Hot!

Other News

More news for your entertainment

Jejak Blogger



Blog adalah salah satu tempat untuk meninggalkan jejak. Jejak-jejak intelektual itu berupa tulisan, foto, video, audio dan masih banyak lagi macamnya.
Setiap hari, setiap jam bahkan dalam setiap menit ribuan artikel ditulis dan diposting oleh para blogger dari seluruh penjuru dunia. Sadar atau tidak, mereka telah meninggalkan jejaknya masing-masing. Belasan, puluhan bahkan ratusan tahun ke depan mungkin jejak mereka masih bisa ditelusuri oleh anak cucunya kelak.
Di masa depan, pada zaman yang belum terbayangkan bentuknya, anak cucu dari para blogger mungkin masih akan dapat menikmati postingan dari kakek ataupun neneknya. Lalu, mereka tersenyum-senyum sendiri. Dan mereka berkata,”Aku bangga kakekku seorang blogger!”
Berikut ini ada video putra saya yang saat ini sudah berumur 1 tahun 10 bulan sedang membaca puisi. Namanya Ahmad Dihyah Alfian. Ini merupakan salah satu jejak dari saya untuknya, dan  juga untuk cucu-cucu saya kelak. Insya Allah. Sahabat Blogger, jangan pernah menghapus jejak! Oh ya, artikel saya kali ini adalah juga sekuntum rindu buat sahabat-sahabat blogger. Lama tak saling sapa. Namun kalian tetap di sini, di palung hati.

Rahman Arge, Ingatan Panjang

Sejak kecil saya selalu menyimpan beberapa puisinya dalam ingatan panjang, terutama puisi-puisinya tentang Bosnia. Pada akhirnya, ingatan kepada penulis puisi itu kian memanjang berlama-lama, apalagi setelah kepergiannya. 
Setelah kehilangan budayawan dan kritikus sastra yang langka, Dr. Ahyar Anwar pada 2013 lalu, Sulsel kembali kehilangan seniman nasional, Rahman Arge. Memiliki nama lengkap Abdul Rahman Gega, wartawan senior, aktor film, esais dan cerpenis ini lebih dikenal sebagai budayawan dan penulis puisi. Sosoknya nyaris mendekati sempurna dengan menyandang berbagai predikat, mulai dari seniman, wartawan dan politisi, lewat akting dan tulisan. Arge dikenal pemicu seni teater modern di Makassar, ia mengilhami lahirnya seniman-seniman penerusnya, 
Pasca beredarnya informasi meninggalnya Rahman Arge, sejumlah postingan puisi miliknya bermunculan di Twitter. Rahman Arge meninggal sekitar pukul 10.05 Wita, Senin (10/8/2015), dalam usia 80 tahun.
Rahman Arge yang aktif dalam dunia teater sejak tahun 1955 ini meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelum meninggal, Arge pernah dirawat di Rumah Sakit Siloam pada bulan April sampai Mei 2015 lalu. 

Budayawan Sulsel penggemar warna hitam ini pernah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel empat periode sejak tahun 1970, aktif menulis di Majalah Tempo dan Harian Fajar, serta pernah menjadi anggota DPR RI dari Golkar pada tahun 1987-1992. Selain itu pria yang meninggalkan 1 istri, 5 anak dan 10 cucu ini juga pernah meraih Piala Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1978 dari film Jumpa di Persimpangan dan Piala Citra FFI tahun 1990 dari film 'Jangan Renggut Cintaku'.  

