Hot!

Debat Capres Sebagai Peristiwa Seni Budaya

Muncul sedikit kegelian di hati kecil penulis ketika sejumlah seniman dan budayawan turun berdemo hanya karena KPU tidak memasukkan seni dan budaya dalam materi debat capres-cawapres. Mereka khawatir ranah seni budaya semakin jauh dari perhatian pemerintah mendatang. Mengherankan juga, kemana sejumlah seniman dan budayawan itu jauh hari ketika KPU membutuhkan masukan dari berbagai elemen dalam penggodokan materi debat capres? Penulis baru dapat melihat batang hidung mereka ketika disorot kamera televisi sambil berorasi sembari menyanyikan yel-yel yang anehnya justru tidak mencerminkan nilai-nilai seni dan budaya bangsa. Yel-yel pendemo itu lebih mirip dengan lagu yang pernah diajarkan Karl Marx daripada irama gamelan atau gandrang bulo misalnya.

Di satu sisi ada benarnya seni budaya harus dimasukkan sebagai salah satu materi debat capres. Minimal harus ada item khusus yang mengakomodir itu. Tapi menjadi tidak benar adalah ketika para seniman dan budayawan kita tidak percaya diri lagi menjaga seni dan budaya bangsa ini. Terbukti dengan kelengahan kita termasuk para budayawan itu saat kesenian tradisional reog ponorogo, lagu Si Jali-Jali dan lain-lainnya diklaim oleh Malaysia beberapa waktu lalu. Padahal anak kecil pun juga tahu reog dan Si Jali-Jali adalah asli milik bangsa Indonesia. Cuma, tak seorangpun waspada ketika nyaris dicaplok oleh negara tetangga yang belakangan ini justru namanya semakin populer saja di Indonesia karena berani mengusik Ambalat.

Dimasukkannya materi seni budaya dalam debat hanyalah persoalan teknis belaka. Masalah substansial terletak pada visi misi setiap capres-cawapres. Akankah muncul titik terang dari mereka atau salah seorang dari mereka yang berhasil memuaskan pertanyaan para pemerhati seni budaya? Di sebuah stasiun televisi swasta malam ini akan digelar debat capres secara live. Sebagai anak bangsa tentu kita berusaha tidak akan melewatkan peristiwa penting ini. Bahkan tampilnya Iwan Fals di sela-sela acara debat itu juga menjadikannya sebagai peristiwa yang tidak biasa. Bagi penulis, debat capres adalah juga peristiwa seni budaya. Kita juga akan tahu siapa capres-cawapres yang benar-benar memperhatikan dan peduli seni budaya selain materi penting lainnya.

Ketika hari-hari bergerak cepat dan sebahagian dari kita masih bingung untuk menentukan pilihan maka menonton debat capres adalah kewajiban. Terpulang juga kepada setiap diri kita apakah penilaian kita masih menonjolkan simbolisme dan ideologi nasionalisme layaknya Mega? Atau mungkin hanya lebih cenderung konseptual daripada implementasi secara detil seperti SBY. Ataukah jauh lebih menguasai persoalan secara detil, tegas dan jelas sebagaimana JK?

3 apresiator: