Hot!

Mawar dan Penjara, Tragedi Yang Nyaris Terlupakan


Ia adalah juga magma dari gunung berapi yang berpotensi meletus setiap saat. Penyair muda kelahiran Bulukumba, 1980 yang selalu melakukan perjalanan sunyi di tengah alam tapi senantiasa alam menyambutnya gemuruh. Di jagad kepenyairan khususnya di kawasan timur republik ini, Andhika Mappasomba tidak asing lagi. Sosoknya  juga pernah diulas di weblog ini. Dalam beberapa kali pertemuan saya dengannya ia kerap mengucapkan kalimat, "kumpulan puisiku; Mawar dan Penjara adalah tragedi yang nyaris terlupakan." 

Tapi seperti dugaan saya jauh sebelumnya, tragedi itu tak akan pernah terlupakan sebab kumpulan puisi itu akhirnya segera terbit tahun ini. Ini adalah buku kedua setelah bersama cerpenis Anis K. Al Asyari, dia pernah menggebrak  dengan menerbitkan buku Ingin Kukencingi Mulut Monalisa (2003).

Andhika menuliskan beberapa larik pikirannya di facebook hari ini, Selasa 16 Februari. Catatan lengkapnya berikut ini:

akhirnya, setelah enam tahun menunggu hari itu, impian itu pun sudah di depan mata. kumpulan puisi tunggalku akan segera terbit dan sekarang sedang dalam proses cetak.

beberapa puisi memang pernah dimuat di media cetak lokal.dan beberapa puisi sengaja tak pernah dipublikasikan.
setelah hampir setahun berburu ide sampul buku, akhirnya aku memutuskan untuk tak memberinya ornamen apapun di sampulnya. beberapa kawan yang saya mintai pertolongan tak kunjung memberikan hasil. yah, hanya sebuah buku dengan gagasan bentuk yang klasik. tidak seperti buku dengan gaya kontemporer. hanya sebuah buku merah degan guratan huruf berwarna hitam.

Mawar dan Penjara adalah judul buku itu. di dalamnya penuh dengan catatan kesedihan dan catatan perjalananku, catatan cara pandangku menatap semesta dan isinya. aku menuliskan beratus-ratus nama di dalamnya. bahkan puluhan nama yang tak pernah kutemui wujud pemiliknya.
beberapa hanya bertemu di Facebook, imajinasi mimpi dan nama-nama masa kecil.

selama sepuluh tahun belakangan, aku pernah bertualang kemana saja. melintasi dan juga menginap di sudut-sudut yang aku tak kenal lalu menuliskan puisi. mungkin itu kampung anda. atau pernah kutuliskan sebuah peristiwa kecil. mungkin itu juga peristiwa anda.

buku kumpulan puisi ini, pengantarnya dituliskan oleh DR Ahyar Anwar, sahabat yang sekaligus Guru yang banyak menemaniku dalam perjalanan menuju alam sastra tujuh tahun belakangan ini.

puisi Mawar dan Penjara adalah puisi yang aku tulis di sebuah sel Polsekta di makassar pada tahun 2002. dan juga puisi pertama yang saya bacakan buat kanda Ahyar Anwar saat pertama kali berjumpa di Gedung Jurusan BS Unm lantai dua di akhir tahun 2003. puisi ini juga adalah puisi yang dibacakan oleh kanda saya Andi Mappasomba di kantor LBH Makassar, ketika itu di Jalan Macan Makassar, sebelum menyerahkan diri ke POLDA Sulsel atas pertanggungjawabannya melakukan perlawanan bersama petani kajang tahun 2003, melawan PT LONSUM. bahkan puisi ini telah digubah menjadi lagu oleh UKM SB 9 Univ. Islam Makassar.

buku ini, juga alhamdulillah akan menjadi MAHAR PERNIKAHAN saya, insya allah jika Allah Meridhai. perempuan itu telah ditemukan.

semoga siapapun yang telah menjadi inspirasi dari penulisan semua puisi ini, selalu mendapat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah yang Maha Agung dan Pemurah.

buku puisi ini belum akan dijual dan diedarkan di toko manapun. buku ini, akan saya berikan secara khusus, kepada mereka yang memiliki sinergi hati dan kesamaan warna hidup dalam memandang kenangan. mereka yang selalu mau menghargai peristiwa kecil dan kisah kecil dalam kehidupan mereka. aku akan mengantarkan sendiri buku ini untuk mereka.

tak ada peristiwa yang betul-betul sama terulang dalam waktu

salam cinta dariku yang sedang sakit!

Andhika Mappasomba


Beberapa hari lalu Andhika membacakan puisi di hadapan Pansus Century yang datang ke Makassar. Bukan hanya puisi, Andhika juga menyerahkan sebilah badik kepada Akbar Faizal, salah satu anggota pansus, sebagai simbol keberanian. 

 
Andhika yang tertidur di pantai

39 apresiator:

  1. sepertinya bukunya akan menarik dibaca. boleh minta gratisan? :D

    BalasHapus
  2. wah,excited banget untuk baca karyanya.Entar kalau dah beredar di sharing ya bro hehehe

    BalasHapus
  3. Kalau gratis, aku tidak bisa janji hehehe. Maaf. Tegantung penulisnya. Insya Allah akan aku share di sini.

