Hot!

Lacak Jejak Sastra di Pulau Penyengat


Pada awal abad ke-19 kesenian dan budaya Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat, daratan kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang di bagian Barat Pulau Bintan, Riau. Pada zaman itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga sastra Melayu berkembang pesat dan buku-buku banyak diterbitkan.


Beberapa catatan sejarah menunjukkan, semua orang yang tinggal di Penyengat sangat aktif berkarya. Tidak hanya sastrawan saja yang menulis dan menerbitkan karya-karyanya tetapi rakyat jelata, nelayan dan kaum perempuan pun membuat aneka tulisan.

Seabgai contoh, sebuah buku Perkawinan Penduduk Penyengat dikarang oleh seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada tahun 1902 sedangkan buku berjudul Kumpulan Gunawan ditulis oleh seorang perempuan bernama Khatijah Terung. Pesatnya perkembangan sastra Melayu kala itu tidak lepas dari peran kerajaan.

Tahun 1890-an percetakan Mathba'atul Riauwiyah dan Mathba`atul Al Ahmadi dibangun untuk menyebarluaskan karya-karya yang dihasilkan oleh putera-puteri Penyengat. Dari pulau kecil bertanah merah itu kemudian lahir banyak tokoh penulis dan sastrawan produktif yang keberadaannya di kenal luas di Semenanjung Tanah Melayu

Salah satu pengarang produktif yang dikenal pada masa itu adalah Raja Haji Ahmad Engku Tua, putera tertua Raja Haji Fisabillilah. Raja Haji Ahmad Engku Tua menulis banyak syair yang di antaranya adalah Syair Engku Puteri dan Syair Perang Johor serta membuat kerangka tulisan buku Tuhfat An-Nafis yang pembuatanya kemudian dilanjutkan oleh puteranya Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji yang lahir di Penyengat Indera Sakti pada 1808 dan meninggal pada 1873 merupakan tokoh budaya, pujangga, ahli siasat, politikus dan ahli bahasa ketika sastra Melayu berjaya di Penyengat. Dari goresan penanya lahir karya-karya besar seperti Gurindam XII, Bustanu`l-katibin (Kamus Bahasa Melayu), Kitab Pengetahuan Bahasa, Samratu`l-muhimmati (kitab pegangan pejabat pemerintah), Muqaddimah Fi Intizam (undang-undang), Syair Abdul Muluk, Tuhfat An-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis, Syair Suluh Pegawai, Syair Siti Shianah dan Syair Sinar Gemala Mestika Alam.

Keturunan Raja Ali Haji seperti Raja Haji Ahmad, Raja Saliha, Raja Safiah dan Raja Ali Kelana selanjutnya juga memberikan kontribusi penting bagi perkembangan sastra Melayu pada masa itu.

Pesatnya perkembangan dan kemajuan bahasa dan sastra Melayu ketika itu juga mendorong pemerintah Belanda untuk menjadikan Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Indonesia pada 1865.

Namun saat perang melawan Belanda mulai berkecamuk di Penyengat perkembangan sastra Melayu di kawasan itu mulai surut dan mencapai titik terendah ketika Belanda menguasai pulau itu pada 1911.

Karya sastra seperti syair dan pantun masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat baik dalam pelaksanaan upacara adat maupun dalam kegiatan pemerintahan. Tokoh-tokoh baru juga mulai muncul. Tahun 2004 budayawan Melayu Tenas Effendi menerbitkan buku Tunjuk Ajar Melayu dan Putra Pulau Penyengat Hasah yunus menerbitkan buku berjudul Raja Haji Fissabulillah Hanibal dari Riau.

 (berbagai sumber)

3 apresiator:

  1. anak sastra yax? kalo suka prosa nd puisi, follow nd komen balik yax!

    BalasHapus
  2. ternyata bukan hanya serangga yg menyengat, pulau jg ada ya bang...he..he...he.

    BalasHapus
  3. wah, coba di Indonesia budaya-nya kayak gitu, nulis pekerjaan mulia. pastinya udah lebih maju nih! keren, semua jadi sastrawan meski nggak sekolah tinggi ya!

    Salam Kenal dan Happy Blogging :)

    BalasHapus