Hot!

Other News

More news for your entertainment

Monolog Seorang Prajurit

Prabowo muda (Sumber foto: IDN Times)
Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba monolog ini terdampar di "Catatan Gorong-Gorong" milik seorang rakyat biasa, Alfian Nawawi. Kumpulan catatan ini saya singkat saja: Catro. Supaya berbau milenial. Bolehlah dianggap antonim dari istilah "katro". Jika tersenyum atau nyengir maka jangan kaget, sebab saya punya "sense of humor" yang lumayan tinggi.

Yang saya tahu, 'monolog kecil' ini pasti akan dipandang dari berbagai jurusan, secara negatif maupun positif, dianggap fiksi maupun fakta. Satu hal yang pasti, monolog ini adalah salah satu edisi Catro, sekumpulan tulisan dengan realitasnya yang "pecah-pecah." Maksudnya sejenis catatan yang tidak tuntas. Hanya selalu menyelesaikan pertanyaan, dan menyerahkan kepada pembacanya pada dua pilihan. Pertama, memilih untuk mengabaikan. Kedua, memilih mengembara sendiri mencari jawaban yang sudah dirintis penulisnya.

Sebagai seorang prajurit sejati saya senantiasa patuh kepada setiap perintah atasan. Perintah menculik aktivis pun akan saya laksanakan sepanjang penculikan itu memang bertujuan untuk membela Pancasila dan UUD 1945.

Kalau perintah itu berbunyi, "hilangkan" maka saya akan "menghilangkan" para aktivis itu namun dengan cara saya, sesuai jiwa Pancasila dan Saptamarga, namun tidak berdasarkan kezaliman. Melainkan dengan cara seorang patriot. Bukan cara rezim tiran, bukan cara pengkhianat Pancasila. Bukan membunuh anak-anak muda itu semena-mena.

Alhamdulillah, mereka masih hidup sampai hari ini. Bahkan mereka sebagian besar bergabung dengan saya dalam sebuah gerakan untuk membangun kembali Indonesia Raya. Sebab saya tahu mereka adalah aset bangsa.

Cara saya "menghilangkan" para aktivis tersebut jelas menyalahi perintah atasan. Ketika perintah itu berbunyi "habisi mereka" justru saya "mengamankan" mereka. Akibatnya mereka masih hidup sampai hari ini.

Selaku prajurit saya siap menerima segala konsekuensinya. Apapun itu. Namun sebagai patriot saya siap membela pasukan saya dan menyelamatkan anak-anak muda yang diculik tersebut. Biarkan saya sendiri yang menanggung akibatnya. Apapun itu. Sejarah boleh dibolak-balik namun kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Jika ada yang masih mempermasalahkan peristiwa tersebut, silakan bertanya kepada mantan atasan saya. Dia masih hidup, masih segar bugar. Dia pasti mengetahui pasukan siapa yang membunuh sebagian aktivis. Tanyakan juga kepadanya apa yang sebenarnya terjadi di belakang Kerusuhan Mei 1998 di Ibukota. Sedangkan untuk mengetahui bagaimana perlakuan pasukan saya kepada para aktivis yang "diamankan" itu silakan bertanya langsung kepada para aktivis tersebut. Mereka masih hidup.

Saya tidak menginginkan monolog ini ada di sini. Bahkan tanpa persetujuan saya. Bahkan saya tidak tahu menahu monolog ini ada di sini. Ini hanya keinginan sepihak dari si empunya Catro. Dia mungkin tidak banyak tahu meskipun juga bukannya sok tahu tapi bisa jadi dia hanya menawarkan sebuah wilayah obyektif yang bisa dieksplorasi dengan metodologi dan investigasi terhadap fakta-fakta secara komprehensif. Mumpung para saksi hidupnya masih ada. Mungkin tujuan lainnya juga adalah untuk memandang sebuah peristiwa dari sudut yang berbeda.

Salam dari saya, Seorang Prajurit. Saya mewakafkan diri saya untuk kedaulatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Merdeka dari imperialisme politik, ekonomi, dan budaya yang bisa merongrong kedaulatan kita, Pancasila kita, kekayaan kita, dan jati diri bangsa kita. Saya tidak akan mengkhianati amanat rakyat. Saya akan timbul maupun tenggelam bersama rakyat. (*)

Kedaulatan adalah Pergantian


Ilustrasi (sumber foto: trans89.com)
Satu-satunya padanan tepat dari kata "daulat" ke dalam Bahasa Inggris adalah "sovereignty." Dari kata yang dianggap sepadan itu maka sepakatlah berbagai generasi di republik ini mengadopsi istilah "kekuasaan rakyat" untuk memaknai "kedaulatan rakyat". 

Lebih jauh lagi bahkan secara ekstrim ada pemaknaan yang digali dari konsep dan praktik demokrasi liberal yang berbunyi: "suara rakyat adalah suara Tuhan." Konsekuensinya adalah kita tidak boleh tercengang ketika suatu "kebenaran" bisa ditentukan oleh suara terbanyak. Sebagai contoh, seorang begal bisa terpilih sebagai pemimpin karena dipilih oleh satu juta begal lainnya.

Kata "dawlah" atau "dulah" dalam Bahasa Arab memiliki makna "giliran" atau "putaran" atau "pergantian". Kita akan mudah menemuinya dalam sejarah "pergantian klan" atau "putaran kekuasaan" dalam dinamika Dawlah Islam.

Makna tersebut secara tegas mengisyaratkan bahwa kekuasaan yang dimiliki penguasa hanya karena mendapat "putaran" atau "giliran". Pergiliran ini terus terjadi sepanjang masa dan mengisi sejarah. Kedaulatan adalah pergantian dan niscaya tidak ada yang abadi di dunia fana.

Hari ini banyak kekuasaan di bumi yang enggan untuk diganti. Mereka mengatasnamakan demokrasi dan berbagai instrumen aneh -termasuk kecurangan- dengan tujuan agar tidak bisa diganti. Apakah mereka merasa sebagai Highlander?(*)

Pembaca Setia