Hot!

Maluku Kobaran Cintaku diluncurkan Secara Nasional


Ratna Sarumpaet memposisikan kesenian sebagai alat perjuangannya, menyuarakan penolakannya atas kebijakan-kebijakan Negara yang dianggapnya menyimpang. Serta pemihakannya pada orang-orang yang tersudut oleh kebijakan kebijakan itu. Novel Maluku Kobaran Cintaku, karyanya yang terbaru juga mempertegas idealismenya. 

Karya-karyanya yang lain (drama/film), seperti Rubayat Umar Khayam, Dara Muning, Marsinah Nyanyian dari Bawah Tanah, Pesta Terakhir, Terpasung, Marsinah Menggugat, ALIA, Luka Serambi Mekah, Anak-anak Kegelapan, Jamila & Sang Presiden. 
 

Sebelumnya novel Maluku Kobaran Cintaku telah  launching di beberapa negara seperti di Belanda, Prancis, dan secara lokal di Maluku. Kali ini peluncuran novel secara nasional  dilakukan di Taman Ismail Marzuki, pada Jumat 11 Maret 2011.

Peluncuran  diikuti dengan diskusi terbuka yang menghadirkan, Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif, Pendeta Gomar Gultom (Sekjen PGI), dan Usman Hamid (Kontras). Diskusi akan mengangkat tema-tema kemanusiaan, toleransi, dan HAM. Peluncuran novel ini juga dipastikan akan dihadiri sejumlah tokoh lainnya, seperti mantan Wapres H.M. Jusuf Kalla, Prof Dr. Musdah Mulia, dan R.D.P benny Susetyo.

Peluncuran novel ini juga dimeriahkan dengan musik dan tari-tarian Maluku. Ikut menampilkan Glend Fredly, sebagai putra Maluku, pembacaan nukilan oleh Tere Pardede, Imam Soleh, Harris Priyadi Bah dan Chimey Gozali.

Dikutip dari salah satu media di Maluku, Ambon Ekspress, Ratna Sarumpaet menyatakan, novel ini bisa disebut, satu dari sedikit karya sastra yang berlatar konflik Maluku, sebuah episode paling muram dalam sejarah kemanusiaan di Indonesia dekade ini. Berkisah tentang sekelompok anak muda (Mey, Ali, Melky,Ridwan, Peter dan Aisah) yang terjebak dalam pusaran sebuah konflik yang menggerus kerukunan antar suku dan agama.

Disuguhkan dengan dramatis, dengan narasi sangat filmis, melalui novel ini Ratna mengingatkan kita, bahwa di tengah konflik Maluku ada pihak yang terus mencari keuntungan dengan tetap memelihara konflik itu untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Meski novel ini karya fiksi, penerima "The Female Special Award for Human Rights" (1999) dari The Fondation of Human Rights in Asia ini, dua tahun merelakan waktu, pikiran dan tenaganya melakukan riset dan menulis novel ini. Ia bolak-balik Jakarta – Maluku dan Maluku Utara untuk mendapat gambaran utuh mengenai konflik.


4 apresiator:

  1. novel yg menggugah pastinya

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum...
    wow...bikin iri deh.kapan ya aku pensiun lalu bikin novel^^ nice sharing,bro ^^^^
    Wassalam..

    BalasHapus