Hot!

Dari Kampung Sebelah

dari kampung sebelah katanya
kami bertanya setelah melihat mereka melata.
perempuan-perempuan tanpa alas kaki,
kesuburan jiwanya turun temurun 
melingkari bukit-bukit kesetiaan sambil menjunjung padi

dari kampung sebelah
anak-anak mereka menekuni puisi di huma-huma
gadis-gadis melukis bulan di atas jerami.
listrik belum masuk katanya.
berabad-abad lelaki-lelaki mereka berkaki hitam legam
dan terpaksa memahat batu di ujung sungai.

tidak perlu merisaukan kasus century dan indonesia
sebab di sini tak ada koran dan televisi
di kampung sebelah
hanya memerlukan sedikit waktu saja
untuk menyalakan pelita di setiap senja.
lalu ronda akan dimulai dari ladang jagung

pada pagi yang lebih bersahabat  
kami tak mau kembali ke kota.

bulukumba, 30 januari 2010

32 apresiator:

  1. ...dan dari kampung sebelah datang silaturrahmi, selamat pagi dan selamat beraktifitas hehe.

    BalasHapus
  2. pagiiii ...
    kunjungan dari kampung sebelah, ingin memupuk kesegaran jiwa, disini.

    BalasHapus
  3. Jadi rindu desaku, tidak perlu pusing BW dan update FB.. nikmati anugrah Tuhan saja.

    BalasHapus
  4. Mantab.. Hebat..
    smua benar adanya.
    seperti diriku yang tak pusing memikirkan politik negeri
    karena sudah terlanjur pusing memikirkan hari demi hari yang terlewati
    merenungkan apa yang harus aku makan hari ini

    :D

    BalasHapus
  5. Indahnya puisinya senior,,,... Sederhanakan tindakan.

    BalasHapus
  6. kearifan masyarakat yang tiada taranya

    BalasHapus
  7. Bang. Tolong bantu kami atasi template barunya gramudia. Kami baru saja ganti template tapi isinya berantakan.

    BalasHapus
  8. dari balik bukit, aku baru saja menengok padukuhan itu.

    BalasHapus
  9. Dari kampung seberang datang meminta ijin untuk menyusuri & menikmati indahnya bukit2 kesetiaan yang ada di kampung sebelah...

    BalasHapus
  10. Rasa damai dan tentram ikut menikmati kalimat di atas

    BalasHapus
  11. seperti lagunya slank : bocah-bocah kecil....main seruling dari bambu.....mainkan lagu....di keheningan alam desa......dan seterusnya......puisimu hening bang....hening.......

    BalasHapus
  12. KEREN SEKALI PUISINE, TEMANE JUGA TOP!
    INI KUNJUNGAN DARI RUANG SEBELAH HAH!

    BalasHapus
  13. Aku juga dari kampung sebelah nih...
    mampir ngintip sebentar.
    Moga sehat dan sukses selalu.

    BalasHapus
  14. Dari kampung sebelah, mana oleholehnya mas?
    Nice Poems

    BalasHapus
  15. Dari kampung yang jauh, aku datang menjemputmu sobat....

    BalasHapus
  16. pa berkunjung ke kampoeng sebelah...kesederhanaan terpancar d setiap kehidupan nya.moga bang ivan sehat2 aja d kampoeng...

    BalasHapus
  17. ah, kampung sebelah yang menyisakan kenangan..
    mungkin mereka jauh dari peradaban, atau sebentuk kemajuan..
    tapi jangan tanya tentang kesederhaan dan kedamaian, mereka akan memberimu lebih dari yang kau minta..cute bro! puisi yg indah...

    BalasHapus
  18. kata-katanya indah mas...penuh makna yang dalam...

    BalasHapus
  19. desa penuh wajah lugu tanpa keahlian it, bahasa ataupun perbankan tetapi menyimpan hati yang tulus, bersih tanpa kepalsuan dan juga kearifan budi yang tiada tara, mari kembali ke desa

    BalasHapus
  20. jadi rindu desaku bang desa yang penuh wajah-wajah bersahaja dengan pikiran bersih belum disusupi nafsu angkara

    BalasHapus
  21. kapan anak gramuda ke Pinrang Van?

    BalasHapus
  22. kampung sebelah sepertinya lebih nyaman...

    BalasHapus
  23. wah mantap nih puisinya mas Ivan..,

    kampung memang lebih nyaman..,

    BalasHapus
  24. Kami lebih suka hidup didesa, dan nyata! Salam buat kampung sebelah!

    BalasHapus
  25. kampung sebelah yg menghadirkan kerinduan ^^
    kedamaiannya membuat enggan pulang ke kota...

    BalasHapus
  26. Puisi yang bagus brother, udah pake bait-bait nih ceritanya, hahaha...
    tapi bagus bro, karena saya lebih terbiasa membaca puisi model begini, hahaha...

    BalasHapus
  27. Happy blogging.. Have a nice day..

    BalasHapus
  28. Untuk semua. Terimakasih kunjungan dan komentarnya, sobat.

    BalasHapus
  29. aq datang lagi belum coment d sini beberapa hari sbuk jd waktu BW juga sedikit bgt, puisinya indah dan bagus bgt

    BalasHapus
  30. Sungguh, meningatkan aku akan desa kelahiranku. Tapi, sayang, kini disana tak seindah dulu. aroma kemajuan jaman, sudah banyak terhidu. Kecantikan desa tak lagi alami :(

    BalasHapus