Namanya, sebut saja Anyelir. Bukan Mawar. Perempuan cantik seperti dia sangat berlimpah di negeri ini. Hanya nasib mereka yang beragam. Apakah para perempuan seks komersil juga terdampak pandemi covid-19? “Ya, kami salah satu kaum pekerja yang terdampak dan terpukul!” Kata Anyelir.
“Bukankah kalian adalah kaum yang memang sejak dulu menggantungkan nasib pada pekerjaan pukul memukul?” Kata saya.
“Ah mas bisa aja,” sahut Anyelir sambil tertawa.
![]() |
Suatu malam yang luang, saya sempatkan mengobrol dengan Anyelir secara virtual. Banyak kisah menarik yang dia bisa paparkan dan itu bisa berarti sia-sialah makanan sisa-sisa buka puasa yang saya siapkan. Lantaran banyak obrolannya yang sayang jika dilewatkan.
Anyelir seperti PSK lain pada umumnya, selalu beranjak dari alasan paling klasik, “Faktor ekonomi, mas.” Ketika wabah menyapa dan physically distancing digencarkan maka menurunlah penghasilan Anyelir.
Anyelir seperti perempuan perkasa lainnya tidak kehilangan akal. Dia kini memanfaatkan salah satu platform media sosial yang memungkinkan dirinya bisa menjajakan diri secara online. Mulai booking hingga sekadar video call sex di mana para peminatnya tinggal mentransfer pulsa bahkan uang ke rekening.
Namun media sosial bukan tempat aman. Di sana banyak bertebaran akun fake yang kerap melakukan penipuan. Mereka inilah yang juga sangat merugikan akun-akun PSK yang asli. Modusnya biasanya memajang foto profil cewek sexi dilengkapi video vulgar dengan deskripsi bisa bo (booking) ataupun video call sex. Peminat harus mentransfer DP dalam jumlah tertentu. Setelah transfer berhasil si penipu pun menghilang tanpa jejak. Besoknya muncul lagi dengan akun baru.
Apakah Anyelir tidak rindu kampung halaman? Tentu saja rindu berat dan Anyelir harus bisa menuntaskan impiannya mengumpulkan uang banyak agar bisa segera membuka usaha dan hijrah dari pekerjaannya yang sekarang.
Anyelir bisa saja pulang kampung.Namun pandemi membatasi keinginannya. Anyelir sesungguhnya beruntung. Dia memang melacur dan masih tetap melacur. Pendidikan yang tidak tinggi dan jauh dari kemapanan secara turunan justru menghindarkan Anyelir dari perbuatan melacurkan intelektualisme.(*)
Pustaka RumPut, 13 Mei 2020
Tulisan ini pernah dimuat di kolom Kopi Panas Jalurdua.Com