Hot!

Teater Flamboyant Mandar vs Laskar Kelor di Bulukumba

Pentas bersama Teater Flamboyant Mandar Sulawesi Barat dan Laskar Kelor Bulukumba Sulsel digelar untuk pertama kalinya di Bulukumba 21 Februari di SMA Negeri 2 Kajang dan pada tanggal 22 Februari 2012 di Kota Bulukumba. 

Pentas bersama ini juga dimeriahkan oleh penampilan Teater Kampong pimpinan Dharsyaf Pabottingi dan aksi perkusi Sanggar Seni Al Farabi Bulukumba.
T
Teater Flamboyant Mandar (Foto: kompasiana)
Andhika Mappasomba, dari pihak penyelenggara menjelaskan, kegiatan seni budaya ini dirangkaikan juga dengan dialog lintas komunitas budaya, kunjungan budaya, pagelaran seni tradisi lintas komunitas, perkenalan buku baru, buku kumpulan puisi Berbahasa Konjo, karya H. Kamiluddin Daeng Malewa dan Andhika Mappasomba. 
"Mohon dukungan teman-teman dan semua pihak untuk kegiatan budaya ini," ujarnya di Bulukumba, Minggu (19/2/2012).
Pentas bersama ini sebelumnya juga digelar pada tahun awal 2011 di Mandar Sulbar saat Laskar Kelor band tampil sebagai bintang tamu di sebuag even budaya di Mandar Sulbar.

Berikut sekilas profil Teater Flamboyant Mandar Sulbar yang dikutip dari artikel Hamzah Ismail di kompasiana.

.

