Hot!

Kacamata Kata dan Kalimat Berjenggot Bernama Aan Mansyur


Aan Mansyur adalah seorang pemuda berkacamata dan memelihara jenggot yang lahir di Bone Sulawesi Selatan, 14 Januari. Tahun kelahirannya tidak pernah dituliskan entah dengan alasan apa. Mungkin hanya disisipkan dalam sebuah puisinya yang kebetulan tidak pernah diterbitkan. Atau mungkin akan diceritakannya nanti dalam sebuah novel saja. Penulis hanya pernah menebak dia dilahirkan sebelum peristiwa Malari 1975.

Di Makassar, dia tergolong penulis muda yang paling kuat menulis artikel, puisi, cerita pendek di berbagai media. Karya-karyanya dimuat dalam berbagai buku antologi. Bukunya yang sudah terbit di antaranya antologi Hujan Rintih-rintih (2005), novel: Perempuan, Rumah Kenangan (2007), kumpulan puisi: Aku Ingin Pindah Rumah (2008) dan lainnya semoga besok kian bertumpuk. Berkali-kali harian Kompas memuat sajak-sajaknya. Padahal koran besar di Jakarta itu masih dianggap sebuah ruang yang sangat jarang bisa ditembus oleh para penyair muda seangkatannya. Apalagi bagi teman-teman sekampungnya.


Sekali waktu sempat chatting semenit dengannya melalui facebook barulah keluar rekomendasinya agar sajak-sajaknya bisa dibacakan di radio. Membaca sajak-sajaknya di radio beberapa minggu lalu menimbulkan efek berupa magma. Magma itu berbentuk beberapa puluh pertanyaan pendengar acara sastra. Yang paling banyak meletup adalah kekaguman sebab sajak-sajak Aan termasuk yang paling bisa dinikmati pendengar radio sembari minum kopi atau teh. Apakah tidak semua karya sastra bisa dinikmati di radio? Pasti. Teks-teks sastra yang ditulis oleh Aan seolah telah dirancang untuk bisa memasuki media apa saja. Mulai koran, blog hingga radio dan apapun. Seorang pendengar bahkan pernah menitip pesan kepada penulis agar Aan mengirimkan rekaman audio pembacaan puisinya ke RCA. Baca saja beberapa sajak Aan d bawah ini sambil minum kopi atau minuman lainnya.


PESAN IBU

Nanti setelah dewasa
kau sungguh merindukan pucuk
dua payudara tua ibunda

Seperti seorang pendosa
dari jauh memandang puncak
rumah-rumah ibadah


SAJAK TENTANG NENEK

Sambil menggenggam ktp kakek
yang sudah lama mati,
ia berkata:

Aku tahu kini
mengapa dulu kau rajin
mengajak aku bermain
hujan berduaan.

Di musim hujan begini
kenangan, seperti juga liang makam,
sungguh mudah digali.


AGAR KAU MUDAH MENEMUKAN SESUATU

Lupa. Entah di puisi siapa aku pernah membaca kisah
seorang perempuan cantik yang sangat mencintai hujan.
Mungkin di puisi yang pernah aku tulis sendiri, untukmu.
Tapi bukan di situ intinya. Aku ingin mengatakan padamu
yang dicintai di dalam hujan sesungguhnya bukan hujan.

Begitu pula dengan puisi. Di dalam puisi pembaca tentu tidak
mencari kata, melainkan ingin menemukan yang bukan kata.
Sekiranya mampu, aku ingin menulis sebuah puisi untukmu
tanpa menggunakan kata-kata. Tapi aku sungguh tak mampu.
Maka aku tuliskan saja puisi ini tanpa menggunakan kata-kata
yang bercahaya. Agar kau tidak silau oleh kata-kata. Agar kau
mudah menemukan sesuatu yang kau cari di dalam puisi ini.


KACA JENDELA

dari seberang kaca jendela
hujan yang kedinginan
jatuh cinta pada sepasang mata
di mana matahari memancar

hujan itu ingin sekali mati
terbakar pada sepasang mata

dari seberang lain kaca jendela
sepasang mata perempuan
jatuh cinta pada air hujan
di mana sungai berakar

sepasang mata itu ingin sekali ikut
mengair-hujan, mengalir atau hanyut

kaca jendela tidak kuasa
berbuat apa kecuali basah
menangis


Selintas tidak rumit menerjemahkan sajak-sajak Aan ke dalam rasa dan makna. Kesulitan terberat mungkin hanya terletak pada sejauh mana kemampuan kita menangkap ritme-ritme sederhana realitas yang dia suguhkan lalu kita bersedia untuk setuju dengan apa yang telah dilontarkannya. Aan Mansyur, sepasang kacamata kata dan kalimat berjenggot. Penulis terlanjur telah mendeskripsikannya begitu.

10 apresiator:

  1. siiip mas review penulisnya...jadi kenal aan mansyur neh....

    BalasHapus
  2. Wah...bertambah lagi wawasan tentang sastra ,saya jadi tahu siapa saja penyair dan penulis di seluruh nusantara ..trimakasih infonya.

    BalasHapus
  3. Saya ikut senang membaca tulisan tentang Aan Mansyur ini, semoga Aan Mansyur2 yang lain juga bermunculan dan terus eksis.

    BalasHapus
  4. memang tidak mudah menebak arti sebuah puisi. btw, repiu puisi aku juga dong.

    BalasHapus
  5. @ buwel, terimakasih kang
    @ mbak ateh, nusantara memang memiliki banyak penyair dan penulis. sebahagian di antara mereka kurang trekspose meski bukunya telah diterbitkan.
    @ Newsoul, ya pasti akn terus muncul Aan2 lainnya.
    @ mbak Fenny, Aan bisa kok dikontak via facebook atau cari saja di Google. Dia jg punya blog.

    BalasHapus
  6. @ mbak Fenny, Insya Allah aku akan review nanti puisi2 anda. Dg senang hati.

    BalasHapus
  7. wahhh bagus2 sajak nya ,,^^

    BalasHapus
  8. Iya nih, dateng ke sini banyak banget dapat info sastra. btw, kenapa gak ulas Arena Wati? bukankah ia kelahiran Bone? tapi, sekarang beliau sudah menjadi sastrawan negara Malaysia :)

    BalasHapus
  9. @ RiP666, thanks udah sering nemenin ronda dini hari he he
    @ anazkia, ulasan tentang Arena Wati ada kok. Cari di arsip blog bulan Juni. Terimakasih.

    BalasHapus