Hot!

Lumpur Lapindo: Memori Di Bawah Tanah


Sejak  2008 tercatat sebanyak 10.106 kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka. Kampung halaman tercinta meninggalkan banyak kenangan. Jepretan dalam foto tak cukup untuk menerjemahkan kesedihan itu.

Lumpur Lapindo nyaris dilupakan orang bahkan oleh presiden SBY terlebih lagi Aburizal Bakrie. Tapi Lafadl Initiatives, sebuah lembaga nirlaba, menggelar pameran foto bertajuk “Memori Bawah Tanah: Mengingat dan Memotret Hak-Hak Dasar Korban Lumpur Lapindo”. Pameran yang bekerja sama dengan lembaga Hivos ini digelar di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sepanjang 5-7 Januari 2011.

Pameran foto ini adalah hasil dari workshop fotografi yang dilakukan sejumlah warga dari desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Mereka menggambarkan kondisi hak-hak asasi manusia di Porong, Sidoarjo. Foto-foto yang dipamerkan lahir dari mata mereka yang terkena langsung dampak lumpur Lapindo.

Bencana lumpur Lapindo yang terjadi sejak akhir Mei 2006 setiap hari mengeluarkan sekitar 100.000 meter kubik material lumpur dari dalam perut bumi. Material semburan itu ditampung dalam tanggul seluas sekitar 800 hektare dan secara perlahan disalurkan ke sungai Porong. Bencana ini telah menyebabkan sebayak 4 desa di Sidoarjo, Jawa Timur – Kedungbendo, Siring, Jatirejo, dan Renokenongo – tenggelam oleh lumpur.


(pelbagai sumber)

5 apresiator:

  1. pasti begitu natural foto-fotonya ya van, jadi ingat mas yans dalam jeda gimana kabarnya ya sekarang

    BalasHapus
  2. karya sastra memang tidak terbatas ruang dan waktu sebagaimana alam semesta.. kabupaten sidoarjo telah terkepung lumpur namun pemerintah pusat masih saja tak responsif dengan nasib sodara kita disana.. huf

    BalasHapus
  3. sungguh mengiris hati.masa' dah sekian tahun pemerintah nggak dapat jalan keluar untuk menyelamatkan rakyat yang terkena bencana ini?terlalu..terlalu...dan percuma di pilih!

    BalasHapus
  4. bencana nasional yang butuh kepedulian malah termarginalkan....

    Mohon maaf baru sempat mampir.

    BalasHapus
  5. sangat layak mendapat apresiasi dengan pameran foto yg bertajuk Memori Bawah Tanah, semoga pemerintah tdk melupakan penderitaan rakyat korban lapindo.

    BalasHapus