Profil Teater Flamboyant Mandar
Didirikan Pada : Tanggal 5 - 9 - 1983
Diresmikan Pada : Tanggal 15 - 9 - 1984
Visi : Mewujudkan Komunitas Kesenian Berbasis Kemasyarakatan Nasional
Alamat : Jln. Poros Polewali Mandar - Majene No. 35
Kelurahan Tinambung Kecamatan Tinambung Kab. Polewali Mandar
Propinsi Sulawesi Barat, 91354
Situs/WebBlog : mandarmenulis.blogspot.com, www.suaramandar.com.
Sebagai komunitas, Teater Flamboyant Mandar telah ada sejak tahun 80-an di suatu wilayah nun jauh dari pusat keriuhan dan perkembangan jagat seni perteateran nasional. Tepatnya di sebuah kota kecil kecamatan yang bernama Tinambung.
Tinambung, selain dibelah oleh aliran sungai Mandar, ia juga berada tepat di himpitan antara areal perkebunan di kaki bukit, juga berada tidak begitu jauh dari pesisir pantai Teluk Mandar. Pendapatan asli warga masyarakat Tinambung lebih banyak bertumpu pada hasil perkebunan, hasil laut, dagang dan sebagaian lainnya adalah pegawai negeri sipil.
Awal lahirnya Teater Flamboyant Mandar tidak bisa dilepaskan dari sentuhan tangan dingin Almarhum Drs. Alisjahbana. Beliau lahir di desa Salarri (saat ini termasuk dalam wilayah administratif Kec. Limboro Kab. Polewali Mandar) pada 27 Desember 1951 dan meninggal dunia pada 31 Agustus 2005 di Yogyakarta. Sekitar tahun 70-an, beliau melanjutkan studi pada salah satu perguruan tinggi di kota Gudeg Yogyakarta. Dari kota Gudeg inilah, beliau kemudian banyak bersinggungan dengan seniman Malioboro. Beberapa diantaranya adalah Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan Eko Tunas yang aktif dalam Persada Studi Klub (PSK) dibawah asuhan Umbu Landu Paranggi (Presiden Penyair Malioboro) kala itu.
Suatu ketika, saat mudik liburan ke tanah leluhurnya di Tinambung, Bung Ali (panggilan akrab beliau) menemukan para pemuda yang hanya menandaskan hari-harinya dengan bertanggang dan main gitar, berjudi, minum tuak dan beragam perilaku khas gerombolan anak kampung yang sebagian masih sekolah dan sebagian lagi lainnya sudah putus sekolah. Bung Ali kemudian bersahabat dengan mereka. Dalam keakraban tersebut, pelan-pelan beliau membagi pengalaman serta memberi dorongan dan semangat hidup yang berkesadaran sebagai bagian dari sebuah bangsa yang bernama Indonesia untuk berperan serta dalam upaya pembangunan manusia seutuhnya. Para pemuda kampung tersebut kemudian diikat dalam sebuah tali tasbih berideologi kemanusiaan yang menjadikan seni sebagai medium untuk mengenali diri dan lingkungan. Belakangan, kelompok pemuda yang telah tergerak nuraninya untuk berbuat yang terbaik bagi diri dan masyarakat tersebut memproklamirkan diri sebagai Teater Flamboyant Mandar.
Sebagai arena anak kampung, keberadaan Teater Flamboyant Mandar sanggup mengambil alih kesibukan dan perhatian para pemuda tadi untuk lebih kreatif belajar mengembangkan kecakapan hidup dalam bidang seni dan budaya.
Seiring perputaran jaman, Teater Flamboyant Mandar tumbuh dan berkembang tidak hanya sebagai komunitas kesenian yang melulu berteater, dan melakukan persinggungan lewat usungan karya seni ke pentas lokal, regional bahkan nasional. Tetapi, belakangan ia muncul menjadi semacam agen perubahan (agent of change), dan tampil sebagai penafsir dan pelakon nilai-nilai budaya (kearifan budaya lokal) masyarakat Mandar.
Dalam perjalanannya, Teater Flamboyant Mandar yang telah mengalami proses re-generasi beberapa kali dan telah menjalin hubungan dengan komunitas serupa di berbagai penjuru nusantara, beberapa diantaranya adalah : Bantaya Palu, Yayasan Kelola Solo, Komunitas Musik Puisi Se- Nusantara via FMPI 2003 dan Arts Network Asia (ANA) yang berkantor di Singapura, serta beragam komunitas lainnya.
Pertautan yang mesra dengan berbagai komunitas tersebut lalu memberi semacam sumbangan khazanah ilmu bagi Teater Flamboyant Mandar dalam hal manajemen kerja kebudayaan dan kesenian yang ilmiah dan modern, tanpa tercerabut dari akar kultural dan sejarahnya sebagai teater rakyat.
Sampai hari ini, Teater Flamboyant Mandar telah melahirkan beragam arus pemikiran yang terkadang memilih menjadi oposan dan sedikit radikal humanis dalam hal kerja-kerja kebudayaan. Terutama terlihat dari persinggungannya dengan beragam kepentingan politik yang terkadang abai terhadap hati nurani. Untuk wilayah satu ini, Teater Flamboyant Mandar sebagai teater rakyat, justru lebih memilih netral tanpa keberpihakan (independent).
Hingga kini, Teater Flamboyant Mandar lebih memilih hidup inklusif ditengah-tengah masyarakat, seraya menggenggam tekad perjuangan kebudayaan dan kemanusiaan. Sambil tetap berupaya melakukan penambalan-penambalan kegelisahan di tingkat pemula (remaja) dengan menyulut proses kerja-kerja kreatif dan metode arus lalu lintas pemikiran kebudayaan di tingkat yang lebih dewasa. Pendek kata, Teater Flamboyant Mandar yang memiliki anggota terdaftar sekitar 100-an orang ini tetap lahir dan berada dalam masyarakatnya. Bersama, bergenggaman dalam membangun kebudayaan yang lebih berpihak kepada kemanusiaan untuk mengawal peradaban ke arah yang dicita-citakan. Masing-masing anggota Teater Flamboyant Mandar mengambil peran sebagai masyarakat sebagaimana umumnya masyarakat. Mereka bersahaja dan tetap melakoni aktifitas sehari-harinya sebagai petani, pedagang, pelajar, mahasiswa, pengangguran bahkan pegawai negeri sipil.
Bagi Teater Flamboyant Mandar, kesenian tidak lantas dipahami sebagai seni untuk seni sebagaimana adagium yang dilontarkan oleh pekerja seni lainnya. Tetapi, kesenian bagi Teater Flamboyant Mandar adalah sebuah upaya untuk melembagakan manusia dalam tatanan estetika kemanusiaan yang berbudaya untuk memahami teks dan konteks kebudayaan, yang dapat diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Alhasil, Teater Flamboyant Mandar kini telah menjadi semacam teman bagi masyarakat dalam pemetaan arus berpikir, meretas berbagai persoalan kemasyarakatan yang tak pupus mengitari keseharian. Hingga kepada proses pendampingan, utamanya penyelamatan generasi muda dari agresifitas budaya luar yang tidak sesuai dengan kearifan lokal Mandar dan tuntunan agama.
Dalam beragam lontaran statemen dan kerja kreatifnya, Teater Flamboyant Mandar selalu memilih untuk hadir sebagai komunitas yang lebih mengedepankan kebersamaan dan konsep keilahiyaan, kemanusiaan dan kebudayaan yang berbudaya.
II. Jumlah Anggota dan Susunan Pengurus Teater Flamboyant Mandar 2009 - 2014
Total Jumlah Anggota Teater Flamboyant Mandar yang aktif dalam beragam genre seni adalah sekitar 50 orang, dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Bali, Bangka Belitung, Jakarta, Jogjakarta, Balikpapan, Merauke, dan Palu. Untuk setiap pementasan karya seni teater, minimal 20 hingga 25 orang yang dibutuhkan, tergantung konteks dan ruang pertunjukannya.
Secara rinci, susunan pengurus Teater Flamboyant Mandar saat ini adalah:
Dewan Pembina :
Sukhri Dahlan
Amru Sa’dong, S.Pd
Hamzah Ismail, S.Pd
Haidir Djamal, S.Sos
Bahmid Djamal, S.Pd
Asmadi Alimuddin, S.Sn
Muhammad Syariat Tajuddin, SH
Rahman Karim
Latappa Latief
Djunaedi latief
Abu Bakar
H. Abdul Manaf SB
Tammalele
Aziz Wenazs
Adinata Djamal
H. Arif Arifin
Musjad Saenong
Pengurus Harian :
Ketua : Rahman Solaaz
Wakil Ketua : Alif Tj
Sekretaris : Abed El-Mubarak
Wakil Sekretaris : Aldin
Koord. Bidang Musik : Ramli Rusli
Koord. Bidang Teater : Suardi Rusli
Koord. Bidang Sastra : Rosmadiana Tammalele
Koord. Bidang Pengajian : Muhammad Aslam
Koord. Bidang Multimedia : Zulkifli Siddik
Alamat Sekretariat
Teater Flamboyant Mandar beralamat di Jl. Poros Polewali Mandar - Majene, No.35 Kelurahan Tinambung - Kecamatan Tinambung Kab. Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat Kode Pos : 91354. Contact Person : Rahman (081355252356) - Mubarak (085255859795) - Hamzah Ismail (081342357873) Email : teaterflamboyant@gmail.com - rahmanbaaz@gmail.com - hamzahismail07@yahoo.co.id. Rekening Bank Rakyat Indonesia Cabang/Unit Tinambung


Kegiatan Yang Pernah Diikuti dan Dilakukan :
Pementasan :
1. Musik Puisi (1984) di Rea Kab. Polewali Mamasa (sekarang Kab. Polewali Mandar).
2. Pentas Teater Tradisional “Pencari Rezeki” (1985) di Polmas.
3. Pentas Teater “Perahu Nuh” (1985) di Polmas
4. Pentas Teater bersama Teater PETA (Asdrafi), Yogyakarta (1986) di Tinambung.
5. Pentas Drama “Terjebak” (1987) di Polmas
6. Pentas Teater “Cahaya Maha Cahaya” (1987) di Polmas dan Pare-Pare.
7. Pentas Teater Keliling “Lautan Jilbab” (1988) di Sulsel.
8. Pertunjukan Rakyat “Kerikil Tajam” (1990) di Makassar.
9. Pertunjukan Rakyat “Dibalik Batu” (1992) di Pinrang.
10. Pertunjukan Rakyat “Kaca Mata” (1993) di Polmas.
11. Pertunjukan Rakyat “Kauseng” (1995) di Makassar.
12. Pentas Teater “Koa Koayang” (1997) di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
13. Musik Puisi(1997) di Jombang.
14. Pentas Teater “Koa Koayang” (1999) di Pengajian PadhangMbulan Sumobito Jombang, Pesantren Gontor, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
15. Pentas Teater “Kauseng” (2000) di Palu Indonesia Dance Forum.
16. Pentas Musik Puisi di Festival Musik Puisi Indonesia (2003) Yogyakarta
17. Pentas ” B o m ” Pestival Teater Sulsel (2003) Soppeng
18. Pestival Seni Musik Tradisional Mandar (2003) Kerjasama BKKI Sulsel di Tinambung Polmas.
19. Pameran Seni Fhoto dan Lukis “Katakan Cinta Dengan Karya” (2003) Di Tinambung Polmas.
20. Kirab Seni Keliling Sulbar “Belajar Mengeja Hening” (2004) Polmas, Majene dan Mamuju.
21. Fasilitator Malam Pentas Seni pada Acara Silaturrahmi Kebudayaan Mandar se- Sulbar (2005) Polewali Polmas.
22. Pentas Musik Puisi di Festival Musik Puisi Indonesia (2005) Yogyakarta
23. Malam Renungan dan Tahlil buat Pejuang Kebudayaan Mandar in Memoriam Bung Ali Syahbana (2005) di Tinambung.
24. Forum Fula Dongga : Pentas Seni Pertunjukan Musik Puisi Kolaborasi Emha Ainun Nadjib (2005) Palu Sulteng
25. Temu Teater KATIMURI IV (kawasan timur Indonsia, 2006) Taman Budaya Samarinda Kalimantan Timur
26. Pentas Seni Pertunjukan Perhimpunan Wartawan Muslim Indonesia Kolaborasi Emha Ainun Nadjib (2006) Mamuju
27. Musik Puisi dan Shalawatan Peresmian Perpustakaan Daerah Kabupaten Majene (2006) di Majene
28. Musik Puisi dan Shalawatan Malam Reuni SMA 1 Majene (2006) di Assamalewuang di Majene
29. Pentas Musik Puisi Malam Renungan HIV Aids Kerjasama Unicef dan Mandar Sehat (2006) Lemcadika Polewali
30. Sastra Kepulauan dan Kampung Budaya VII di Barru Sul-Sel
31. Haflah Maiyah se-Nusantara 2009 di desa Sumobito, Jombang Jawa Timur
32. Pentas Keliling Teater, Musik dan Puisi bertajuk “Seni Untuk Rakyat” di kabupaten Mamuju dan Majene Sulawesi Barat 2010
33. Peserta Festival Teater Remaja Nasional (Gedung Sasono Langen Budoyo-TMII Jakarta) tanggal 1-4 November 2010.
34. Peserta Kompetisi Teater Indonesia (A Tribute To WS. Rendra), Taman Budaya Provinsi Jawa Timur 1-8 November 2010
35. Silaturrahmi Budaya Mandar-Kajang (Teater Flamboyant Mandar-Laskar Kelor Bulukumba), 15 Februari 2011, Gedung Mita Tinambung
36. Launching Antologi Puisi “Potret Hitam Putih” karya Darwin Badaruddin, Gedung PKK Polewali, Sabtu 26 Februari 2011
37. Road Show bertajuk “Perjalanan Sunyi dan Sujud Sosial” -Pentas Musik Puisi dan Workshop, Lembang-lembang, Sabtu 26 Maret 2011, Lampa Kecamatan Mapilli tanggal 27 Maret 2011, dan di beberapa tempat yang direncanakan (tentatif) dalam tahun 2011.
38. Pentas Musik Puisi dalam kegiatan Reuni Akbar Alumni SMA 2 Majene (Angkatan 1985-2010), Lembang Majene, 09 April 2011.

