Hot!

Mochtar Pabottingi, Analisis Politik Yang Holistik Akibat Mencintai Sastra



Mochtar Pabottingi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 17 Juli 1945. Buku kumpulan puisinya berjudul Dalam Rimba Bayang-bayang (2003). Ia bermukim di Jakarta.

Dia seorang Peneliti Senior di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan jabatan Peneliti Utama pada bidang Perkembangan Politik Nasional dengan fokus kajian Pemikiran Politik, Kelembagaan Politik. Pendidikan terakhir S3 University of Hawaii, jurusan Ilmu Politik, lulus tahun 1991

Ketegasan dalam setiap kali bertutur dan pilihan katanya yang asli diakui pria kelahiran sebuah desa di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 17 Juli 1954, sebagai buah dari kecintaannya kepada Republik. Ia mengakui rumah dan buku ikut membentuk kepribadiannya. Rumah telah membentuk karakternya seperti sekarang. Sementara buku membukanya pada keluasan cakrawala. Keduanya berjalan beriringan.

Kecintaannya pada buku bermula dari rumah orangtuanya yang terletak tiga kilometer dari Bulukumba. Pabottingi, ayahnya adalah gerilyawan penentang Belanda. Sebelum bergerilya, ayahnya membelikan buku pelajaran membaca berjudul Si Didi dan Si Minah ketika usianya genap lima tahun. Buku itu dilahap habis.

Kegemaran membaca, khususnya karya sastra, berlanjut. Mochtar yang ketika remaja tergolong nakal, jatuh hati pada puisi Soekarno berjudul "Berdiri Aku" yang bercerita tentang kecintaan kepada Tanah Air. "Saya hafal luar kepala puisi itu dan tetangga kerap minta saya membacakannya keras-keras di beranda," ujarnya mengenang, saat diwawancarai oleh sebuah media nasional.

Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Pusat Penelitian Politik dan Kewilayahan LIPI, kegemaran masa kecilnya membaca karya sastra tetap berlanjut mulai dari angkatan Pujangga Baru sampai Milan Kundera. Intensitas bacaannya pada karya Kundera mengarah pada keterpesonaan. Pesan Kundera yang kental ditangkapnya adalah munculnya kecenderungan masyarakat untuk kembali kepada identitas atau mencari kembali identitasnya yang telah terkubur oleh ambisi materi atau kekuasaan.

Ketertarikan pada karya sastra itulah yang membuat analisis politiknya lebih holistik. Saat masih menjadi mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, dia aktif berpolitik bersama teman- temanya di Yogyakarta dengan membentuk kelompok studi politik "Juli 73". Dia tak pernah bisa meninggalkan puisi, sastra, dan politik. Dia mengakui adanya lingkaran unik keterkaitan sastra dan politik saat menemukan, menyukai dan hafal puisi Soekarno berjudul "Berdiri Aku".

(disarikan dari berbagai sumber)


5 apresiator:

  1. hmm review yang menarik, ngingetin sama tokoh-tokoh 60-an yang pandai bersastra tapi juga cerdas berpolitik...

    BalasHapus
  2. Mochtar Pabottingi? Terimkasih udah mengenalkan lebih dekat akan sosoknya, kawan..

    BalasHapus