Hot!

Sastra Versus Kekuasaan


WS Rendra membacakan puisi dengan gaya burung merak mengibaskan ekornya yang indah sambil membantai kekuasaan lewat pamflet kata. Penulis Kuntowijoyo pernah menuliskan kritik-kritik politiknya dalam Novel Mantra Pejinak Ular dengan ilustrasi-ilustrasi satire pula. Aksi demo mahasiswa pun di mana-mana juga serasa tak lengkap jika tidak diwarnai aksi pembacaan puisi saat jeda orasi. Banyak lagi contoh lainnya. Di setiap zaman ada pertempuran klasik antara sastra dengan politik.

Benarkah para penggiat sastra kadang berseberangan dengan dunia politik? Seharusnya sastra memang diarahkan untuk membetulkan kejanggalan-kejanggalan dalam kehidupan. Istilah sastra politik sebenarnya belum ditemukan oleh para kritikus sastra sekalipun, namun adalah wajar istilah ini mengemuka ketika memang dunia sastra tidak bisa dipisahkan dengan dunia politik.

Saya masih saja merasa kagum misalnya terhadap seorang penyair senior di Bulukumba, Mahrus Andhis yang sekian tahun telah berada di birokrat. Tapi dia tak habis-habis juga berkarya. Malahan sebaliknya. Puisi dan berbagai tulisannya di media lokal di selatan-selatan Sulsel senantiasa justru menohok kekuasaan. Meski lembut dan santun.

Sastra dengan kekuasaan. Sastra dengan politik. Sepintas bukanlah dikotomi yang meresahkan. Bukan tidak mungkin ada sastra yang berpolitik untuk memperoleh kekuasaan. Bagaimana halnya jika politisi bersastra dari wilayah kekuasaannya?


-Kepada semua elemen gerakan yang turun ke jalan pada hari ini: jangan kembali sebelum selesai.
Bersihkan tanpa harus membubarkan Indonesia. Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember-

19 apresiator:

  1. kalau politik sisch susah and penuh kecurangan
    kalau sastra, dari hati
    heheheh
    menurut sayah sichh
    mari kita hancurkan budaya korup kita, mulai dari hal yang paling kecil dari diri kita masing2
    mari yukkk

    BalasHapus
  2. helohh,, pertama yah
    wahahahahahahah
    standing apllaus donkkkk
    plok..plok..

    BalasHapus
  3. hehehe, plok2 buat anakrastamania. selamat ya.

    BalasHapus
  4. Datang mengamankan yang keempat

    BalasHapus
  5. Bagaimana hebatnya yah puisi2 dan orasi yg akan dibaca pada hari ini di gerakan tersebut

    BalasHapus
  6. gimana ya politik yang penuh kecurangan melawan sastra yang penuh dengan seni

    BalasHapus
  7. politik gak suka,... !!!
    sastra...suka bangetttt.....

    selamat beraktifitas kang ivan :)

    BalasHapus
  8. Mungkin melawan kekuasaan dengan sastra ,akan lebih terlihat indah dengan kelembutannya.

    BalasHapus
  9. Semoga berlangsung damai,,,,
    tunjukan pada dunia, bahwa bangsa ini bangsa besar yang beradab

    BalasHapus
  10. memang agak aneh ya, sastra lembut mengkritik politik yg keras. tapi itulah salah satu kegunaan si lembut. utk menaklukkan si keras dg kelembutannya

    BalasHapus
  11. "jangan pulang sebelum selesai"
    memang mungkin tak akan selesai hanya dengan turun ke jalan, kang Ivan. Ada banyak hal lain yang harus diselesaikan, salah satunya mungkin lewat ketajaman pena para penyair seperti yang kang Ivan ulas di tulisan apik kali ini.

    BalasHapus
  12. terima kasih sudah berkunjung ke blog saya dan sudah mengikuti blog saya. saya juga sudah mengikuti blog anda.

    terima kasih, atas kerja sama nya...

    bagi rekan-rekan yang butuh tutorial tentang IT/linux silahkan datang ke blog saya di:
    http://chandra-unikom.blogspot.com

    BalasHapus
  13. sastra vs kekusasan, menarik sekali, di mana sastra berkuasa, di situ kekuasaan bersastra

    BalasHapus
  14. politisi bersastra dari wilayah kekuasaannya?
    Kayaknya jarang deh....
    Sastrawanpun cenderung termarginalkan oleh kasak-kusuk dunia politik

    BalasHapus
  15. mengungkap kritik melalui sastra adalah cara yang halus untuk menyentil pemerintah. Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia!

    BalasHapus
  16. Setuju ma Senja, high five dulu Senja, kita memang satu aliran!!! :)

    BalasHapus
  17. Salam Blogger!Selamat hari anti korupsi dunia! Sastra tidak boleh mati...
    -jbs-

    BalasHapus
  18. Saya jadi inget ungkapan : kalo pers di belenggu sastra berbicara. (Saya gak inget ungkapan siapa ya).

    Eniwei sekarang di Indonesia ada dua extrem. Kanan dan kiri.
    Extreme kanan adalah korupsi sedang extreme kiri adalah narkoba.
    Ayo berantas keduanya.

    BalasHapus
  19. Salam Sastra

    Kumpulan Puisi Acep Zamzam Noor, Artikel Budaya, Artikel Sastra, Artikel Sosial, Artikel Seni, Lukisan Acep Zamzam Noor dapat di update pada Blog http://acepzamzamnoor.blogspot.com

    Selamat Berapresiasi

    BalasHapus