    BalasHapus
  4. wahh, kapan yah bukunya di terbitkan di toko-toko buku..
    jd kepengen baca nih ngedengernya.. :D

    BalasHapus
  5. kadang-kadang seniman itu terlalu ekstrim ya Mas...

    *keluh.

    BalasHapus
  6. judulnya terasa menantang...liat foto yg tertidur di tepi pantai, nyaman banget tuh

    BalasHapus
  7. Mawar dan Penjara ekspresi bentuk perlawanankah?

    BalasHapus
  8. Andhika dan buku barunya yang akan jadi mahar, selamat atas keduanya. Saya suka juga Che-Guevara van, ada gambarnya di atas.

    BalasHapus
  9. Wah untuk mahar, suatu kebanggan untuk sang mempelai wanitanya, selamat atas suksesnya untuk Andika mapasommba, salam budaya untuknya.

    BalasHapus
  10. semoga puisinya bisa menggebrak indonesia di tengah keterpurukan indonesia yang sedang sibuk mengurusi bank century...

    BalasHapus
  11. Nungguin bukunya diulas sama ivan aja deh..*monya ngirit.com*

    BalasHapus
  12. untuk mahar ...
    kapan menyusul, Van? (sedikit bias dari topik)

    Mawar dan Penjara nampaknya buku yang menarik. Salam budaya.

    BalasHapus
  13. Salah satu yang membedakannya dengan orang kebanyakan adalah karena ia berani bertanggung jawab.

    Beda dengan mayoritas pemrotes atau yang diprotes yang sering kali kabur kalo disuruh tanggung jawab.

    BalasHapus
  14. Luar biasa karya beliau..

    Saya jadi tertarik buat memiliki bukunya..

    BalasHapus
  15. Kumpulan puisi..? Hebat bener bisa menerbitkan kumpulan puisi ya..?

    Enaknya seniman ya ? Mereka bisa mengekspresikan diri lewat puisi.

    BalasHapus
  16. alooh om ivan... numpang absen....

    BalasHapus
  17. Buat semuanya. Terimakasih atas apresiasi, kunjungan dan komentarnya. Khusus buat Rangga, kalau yang ini bukan tragedi yang nyaris terlupakan melainkan blogger hiatus yang nyaris terlupakan hihihi..

    BalasHapus
  18. Wuiiih, baru di kasih-kasih keorang2 tertentu aja bukunya. wuakakaka jadi mupeng...

    BalasHapus
  19. wah, buku yang dijadikan mahar pernikahan anda, tentu sangat menarik ya mas... selamat neh yang mo nikah... hehehhe..
    moga langgeng dan bahagia ya mas... Amiiin

    BalasHapus
  20. salute ama sastrawan bulukumba... Hidup!

    BalasHapus
  21. Seniman itu luar biasa ya, kalaupun menurut aku ada yang berlebihan, tapi seninya disitu... keren kayaknya... bukunya mau aku.... hehehehehehehe

    BalasHapus
  22. Hm....Patut untuk di buru nih buku

    BalasHapus
  23. Wih Pinter banget deh bang......cerdas dan hebat...aq malah ndak bisa buat yang kaya gni...oh ya bang ivan...tolong bantuanya untuk vote blog saya yo....makasih banyak...

    BalasHapus
  24. nanti blue pasti cari bukunya
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  25. kunjungan perdana :)
    seperti buku2 revolusioner ya?
    salam kenal sobat.

    BalasHapus
  26. satu paket, penyair dan pejuang.

    BalasHapus
  27. wah! bukunya bakal dijadikan mahar?? keren!!

    BalasHapus
  28. wah mantap bro artikelnya.

    BalasHapus
  29. Bukunya tentu sangat menarik, setelah melalui perjalanan panjang akhirnya bisa diterbitkan.

    kalau saya boleh usulkan bukunya nanti dibaca secara bersambung di RCA deh Van. Biar kita semua tahu isinya.

    BalasHapus
  30. g tau lah om...
    account ku bermasalah...
    hapus ajha lah dulu banner ku itu..
    kpn2 tak ganti lg :D

    >>kadang..seorang satrawan itu butuh menyunggingkan bi2r na...
    oleh sebab itu..berikan buku na pada ku scr cuma2 ^^

    BalasHapus
  31. Hai,

    datang mau ngucapin

    happy lunar
    happy valentine's day
    happy ash wednesday

    buat yang merayakan, yang nggak merayakan semoga bulan penuh cinta ini selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian...

    Ninneta

    BalasHapus
  32. kapan bisa menikmati puisinya ya?

    BalasHapus
  33. keren tuh bisa bacain puisi ke anggota pansus, apalagi ngasih badik. Mudah2an ini bisa membuat pansus terus bekerja dengan baik tanpa ada unsur politik. Btw bukunya kayanya mantep nih.

    BalasHapus
  34. Andhika Mappasomba...salut ma beliau...salah satu teman terbaik yg sering berkunjung ke gubukku...apa yg digambarkan dlm bukunya amat menyentuh...sukses ya

    BalasHapus