Hot!

Sastra Marginal

Sastra marginal? Yang terbayang di mata saya adalah letak, geografi dan demografi dan entah apalagi. Kalau ada sastra yang “di pinggir”, tentu ada yang “di tengah”, “di pusat”, dan akhirnya “yang tidak penting” dan “yang penting”. ‘Di’ sebagai kata depan pada akhirnya berubah (bukan berkembang) menjadi ‘di’ imbuhan.

Hal yang juga menarik adalah perubahan perlakuan yang tentunya ada sesuatu dibaliknya. Siapakah mereka yang "di sastra pusat" itu? Jawabannya masih sangat kabur. Seorang Andrea Hirata pun tentu tidak akan mau dijuluki sebagai sastrawan elit yang berada di pusat. Sebab sastra tidak mengenal selebritas. Kecuali mungkin persona yang mendadak narsis dan terjebak hedonisme yang diciptakannya sendiri. Wiji Thukul yang "dihilangkan" secara misterius oleh rezim orba pastilah berkali lipat lebih dikagumi orang-orang idealis ketimbang seorang cerpenis yang baru saja menerbitkan antologi cerpen remaja yang ke 17. Wiji Thukul tentu akan mengaku di sastra pinggiran.


Sastra pinggiran? Saya masih yakin jumlah pembacanya masih jauh lebih banyak dibanding sastra pusat atau entah apa namanya. Ingin buktikan? Sebuah puisi iseng sederhana berbentuk SMS yang ditulis seorang pelajar tidak dikenal sangat bisa jadi lebih banyak dibaca orang sebuah negara karena kebetulan beranting dari ponsel ke ponsel. Bandingkan dengan sebuah buku antologi puisi yang diterbitkan dalam waktu bersamaan. Mungkin bukan persoalan harga hingga kalah jumlah pembaca. Lalu di mana letak perbedaannya? Jika sebuah cerpen ataupun esai berbicara dan menohok kekuasaan, lantas layakkah ia sebagai sastra pinggiran? Manakala sebuah karya booming karena memang lagi musimnya dan kecendrungan trend tertentu maka perlu sebuah musyawarah untuk mengklasifikasikannya sebagai yang terpinggir ataukah elit. Defenisi, hari ini semua orang sedang membentuk dan mencari defenisinya sendiri.

0 apresiator:

Posting Komentar