Penuturan salah seorang sahabat almarhum, aktor dan budayawan asal Bulukumba, Aspar Paturusi, dirinya mengenal Arge sejak tahun 1957 , sewaktu mereka pentas teater di Gedung Kesenian Makassar. Arge bersama Aspar dan 9 tokoh seniman Sulsel lainnya ikut mendirikan Dewan Kesenian Makassar. 
Berikut di bawah ini beberapa karya dan penghargaan serta sepenggal perjalanan karier pria kelahiran Makassar 17 Juli 1935 ini:
• Bidang Pers:
- Menjadi jurnalis pertama kali di Pedoman Rakyat - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan (1973-1992) - Bersama Mahbub Djunaidi mendirikan koran Duta Masyarakat edisi Sulawesi Selatan - Menebitkan majalah Suara, Esensi, Timtim, Harian Reformasi, dan Pos Makassar - Anggota Dewan Kehormatan PWI pusat - Penerima penghargaan kesetiaan mengabdi selama 50 tahun di dunia pers 
• Bidang Politik:
- Anggota DPRD Sulawesi Selatan 4 periode
- Anggota DPR / MPR periode1992-1997
- Penasehat DPD Golkar Sulawesi Selatan
• Bidang Seni, Sastra dan Kebudayaan
- Mendirikan Front Sinema Makassar (1957)
- mendiri Teater Makassar (1969)
- Menerima penghargaan Piala Citra sebagai aktor pemeran pembantu terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1990
- Meraih medali emas pemeran pembantu terbaik pada FFI 1988
- Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Sulawesi Selatan (1989-1993)
- Ikuti menandatangani Menifest Kebudayaan di Jakarta (1964)
- Mendirikan Dewan Kesenian Makassar
- Ketua Dewan Kesenian Makassar (1970-1979)
- Kepala Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Cabang Sulsel (1978-1992)
- Telah bermain di tujuh film dan di dua festival film nasional - Menerima Penghargaan Seni pada 1977
- Wakil Ketua Umum Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Pusat (1993-1997)
- Penasehat panitia Konggres Kebudayaan Nasional V (2003)
- Menerima Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI pada tahun 2003
- Menulis banyak cerpen, puisi, dan esai
- Belasan naskah teater telah ditulis sekaligus menyutradarai dan menjadi aktornya. Salah satu naskahnya pernah dipentaskan di Jepang
- Menerima penghagaan dari Japan Foundation sekaligus hadiah keliling Jepang (1980)
- Beberapa kali mengikuti festival teater di Taman Ismail Marzuki (TIM)
- Menulis buku berjudul "Permainan Kekuasaan" yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. 

Rahman Arge, selalu ada memori panjang berlama-lama kepadanya. Bahkan jauh setelah kepergiannya. (*)

* Diolah dari berbagai sumber

Namaku Ahmad Dihyah Alfian

Aku dilahirkan pada “zaman batu”, maksudnya pada saat trend cincin batu. Bulan kelahiranku juga bersamaan dengan peristiwa lumpuhnya KPK akibat dikriminalisasi. Bundaku, Israwaty Samad adalah seorang ibu yang hebat. Ketika melahirkan aku, bunda merasakan bagaimana rasanya melahirkan secara normal sekaligus operasi caesar. Hal itu terjadi karena bunda telah mengalami air ketubannya pecah pada pembukaan delapan sebelum dioperasi caesar juga pada akhirnya. 

Rasa sakit luar biasa yang dialami bunda membuat ayah, kakek dan nenek memutuskan untuk segera membawanya ke Puskesmas Tanete. Hari itu tanggal 27 Januari 2015. Bunda merintih kesakitan selama satu jam lebih di puskesmas. “Baru pembukaan tiga,” kata seorang bidan. Beberapa orang temanku di dalam rahim bunda terus memberiku semangat agar tetap lincah bergerak. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT mendampingi aku semenjak aku masih berbentuk nutfah dalam rahim bunda. Selama sembilan bulan lebih mereka menjadi sahabat-sahabatku yang setia. Merekalah yang menemani aku berenang dalam akuarium ketuban bunda, mengawasi aku yang menghisap nutrisi melalui ari-ari dari makanan-makanan yang dikonsumsi bunda, dan menjadi informan tentang segala hal yang terjadi di sekitarku di luar alam rahim. Mereka adalah sahabat sekaligus guru yang baik. Banyak ilmu pengetahuan yang aku peroleh dari mereka selama berada dalam rahim bunda. 

