejak yang mantap van, seperti biasa.

    BalasHapus
  3. Kenapa yah Penyair2 kita banyak berasal dari dokter hewan?

    Aku tahu beliau hanya dari karyanya Sitti Nurbaya...

    BalasHapus
  4. catatan lama di bangku sekolah??? oh kamu sekolah to van... xixixi..

    sebenernya kisah mba siti nurbaya ini kisah nyata bukan sih? jd inget filmnya di tvri hehe (ketauan ya aku orang jadul :).dan berkat ini pula, Ibunda Khadijah rhodiallahu anhu dan Ibunda Aisyah rhodiallahu anhu jadi ditambah embel2 SITI... hmmm

    BalasHapus
  5. pertama denger ttg Marah Roesli pasti fikiran kita langsung menuju" siti nurbaya" sungguh roman yg sangat luar biasa

    BalasHapus
  6. Marah Roesli, sapa sih yang nggak kenal beliau. Kenal dekat sih enggak, tapi mendengar dan mengapresiasikan karya2nya itu! Keren...

    Karya sastra selain Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat, sudah tak ada lagi yang diangkat ke layar televisi...

    BalasHapus
  7. Siti Nurbaya memang cerita roman yang paling diingat sampai sekarang terutama buat gadis yang merasa terkekang oleh keinginan orang tua " memangnya sekarang jamannya Siti Nurbaya..?"

    BalasHapus
  8. siang....aku suka karyanya tuh

    BalasHapus
  9. Luar biasa Marah rusli yg telah menelurkan karya yg melegenda,semua orang pasti tau cerita tentang siti nurbaya ...rekam jejak yg mantap seperti biasa.

    BalasHapus
  10. yup2,, mau nerusin ducky..
    siti nurbaya,, cerita nyata kah?? ato emng karna karya nya yg teramat bagus sampe nempel namanya di jidad kita., hehe

    BalasHapus
  11. @All~ Terimakasih atas apresiasinya. Siti Nurbaya adalah kisah nyata yang dimodifikasi dg unsur fiksional oleh Marah Roesly ke dalam roman. Jadi kejadian nyata 60% dan selebihnya adalah bumbu fiksi dari sang penulis.

    BalasHapus
  12. waktu fim miniseri siti nurbaya di buat, kebetulan aku lagi di Padang dan sempat berkenalan dengan Desi Ratnasari yang jadi bintangnya

    BalasHapus
  13. lampa riballana urangku hoja jeknek hambang wkw wkw wkw he heh eh (bisa juga kan saya sahabat)

    BalasHapus
  14. je'ne hambang? he he he, ngopi yuk, daeng. Ada kok je'ne' hambangnya.

    BalasHapus
  15. Kenapa dokter-dokter hewan lebih senang bikin roman? Apakah mengobati kucing sakit tidak cukup memuaskan mereka?

    BalasHapus
  16. @Vicky~ mungkin kebetulan aja kali ya.

    BalasHapus
  17. malam mas... makasih untuk infonya ya...

    BalasHapus
  18. Banyak satrawan besar waktu itu orang padang. Siti nurbaya emang fenomenal. Saya setuju itu jadi tonggak di mna sastra menyentuh sisi feminisme.
    Btw apa kita mesti jadi dokter hawan dulu ych biar bisa kek mereka. Atau paling gak cintailah hewan hehe..

    BalasHapus
  19. marah rusli siapanya harry rusli..... wkwkwkwkwkwk gak nyambung euy.....

    BalasHapus
  20. @ Vie_ Three~Marah Roesli adalah kakek buyut dari Harry Roesli

    BalasHapus
  21. jadi inget pelajaran seni sastra jaman smp dulu,
    marah rusli, sering keluar di ujian semesteran ;))

    BalasHapus
  22. wow.. nice info bang.. btw, aku juga suka dengan tulisan tulisan marah roesli.. simple tapi cukup menyentuh..

    BalasHapus