Hot!

Anil Hukma: Perempuan Penyair Agresor


Anil Hukma, salah seorang perempuan penyair dari Makassar. Luar biasa, dia satu-satunya penyair cewek yang diundang mengikuti “9 th Kuala Lumpur Poetry Reading” (2002) dan karyanya dimasukkan dalam buku antologi dwi bahasa dalam festival ini. Anil Hukma Lahir di Kampung Kassikebo kota Maros pada 1 September 1970. Puisi dan cerpennya dimuat dalam harian Pedoman Rakyat di Makassar sejak SMA.

Anil sering mengikuti berbagai even sastra dan budaya, salah satunya pada Pertemuan Dewan Kesenian se-Indonesia (1990). Puisi tunggalnya diterbitkan dalam antologi Ombak Losari (1990) dan Setengah Abad Indonesia (1995). Puisinya juga dimuat pada beberapa antologi seperti Antologi Puisi Indonesia (1997), Temu Penyair Makassar (1999), Sastra Kepulauan (1999), Ombak Makassar (2000), Baruga (2000), Kemilau Musim (2002), Bukalah Pintu Itu (2003) dan Pesona Gemilang Musim (2004). Juga termuat di Malaysia di majalah Dewan Sastera (2002).
Mengikuti “Ubud Writers Festival” (2004). Anil juga terlibat dalam buku Aku Hanya Mahu ke Seberang karya Hashim Jacoob yang diterjemahkan ke 45 bahasa (University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 2006) dimana ia mengerjakan penerjemahan ke bahasa Makassar.

Beberapa tahun lalu Anil Hukma pernah mengatakan, di antara belasan sastrawan Makassar, hanya segelintir kecil yang punya tradisi mengirimkan puisi dan cerpen mereka ke media massa ibukota. Dia lalu menyebut contoh Aslan Abidin, Badaruddin Amir, Tommy Tamata, Tri Astoto, dan Anil Hukma sendiri. ''Saya tidak mengerti mengapa sastrawan-sastrawan lainnya tidak mau menjajal media massa ibukota. Entah kurang percaya diri atau kurang mau bekerja keras untuk mengejar pengakuan secara nasional,'' katanya. Ibu dua anak ini mengakui banyak karya sastrawan Makassar yang bermutu baik. Barangkali juga ada yang berpendapat, tidak harus dimuat di koran-koran Jakarta untuk mendapatkan pengakuan secara nasional,'' begitu katanya.

Anil Hukma memang agresor. Serbuan karyanya ke media-media cetak nasional di ibukota diikuti penulis-penulis muda lainnya. Tapi sayang, penyair perempuan seperti dirinya masih bisa dihitung dengan jari di daerahnya, Makassar.

(hingga saat ini, Ivan masih menguber-uber foto dan karya-karyanya untuk melengkapi postingan ini)

0 apresiator:

Posting Komentar