Aku sering mendengar para malaikat itu berdiskusi tentang aku. Kata mereka aku terdiri dari jasad dan batin. Aku diciptakan dari Nur Muhammad lalu ditempa dari anasir Adam: api, angin, air, dan bumi. Api terbit dari batinku berhuruf Alif bernama Zat, rahasia darahku. Angin terbit dari batinku berhuruf Lam awwal bernama Sifat, menjadi nyawa, rahasia nafasku. Air terbit dari batinku berhuruf Lam akhir bernama Asma, menjadi hati, rahasia maniku. Tanah terbit dari batinku berhuruf Ha, bernama Af-al, menjadi kelakuan, rahasia tubuhku. Api, angin, air, dan tanahku membentuk kalimah: La Ilaha Illallah. La, syariat itu perbuatanku. Ilaha, thariqat itu ucapanku. Illa, haqiqat itu nyawaku. Allah, ma’rifat itu rahasiaku. Haqiqatku: aku Muhammad: tubuh, hati, nyawa dan rahasia. Aku api yang tegak berdiri, angin yang ruku’, air yang bersujud, bumi yang duduk bersimpuh. Aku fana, lebur lenyap kepada batinku. Dari tiada menjadi ada, dari ada kembali menjadi tiada. Tubuhku syariat di alam insan. Hatiku thariqat di alam jisin. Nyawaku haqiqat di alam misal. Sirku ma’rifat di alam ruh. Segala perbuatanku adalah Perbuatan-Nya, segala ucapanku adalah Asma-Nya, Nur Muhammad dari Nur-Nya, segala sifat adalah Sifat-Nya, padaku adalah wujud-Nya. Alif Lam Lam Ha, La Ilaha Illallah. 

Hasil pemeriksaan bidan menyimpulkan bahwa kandungan bunda memiliki kelainan. Tulang panggul bunda tempat di mana aku akan meluncur ke dunia agak sempit. Pantas saja aku kesulitan bergerak. Konon, kondisi langka ini dialami oleh sebagian kecil ibu-ibu hamil. Proses perputaran tubuhku sebelum lahir seharusnya beberapa kali lagi. Namun karena tempatku meluncur tidak kondusif jika melalui persalinan normal maka tubuhku yang mungil mengalami kesulitan untuk segera nongol. Bidan senior, Hj. Ila yang juga tante dari bunda menyarankan agar bunda dirujuk ke RSUD Andi Sulthan Daeng Radja di Kota Bulukumba. Di sana peralatan jauh lebih lengkap. Akhirnya bunda dirujuk ke sana. Di atas ambulans yang melaju kencang ayah, nenekku Puang Asia dan seorang bidan pendamping menemani bunda yang terus mengerang kesakitan. Sementara itu aku juga terus berjuang untuk lahir.

 “Sudah pembukaan lima,” kata suster di rumah sakit itu. Aku terus menguping pembicaran mereka. Para malaikat juga memberitahu aku bahwa ada banyak orang di luar sana yang terus berdo’a dan berdzikir agar bunda segera melewati masa-masa paling mencemaskan ini. Termasuk ayah, nenek, kakek, Tante Ulfa, Tante Nila dan Tante Fatimah. Aku belum juga lahir. Baru pembukaan enam. Berjam-jam kemudian, baru pembukaan delapan. Malam mulai tiba. Secara bergantian nenek, Tante Nila dan ayahku menemani bunda. Sudah pukul 11 malam tapi aku belum juga lahir. Padahal ketuban tempat aku berenang di rahim bunda sudah pecah. Itupun mungkin karena khasiat dari air pakarommo’ yang diberikan oleh ettanya Kak Awang, Om Andi Sinrang. 