Penguatan dan Pemberdayaan
1. Workshop Teater dan Tari bersama Drs. Halilintar Latief dan Dra. Andi Fadlia (keduanya dosen UNM Makassar), 1986.
2. Workshop Teater dan Musik bersama Novi Budianto (Personil Musik Kiyai Kanjeng), 1996.
3. Seminar Nasional “Kebebasan Berekspresi”, menghadirkan pembicara utama; Emha Ainun Nadjib dan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH (1997).
4. Workshof Penyutradaraan di Taman Budaya Solo (1999).
5. Pengajian Bersama Emha Ainun Najib dalam tajuk “Papperandang Ate” (beberapa kali di Mandar Sulsel).
6. Talk Show Diskusi Bersama 7 Anggota Dewan Terpilih Dapil 4 (2004).
7. Pelangi Budaya “Pengajian dan Diskusi Warga” (digelar satu kali satu bulan di setiap awal bulan), belakangan hanya mampu dilaksanakan sekali setahun dalam betuk pementasan dengan melibatkan komunitas lain di Sulbar dan Luar Sulbar.
8. Penerbitan Jurnal Seni Budaya Mandar (Tiap Tiga Bulan).
9. Workhsof Teater dan penulisan (Sekali Satu Bulan).
10. Komunitas Shalawatan (Menerima Undangan Pentas Paket Seni Pertunjukan dan Tembang Religius).
11. Bank Naskah Teater (Siap diekplorasi).
12. Bank Musik Puisi (Siap dieksplorasi).
13. Puisi Lima Penyair, 2009, (Draft Buku Antologi Puisi, siap untuk diterbitkan)… jika ada pihak yang berkenan menjadi sponsor.

source: www.rca-fm.com

1 apresiator: