
Blog menjadi pilihan sebab ia bisa menjelma menjadi media publikasi yang efektif. Blogger yang sastrawan, penulis, politisi, mahasiswa, sampai tukang kebun dan pemulung bisa memposting ide-idenya melalui blog dan bahkan dapat memiliki penggemar di internet.
Blogger yang politisi bisa melakukan banyak hal jika ia memiliki blog pribadi. Ia bisa menyajikan gagasan-gagasan maupun pandangan sikap atas peristiwa, kasus, atau isu yang sedang marak dibicarakan. Politisi yang ngeblog bisa menyajikan profil pribadinya, mempromosikan gaya hidupnya yang sederhana, memoar pengalaman hidupnya yang bisa memberi inspirasi, dan macam-macam lagi yang bisa menarik simpati dan perhatian. Blog bisa menjelma sebagai media kampanye politik untuk menggalang suara.
Bagi masyarakat di negara maju semisal masyarakat AS, blog sudah barang tentu bisa efektif. Internet singgah di setiap rumah bahkan merasuki usia dini. Bagaimana di Indonesia? Jumlah pengguna internet yang masih sedikit tentu adalah persoalan tersendiri. Tapi peningkatan jumlah pengguna internet setiap saat di Indonesia bisa jadi memang sudah dipikirkan oleh seorang Jusuf Kalla, misalnya. Mungkin ada pemikiran jangka panjang dari aktivitas ngeblog pak JK. Lebih dari sekedar postingan kampanye. Pasti sama dengan blogger lainnya ketika pertama kali ngeblog. Ada yang lebih luhur dari itu semua. Lagian,memang seorang capres tidak boleh sama sekali gaptek.
Selain tidak boleh gaptek ternyata para capres juga mencoba merambah dunia seni. Dunia yang satu ini tentu agak lebih mudah menembus masyarakat grassroot. Lumrah saja jika seorang capres mendadak menjadi penyair. Keesokan harinya malah bisa menjadi pemain piano di hadapan banyak orang. Bahkan ada politisi yang sempat menjadi pemain film semisal Yuzril Ihza Mahendra. Tapi, esensi kecintaan terhadap seni masih merupakan barometer untuk bisa menilai kedekatan seorang capres dengan seni. Ada sedikit kekhawatiran siapa tahu hanya kamuflase untuk menggaet kalangan pencinta seni tapi kemudian melupakan seni? Bangsa yang besar inilah yang bisa menilai calon pemimpin yang benar-benar tulus.