Semua harap-harap cemas. Ayah gelisah hilir mudik tidak karuan. Ayah jarang sekali muncul suaranya. Mungkin lagi berdoa entah di mana. Sampai akhirnya dr. Rizal memanggil ayah. Dokter itu menyarankan agar bunda dioperasi caesar. Alasannya adalah aku “anak mahal”, artinya anak yang sudah lama ditunggu kehadirannya. Selama tiga tahun lebih ayah dan bunda menunggu kehadiranku. Sedangkan alasan medis dari dr. Rizal adalah karena ubun-ubun dan wajahku mendongak di dekat pintu keluar. Seharusnya kepalaku bagian atas yang menempati posisi itu. 
“Dalam posisi seperti itu sangat berbahaya jika kamu lahir normal,” kata salah seorang malaikat temanku. “Wajah dan leher kamu bisa cacat kalau ditarik. Seharusnya kepalamu bagian atas yang mestinya lebih dulu muncul,” ujar malaikat lainnya. 
Aku hanya terdiam, sedih. Aku sangat iba kepada bunda karena harus berjuang melahirkan aku selama 12 jam lebih. Dengan meneguhkan hati, ayah menandatangani surat pernyataan setuju bunda dioperasi. Tepat pukul 00.30 Wita, aku pun lahir melalui operasi caesar. Bunda meneteskan airmata bahagia campur haru saat melihat tubuhku diangkat oleh dokter. I Love You, Bunda.

Tangisanku yang pertama memecah keheningan. Tangisan pertama itu adalah karena beban berat menanggung “rahasia Allah”. Tangisanku yang kedua adalah karena aku bersyukur telah dilahirkan sebagai makhluk termulia, manusia. Kepalan tanganku tertutup, itu artinya aku bernama Ahmad. Manakala tanganku mulai terbuka maka namaku adalah Muhammad sampai akil baligh nanti. Itulah nama yang sebenarnya dari setiap bayi manusia. Pengetahuan ini kuperoleh dari teman-temanku para malaikat. Mata ayah berkaca-kaca ketika mengumandangkan adzan di telinga kananku dan iqamah di telinga kiriku. Aku sangat hapal suara ayah. Ketika aku masih dalam kandungan ayah sering membacakan iqamah di perut bunda setiap akan sholat di rumah. Ayah dan bunda pun selalu membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an di dekatku. 

Allah Maha Besar, aku lahir dengan selamat. Kelaminku lelaki. Wajahku sangat tampan, hidungku mancung dan kulitku putih bersih, itu kata orang-orang yang melihatku. Para malaikat temanku pernah bilang bahwa selama bunda hamil ayah sering berdo’a jika aku laki-laki semoga aku dianugerahi wajah mirip dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani dan jika aku perempuan semoga diberi wajah mirip Fatimah Azzahra puteri Rasulullah SAW. Kalau benar wajahku mirip dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani maka alangkah beruntungnya aku. Wallahualam. Oh ya, saat lahir aku juga memiliki sebuah tanda fisik yang sangat unik, telinga kiriku berbentuk tulisan “Allahu.” Muhammad Ali adalah salah seorang ustad kenalan ayah. Sehabis shalat Isya dalam sebuah bincang-bincang di pelataran mushalla rumah sakit beliau menyarankan agar ayah memberiku nama “Ahmad Dihyah Alfian”. Ahmad adalah nama yang sebenarnya dari setiap bayi manusia dan nama langit dari Rasulullah SAW. Dihyah diambil dari nama salah seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu “Dihyah Al Kalbi” yang dalam sejarah Islam dikenal cakap, ganteng, mahir bertempur dan kerap menjadi salah satu pemimpin pasukan Islam. Dalam bahasa Arab kata “dihyah” juga memiliki arti “pemimpin pasukan, pejuang, suku, atau umat”. Sedangkan nama Alfian untuk menyandang nama ayahku Alfian Nawawi, di mana aku diciptakan Allah bermula dari setetes nutfahnya. 

Teman-temanku para malaikat mengucapkan selamat kepadaku. Sudah waktunya mereka harus pamit karena tugas mereka telah selesai. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat kehilangan. Aku hanya bisa menangis. Namun mereka berjanji bahwa kami akan bertemu lagi suatu hari nanti. Mereka terbang ke angkasa sambil tersenyum dan melambai-lambaikan tangan. Sejak saat itulah aku tidak pernah lagi melihat jenis makhluk seperti mereka. Sebagai ganti dari para malaikat, seorang jin qorin ditugaskan oleh Allah untuk mendampingi aku sampai akhir hayat. (*) 

