Hot!

Sastra dan Anak Sekolah


Apakah sudah tiba waktunya pengajaran sastra di sekolah-sekolah menjadi katalisator? Sebab konon sebahagian dari pelajar kita telah terperangkap ke dalam kubangan involusi budaya? Sungguhkah style hidup pelajar di masa ini telah kehilangan daya moral sebab terhipnotis oleh kekaguman-kekaguman fisik yang merefleksikan hidup pragmatis dan hedonistis? Dunia pendidikan dituding telah gagal menjalankan fungsinya sebagai lembaga transformasi budaya yang seharusnya mampu menghasilkan alumni yang memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual.

Dari Sabang sampai Merauke para pendidik sepakat bahwa pengajaran sastra yang baik akan mampu memberikan sumbangan terhadap dunia pendidikan. Di antaranya mungkin dalam hal kemampuan berbahasa, pengetahuan seni budaya, cipta dan rasa, pembentukan karakter anak bangsa dan sebagainya. Tapi mampukah karya sastra memberikan kesadaran kepada anak sekolah tentang kebenaran-kebenaran hidup? Sejauh manakah bukti bahwa sastra menunjukkan kebenaran manusia dan kehidupan secara universal?

Berbagai alasan yang bisa dikemukakan terhadap kegagalan pengajaran sastra di sekolah. Buku-buku sastra yang kurang? Banyak gerakan gemar membaca atau perpustakaan masuk desa. Guru yang malas menulis? Banyak guru yang malah jadi blogger bahkan kolumnis di koran-koran. Atau siapa tahu guru seringkali tak berdaya menghadapi tuntutan dan target kurikulum, sehingga setting pembelajaran di kelas jadi kaku dan monoton? Bisa jadi. Alasan yang juga sangat masuk akal adalah bahwa sastrawan kita cenderung asyik dengan dunianya sendiri dan jarang berdialog dengan pelajar di sekolah. Kadang yang dikambinghitamkan adalah kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada pendidikan humaniora. Parahnya lagi kuantitas guru bahasa yang minim di tanah air. Terlebih jika harus menuntut kreativitas mereka.

Saatnya guru sastra harus berani untuk mendesain metode pengajaran sastra di kelas sehingga bisa melarikan diri dari kungkungan kaku kurikulum sastra.

2 apresiator:

  1. sepakat!! dan sudah waktunya.. salam kenal

    BalasHapus
  2. terimakasih. sejak dulu adalah waktu yang tepat tapi mesti terus dikampanyekan sampai kapanpun kepada para guru sastra. salam kenal balik.

    BalasHapus