Hot!

Cinta Dan Realitasnya Yang Pecah-Pecah

Judul: Aku Di Sebuah Novel
Penulis: Ramli Palammai
Penerbit: P3i Press Makassar
Cetakan: Januari 2009
Tebal: 169 halaman

Sebuah titik rasa yang berbeda. Aku Di Sebuah Novel adalah novel pertama di Bulukumba yang ditulis oleh salah seorang manusia muda bernama Ramli Palammai, kelahiran Bulukumba, 1985. Bapaknya seorang petani, ibunya seorang tukang jahit.

Ada indikasi, Ramli sempat merasa gerah dengan gaya penulisan novel di tanah air yang kebanyakan memaksa pembacanya menyeruput begitu saja isi sebuah novel. Ibarat segelas minuman yang melihat jenis dan merknya saja maka sudah dapat dibayangkan bagaimana rasanya sebelum melewati tenggorokan. Membaca Aku Di Sebuah Novel membuktikan ada rasa yang agak berbeda disajikan oleh novelis berbakat yang juga seorang guru muda ini. Nanti masuk ke perut baru terasa apa yang telah diramunya di sana. Tebal novel dengan angka 169 adalah metafora yang begitu misterius.

Novel ini lahir dari sebuah catatan harian atas perjalanan sejarah hidup di sebuah kampus. Segala fenomena yang hadir di kampus dan beberapa peristiwa di luar adalah inspirasi yang mengisi dimensi pikir dalam proses penulisan novel ini. Konfliknya sebenarnya klise. Ada tokoh aku, peristiwa-peristiwa sengit dalam hubungan cinta, dan  perbincangan kehidupan yang jenuh terhadap realitas kampus yang mulai sesak  oleh pendiktean kroni-kroni kapitalis dari dunia luar.

Tokoh aku dikisahkan jatuh cinta pada seorang wanita yang dipanggilnya pelacur.  Ia merasa menemukan sisi paling penting dalam hidupnya, yaitu sebuah mimpi mencintai yang sungguh tak biasa. Mencintai seorang pelacur. Ini cara mencintai yang asing baginya. Pemuda yang datang dari dunia tradisi ketimuran yang kini berada di lingkungan metropolis dan menciumi bau hedonisme di mana-mana. Kisah hubungan keduanya bermula dari ketulusan namun sekejap berubah oleh arus seksualitas yang demikian kencang lalu kemudian mengalahkan pilihan mencintai-seperti mimpi sang tokoh aku pada mulanya.

Seperti kebanyakan kisah-kisah dramatik, perpisahan menghantui keduanya. Sang lelaki pun kemudian menentukan pilihan cintanya. Keputusannya adalah meninggalkan seonggok tubuh yang ia yakini berperan besar mengosongkan jiwanya. Sebuah perpisahan yang sangat mistis melemparkan sang lelaki jatuh ke kisah cinta yang lain. Perempuan ‘baik-baik’ bernama Monalisa adalah makhluk jelita yang kemudian berhasil mengubur jauh-jauh sang pelacurnya yang dulu. Sebuah realitas yang lazim, bau perempuan baik-baik itu tak lebih baik dari bau hedonisme yang dapat diendus di mana-mana.

Gaya penulisan di novel ini akan selalu memancing siapapun untuk berhadapan dengan novel yang ‘puisi.’ Ramli Palammai yang kerap bergaul dengan para penyair di Bulukumba adalah penyebab terkuat sehingga novel ini seolah ‘puisi’ di sisi lain. Alur peristiwa-peristiwa yang berloncatan dari setiap dimensi olah pikir penulisnya membutuhkan daya nalar kuat bagi pembacanya. Terlanjur sebuah titik rasa yang berbeda telah dituangkan ke dalam khazanah sastra tanah air. Satu dari sekian sisi pentingnya, novel ini begitu penting untuk dibaca bagi yang ingin memahami cinta dan realitasnya yang pecah-pecah. Tanpa bersandar pada alasan yang sekedar berlindung  dari kebetulan-kebetulan.