Terimakasih khusus buat: Nenekku Puang Rosmani; Puang Haji Basse (terimakasih banyak atas kanjilo alias ikan gabus gratisnya untuk bundaku); Kakekku Papi Asmar (aku minta salah satu cincin batu milik kakek ya); Etta dan Bundanya kak Awang; Om Imran; Yaya; Tante Harma; Etta dan Mamanya Kak Yayat; para ustad yang telah mendo’akan aku dan bundaku semasa hamil: Ustad M. Yusuf Shandy, Ustad Ichwan Bahar, KM Murni Lehong, Ustad Andy Satria, dan Ustad Toto; para bidan Puskesmas Tanete; para dokter, perawat, security, cleaning service, dan petugas dapur di RSUD Andi Sulthan Daeng Radja; dan semua orang yang telah menjenguk bunda dan aku di rumah sakit dan Rumah Putih. 

Rumah Putih, 9 Februari 2015

Blog, Hibernasi, Buku dan Sahabat-Sahabat Lama


             Bertahun-tahun, banyak teman sering bertanya “Kemana blog sastra radio?” atau ”Kenapa menghilang dari dunia blogging?” atau “Kuburan blog sastra radio di mana ya, mas? Saya mau berziarah,”(Busyet! Hahaha). Dan sederetan pertanyaan lainnya.

Festival Dato Tiro 2015



Salah satu dari tiga penyebar agama Islam di Bulukumba, Dato Ri Tiro serasa hidup kembali dalam nafas dan jiwa anak-anak muda dan masyarakat Bulukumba melalui Festival Dato Tiro 2015.  

Festival Dato Tiro 2015 di Pantai Samboang Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan digelar selama dua hari, 1-2 Februari 2015. Beberapa ajang yang akan diusung dalam hajatan seni budaya ini antara lain Fashion Show Islami, Lomba Dayung Sampan, Lomba Kuda Paddereq, Lomba Sastra Islami dan lain-lainnya. 

Informasi dari pihak panitia, rencananya hajatan seni budaya ini juga akan diwarnai dengan deklarasi Kampung Sehat Bebas Narkoba oleh Biro Napsa Propinsi Sulsel oleh Gubernur Sulawesi Selatan. 

Festival Dato Tiro terselenggara atas kerjasama Sekolah Sastra Bulukumba, DPD KNPI Bulukumba dan Pemuda Pancasila. Menurut Andhika DM, salah seorang panitia menjelaskan bahwa pada 1 Februari tepatnya ba'da Isya, akan ada pagelaran sastra dari seniman sastra, dari dalam dan luar Bulukumba membacakan puisi di tepi Pantai Samboang Bulukumba.
."Festival Dato Tiro terbuka untuk umum. Jadi, jangan ketinggalan. Siapkan tenda bagi anda yang senang berkemah, dan mari kita bicarakan cita-cita, gagasan dan kebaikan," kata Andhika.(*)

