Hot!

Sastra Islam dan Gejala Kita


Sejujurnya saya tidak punya otoritas berbicara tentang Sastra Islam. Terlebih lagi ketika lebih jauh Sastra Islam harus dibawa ke meja polemik yang menggugat eksistensi bahkan keabsahannya yang terlanjur hadir di tengah masyarakat (yang sekuler). Namun dengan referensi beberapa ahli paling tidak kita bisa mencoba memahami Sastra islam. 

Ilustrasi Karya Sastra Islam
Sastra dalam Islam disebut dengan adab. Dalam keseharian, kita bisa menyebutnya sebagai kesopanan, kesantunan, atau dengan istilah kelembutan kata. Sebuah keniscayaan jika menilai sikap dan tingkah laku seseorang kita harus melihatnya dengan adab. Baik dengan melihat kesopanannya, kesantunannya, atau dengan kelembutan tutur katanya saat bicara. 

Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran. Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakatlah yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi sastra Islam lebih mengarah pada pembentukan jiwa.

Sedangkan definisi seni dan sastra Islam menurut Said Hawa dalam bukunya Al Islam, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), di mana semua bentuk kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Alquran merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian seni Islam dapat dikatakan sebagai seni Qurani atau seni Rabbani.

Lalu siapakah para penikmat Sastra Islam? Dalam menelusuri ranah ini kita jauh lebih gelap lagi. Tapi sebagai acuan, untuk menelisik wilayah penikmat Sastra Islam maka kita wajib memahami esensi adab dalam konsep Islam.  Penikmat dan Pembaca berada di dua ranah yang berbeda. Adab individu menentukan apresiasi kita terhadap Sastra Islam. Demikian halnya jika dikaitkan dengan Sastra Non-Islam. 

Catatan Kaki, 9 Ramadhan 1433 Hijriah.

10 apresiator: