Hot!

Sastra Musik atau Musik Sastra?

Beberapa dekade para pencinta seni secara sadar telah meramu beberapa cabang seni. Uniknya para pengrajin seni itu tak kunjung dapat merumuskan defenisi dan batasan tertentu berbagai aliran seni. Ketika muncul istilah musik sastra dan atau sastra musik beberapa tahun lalu maka pikiran kita akan melambung ke adukan estetika yang terdiri dari puisi dan komposisi musik. Musikalisasai puisi bisa disebut sebagai sastra musik atau jika musik lebih dominan maka mungkin lebih tepat disebut musik sastra. Koreografi sebagai wakil seni tari pastilah juga unsur penting dalam sastra tutur tradisional. Teater saja tak bisa lepas dari tari dan adegan yang juga memanfaatkan panggung kekuasaan teater. Saling mewarnai dan melengkapi. Bukan saling membutuhkan. Teater bisa apa tanpa naskah sastra? Atau bentuk lainnya mungkinkah ada pagelaran pantomim yang tanpa skenario sebelumnya?

Saya tidak dapat membayangkan jika sastra tanpa musik dalam sebuah program acara sastra di radio. Ketika seorang pendengar berpartisipasi membaca puisi karyanya di radio maka sungguh ganjil dan tidak estetis manakala tanpa ilustrasi musik pengiring. Paling tidak mereka memastikan akan muncul sebuah lagu yang liriknya senada dengan puisi aatau prosa yang usai dibacakan. Musikalisasi puisi? Tentu kita bingung mau memasukannya ke kategori mana. Sebab sastra di radio yang pasti diwarnai musik sungguh berbeda dengan musikalisasi puisi. Sastra di radio lebih pas jika tidak diiringi persetubuhan langsung musik live dengan pembacaan naskah sastra. Walau ada juga yang mungkin mencoba musik live kolaborasi dengan puisi di radio.

Sastra tetaplah sastra. Musik tetap disebut musik. Penyebutan genre seyogyanya tidak pernah membingungkan sebab seni semestinya sedarah walau terlahir dengan berbagai genre. Sastra senantiasa adalah sastra walau keterlibatan musik membuatnya lebih elegan. Musik tetaplah musik walau syair lagunya bersumber dari karya sastra. Saya sendiri belum pernah menemukan bahwa Rendra mengklaim puisinya yang berjudul Kesaksian sebagai bentuk musikalisasi puisi manakala dinyanyikan oleh Kantata Takwa. Pencinta musik monumental pun tidak melihatnya sebagai puisi tapi tetap sebagai sebuah lagu yang utuh dari Kantata Takwa. Patutkah hegemoni sebuah cabang seni atas seni lainnya yang kebetulan "diajak" berkolaborasi menjadi induk semang dari sebuah hasil eksplorasi seni?

Haruskah direkonstruksi kembali beragam defenisi dan batasan seni? Terminologi memang kadang menyesatkan saking banyaknya genre yang beranak pinak di jagad seni. Fenomena menarik, para pengrajin seni kelimpungan sendiri dan mentradisikan kepedean mengklaim satu genre baru berdasarkan perkembangan baru yang tanpa batas. Lalu siklus yang biasa terjadi, terjadilah. Semuanya kemudian kembali pulang ke rumah yang sama. Rumah bersama itulah rahim seni yang tanpa pengkotak-kotakan tapi bersaudara kandung. Ke mana sastra musik dan atau musik sastra besok pagi? Saya sendiri belum pernah yakin jika sebuah acara sastra di radio dirancang untuk hegemoni atas cabang seni lainnya. Di salah sebuah radio saya pernah dengar sebuah program sastra berjudul Selaksa (Senandung Lagu dan Karya Sastra). Penempatan "Senandung lagu" yang mendahului 'Karya Sastra' tidak serta merta membuat pendengar menyimpulkan bahwa itu pasti program musik biasa yang bercampur sastra. Pendengar telah yakin bahwa itu pasti acara sastra.

0 apresiator:

Posting Komentar