Cara Mencerahkan Kulit dengan Kojiesan



http://www.kojiesan.co.id/wedareyoutoshine
               
           Istri saya selalu mencari informasi di sana-sini, bagaimana cara mencerahkan kulit yang aman dan tidak merusak kulit.  Berdasarkan pengalaman pribadi, istri saya sekarang jauh lebih ekstra hati-hati jika menggunakan pemutih. Ya, jangan sampai terulang lagi pengalaman buruknya beberapa tahun lalu ketika menggunakan produk yang mengandung bahan-bahan berbahaya.
Skin Lightening Soap  (kojiesan.co.id)
            Sekarang hati istri saya lega ketika menemukan cara mencerahkan kulit dan mengembalikan warna kulit aslinya tapi tetap aman, yaitu menggunakan Kojiesan. Kojiesan adalah produk yang bisa dipakai sehari-hari dan yang pertama sekaligus satu-satunya yang mengandung bahan alami yaitu Kojic Acid dan 100% Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai bahan utamanya.
             Kojic Acid dari Kojiesan ini pertama kali ditemukan tahun 1990 di Jepang secara tidak sengaja pada proses fermentasi beras dan memang telah lama digunakan secara tradisional sebagai pemutih kulit di Jepang.
            Produk dari Kojiesan dapat digunakan di tubuh dan wajah. Kandungan Kojic Acid dari Kojiesan dapat membantu mengurangi bekas jerawat, flek karena penuaan, dan tentunya mengembalikan warna kulit yang rusak dikarenakan oleh sinar matahari.
Dream White Anti Aging Soap (kojiesan.co.id)
            Di Indonesia, Kojiesan berada di bawah payung PT UICCP Indonesia sebagai distributor tunggal. Produk yang saat ini sudah tersedia diantaranya Kojiesan Skin Lightening Soap, Kojiesan Face Lightening Cream, dan Kojiesan Body Lightening Lotion yang termasuk dalam seri Kojiesan Classic, serta Kojiesan Anti-Aging Soap dan Kojiesan Face Cream Moisturizer yang termasuk dalam seri Kojiesan Dream White.
                Produk yang dicoba istri saya adalah SKIN LIGHTENING SOAP dan DREAM WHITE ANTI AGING SOAP. Hasilnya begitu memuaskan. 
               Skin Lightening Soap digunakan istri saya di pagi hari dan Anti Aging Soap pada sore ataupun malam hari. Walaupun Kojiesan bisa juga digunakan untuk sabun muka, istri saya hanya menggunakannya sebagai sabun badan. Dan yang paling dia sukai saat pertama kali mencobanya adalah busanya sangat berlimpah.
                Untuk segi packaging, sabun dari Kojiesan ini memakai box dengan gambar muka Geisha. Didalam boxnya ada plastik lagi untuk melindungi sabunnya, sehingga jadi terasa lebih higienis.
            Sabun dari kojiesan ini dari segi harga juga sangat terjangkau. Dua sabun tersebut dibeli oleh istri saya beli dengan harga sekitar 46ribuan di Guardian. Selain di Guardian, produk Kojiesan juga bisa didapatkan di Hero Supermarket, Lion Superindo, Giant Extra, Dan-Dan, Grand Swalayan, Naga Swalayan, Alfa Midi, Diamond, Ranch Market, Farmers Market dan Lotte Mart.(*)

Referensi: http://www.kojiesan.co.id/

Buku Inspiring Bulukumba Lahir dari Sebuah Metamorfosa



    

Sekali waktu, termInspiring Bulukumba” menjalari benak saya pada awal tahun 2011. Sebuah realitas, tidak terdapat satupun referensi teks tentang biografi tokoh-tokoh penting di Bulukumba.

Bejana Teks Keluarga Kami dalam Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah


Sebuah kesyukuran besar. Setiap peristiwa literasi adalah juga bagian penting dari sejarah. Termasuk peristiwa unik ini yang pertama kali dilakukan di dunia khususnya di jagad sastra tanah air. Satu keluarga, tujuh penulis dari tiga generasi dalam satu rumah akhirnya diizinkan Allah SWT untuk merampungkan sebuah buku antologi puisi "Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah.” Penerbit Ombak Jogjakarta.

Para Ahyarian berkumpul di Makassar, 15 Desember 2013

Seorang Ahyar Anwar adalah seutas cinta yang senantiasa terulur hingga batas-batas yang tak terduga. Dia salah satu sungai kata paling artistik di bumi yang pernah dikirimkan Tuhan. Karya-karyanya berdebur dan mungkin kita tidak sadar saat dia ikhlas mencumbui pasir-pasir pantai ketidaksadaran kita. 

Sastra memang telah seharusnya mampu mendobrak apa-apa yang telah ada. Tidak sekedar bertujuan sampai ke muara di mana sastra dinikmati di sana dengan sukacita. Sebelum tiba, seyogyanya sastra memang telah menghantam logika di tengah perjalanan. Semasa hidupnya Ahyar kerap melakukan itu dan tidak mengeluh. Sebaliknya tetap melenguh. 

Sepeninggalnya, karya-karyanya tetap menjitak dengan cantik. Dia layak senantiasa diingat walaupun suatu ketika sebagian dari sastra mungkin terjatuh dan mengaduh!


Bira Itu




bira itu bunga santigi
tumbuh langka di batu karang,
perjalanan estetik