23 apresiator:

  1. Merokok dulu sambil mengamankan yang pertama. Kepada bung Ramli Palammai jika telah membaca ini, maaf jika resensi ini agak asal-asalan.

    BalasHapus
  2. Ya, setiap penulis jelas punya gayanya sendiri. Begitupun dengan gaya kepenulisan sang Ramli ini. Cinta dengan segala gaya dan ceritanya, selalu menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Terimakasih atas sharenya van.

    BalasHapus
  3. Ramli Palammai tentulah berbangga hati, seorang muda meresensi bukunya dengan apik. hehe.
    Hmmm...sepertinya layak juga bukunya dinikmati sembari santai di kedai kopi.

    BalasHapus
  4. Kapan atau sudah ada punya Bang Ivan, aku ingin memilikinya, seperti halnya Clara dan Anyin!
    Resensinya bagus!

    BalasHapus
  5. Tokoh satrawan lagi yg baru kukenal direkam disini,menambah wawasan seperti biasa.Jadi ingin membaca novelnya.makasih ya sudah dishare disini.

    BalasHapus
  6. novel..paling hobi blek isi novel rsnya gak puas klo lom hbs baca,gitu juga degan ringkasan crita bang ivan ni tntang isi novelnya bung ramli...penasaraaaannnnnnnn.baca kelanjutannya,d sini gak ada tuh

    BalasHapus
  7. Ramli sempat merasa gerah dengan gaya penulisan novel di tanah air yang kebanyakan memaksa pembacanya menyeruput begitu saja isi sebuah novel. Ibarat segelas minuman yang melihat jenis dan merknya saja maka sudah dapat dibayangkan bagaimana rasanya sebelum melewati tenggorokan.

    "saya sependapat dengan pernyataan ini"

    BalasHapus
  8. wah, ada novel lagi nih
    siap-siap nabung dah kang akunya
    hehehehe

    BalasHapus
  9. Novel yang "puisi " ? wah..sepertinya memang unik & patut dibaca nih...

    BalasHapus
  10. hmm... baru dengar nih sebuah novel yang puisi... penasaran kayak gimana...

    BalasHapus
  11. resensi yang menarik. langsung menggugah keinginan saya untuk membelinya.

    BalasHapus
  12. Kayaknya lumayan berat tuk dibaca nih... Tp baca reviewnya mas Ivan aja udah cukup menghibur kok...

    BalasHapus
  13. jadi penasaran sm bukunya,karena sepertinya ceritanya unik.

    trima kasih reviewnya mas ^_^

    BalasHapus
  14. Menarik untuk dibeli. Semoga bisa menambah pengetahuan.

    BalasHapus
  15. dari resensinya mas ivan kayaknya keren banget.. jadi pengen punya..

    BalasHapus
  16. emang Ivan jago nih mengulas isi novel.

    BalasHapus
  17. resesi buku nya lebih menarik hati daripada cover bukunya :D

    BalasHapus
  18. wweew.. menarik sekali nih novelnya, mungkin bisa sedikit mengobati kejenuhan saya pribadi dengan berbagai novel indonesia yg beredar akhir-akhir ini.. berburu dulu ah.. ^^

    BalasHapus
  19. blue belum memiliki bukunya bang
    salam dalam kehangatan musim
    but makasih tuk info buku bukunya

    BalasHapus
  20. Resensi novel yang maknyus dan bikin tertarik dengan novelnya

    BalasHapus
  21. jadi pengen bac juga ni, pa lagi yang berbau bau puisi gtu , hummm sepertinya menarik, pengen punyaaaaa~~

    BalasHapus
  22. Setiap penulis punya gaya yg berbeda dan itulah yg menjadi ciri dari masing2 penulis.

    BalasHapus