Hot!

Sastra Lisan Moronene Terancam Punah


Sastra lisan adalah produk budaya lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui mulut, seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat, cerita rakyat, dan nyanyian rakyat. Usaha menggali nilai sastra lisan bukan berarti menampilkan sifat kedaerahan, melainkan penelusuran terhadap unsur kebudayaan daerah yang perlu dilaksanakan karena sastra daerah merupakan sumber yang tidak pernah kering bagi kesempurnaan keutuhan budaya nasional kita.

Namun kini beberapa sastra lisan di berbagai daerah di tanah air terancam punah. Salah satunya adalah sastra lisan bahasa Moronene Kabaena, Kabupaten Bombana, Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kini terancam punah akibat tidak adanya generasi penerus yang berminat mempelajari sastra tersebut. Sastra lisan yang sudah terancam punah itu antara lain, Kada (syair kepahlawanan), Ohoohi (syair penyambutan tamu), Tumburi`ow (dongeng) dan ka`oliwi (amanah leluhur).

Azramal, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Gajah Mada (UGM) yang sedang meneliti Sastra Lisan Etnis Moronene mengatakan, "Akibat pergeseran zaman, menyebabkan generasi muda tidak tertarik lagi mempelajari sastra lisan Moronene Kabaena."

"Nilai dan fungsi yang terkandung dalam sastra lisan tersebut seperti cerita tentang asal-usul suku Moronene, membangkitkan semangat kepahlawanan dan gairah kegotongroyongan," katanya.

Sastra Kada, menurut Azramal, sampai saat ini belum ada yang menulisnya dalam bentuk karya ilmiah secara tuntas. Itu sebabnya kata dia, dirinya tertarik meneliti Sastra Lisan tersebut, dan akan menjelaskan tentang kedudukan sastra lisan tersebut ditinjau dari teks, formulasi dan fungsi.

7 apresiator:

  1. kayaknya emang begitu,,,sebab Saya pernah tinggal di kendari tidak pernah mendengar sastra moronene padahal saya sering mendengarkan radio Swara Alam Kendari yg biasanya menghadirkan langsung narasumber di acara yg di khususkan utk para seniman.

    BalasHapus
  2. Ooh..ternyata bang AraLL pernah di Kendari ya..

    BalasHapus
  3. pemerintah daerah seharusnya memperhatikan kebudayaannya kalo punah yang rugi siapa ....ya kita - kita inilah bang.....

    BalasHapus
  4. mampir menyemangati sastra lisan

    BalasHapus
  5. SEMOGA KHASANAH BUDAYA SEPERTI INI DAPAT KITA LESTARIKAN. SALUT.

    BalasHapus
  6. pernah Bang,,,kurang lebihnya 4,5 tahun,,baru tahun 2007 kembali lagi ke Bulukumba.

    BalasHapus