Hot!

Cerpen, dari Mesir Purba sampai Gola Gong


Tulisan ini muncul secara tidak sengaja setelah kemarin anak tetangga sebelah minta bantuan secara darurat. Guru bahasa di kelasnya memberi tugas PR, harus mengumpulkan segala data seputar sejarah cerpen.

Cerita pendek sebenarnya berasal dari Mesir purba, sekitar 3200 SM. Untuk pertama kalinya terbit cerpen Dua Bersaudara. Bahkan kisah Piramus dan Tisbi yang dibuat Shekespeare ke dalam drama disadur dari cerita pendek Yunani purba. Cerita pendek berkembang di Eropa dimulai sekitar tahun 1812 dengan munculnya penulis Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, mereka menerbitkan cerpen berdasarkan cerita rakyat. Sementara perkembangan cerita pendek Amerika sekitar tahun 1912, penulis Washington Irving sebagai pelopor. Jejak Irving diikuti oleh Edgar Allan Poe dan Nathanael Hawthorne. Edgar Allan Poe menulis cerpen gothic yang seram,, penuh misteri. Secara tidak sadar Edgar merintis penulisan cerita detektif. Sementara Nathanael Hawthorne menulis cerpen-cerpen brcorak filosofis.

Arus deras erpen-cerpen mulai mewarnai kesusastraan Indonesia pada sekitar tahun 1936. Kebangkitan cerpen di Indonesia ditandai oleh Balai Pustaka yang menerbitkan Teman Duduk karya M. Kasim. Selanjutnya Suman Hs dengan Kawan Bergelut-nya diterbitkan pada tahun 1938. Ciri khas cerita-cerita rakyat yang lucu

Masa-masa sulit sejak tahun 1946 tidak menjadikan cerpen mati di Indonesia. Bersama waktu dan perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia nilai cerpen pun mulai berubah. Dahulu bercorak cerita rakyat, tahun 1940-an mulai bergeser pada kehidupan rakyat sehari-hari. Contohnya karya Hamka yang berjudul Di Dalam Lembah Kehidupan diterbitkan pada tahun 1940, warna kehidupan rakyat sehari-hari sudah terlihat, walaupun Hamka mengerjakannya secara sentimental.Tetapi kehadiran cerpen Indonesia baru terlihat sekitar tahun 1930-an. Sebetulnya cerpen Indonesia kalah berkembang oleh cerpen daerah – misalnya pada kesusastraan Sunda – perkembangan cerpennya sudah dimulai sekitar tahun 1928-an, sebagai contoh dengan terbitnya kumpun cerpen (carpon) berjudul Dogdog Pangrewong karya GS sekitar tahun 1928-an.

Cerpen Indonesia mengalami masa subur sekitar tahun 1950-an setelah era perang kemerdekaan. Buku-buku kumpulan cerpen menandainya, di antaranya kumpulan cerpen Subuh karya Pramoedya Ananta Toer (BP:1951); Yang Terempas dan Terkandas karya Rusman Sutiasumarga (BP:1951); Manusia dan Tanahnya karya Aoh KArtahadimaja (BP:1952); Terang Bulan Terang di Kali karya S.M. Ardan (Gunung Agung: 1955) dan lain-lain.

Pada tahun 1960-an muncul para penulis baru. Era tahun 1960-an perkembangan cerpen ditandai oleh kumpulan cerpen Rasa Sayange karya Nugroho Notosusanto diterbitkan Pembangunan tahun 1961; Trisno Sumarjo kumpulan cerpennya Daun Kering diterbitkan Balai Pustaka tahun 1962; Djamil Suherman kumpulan cerpennya Umi Kalsum diterbitkan Nusantara tahun 1963; dan lain-lain.

Sejarah sastra Indonesia mencatat nama-nama dan karya dari barisan cerpenis muda di awal era orde baru. Cerpenis muda saat itu, seperti Putu Wijaya, Umar Kayam, Budi Darma dan masih banyak lagi. Sebuah gaya penulisan baru mulai ditawarkan. Unsur ekstrinsik terasa lebih mengalir terutama ilmu filsafat. Mulailah cerpen dijadikan barometer perkembangan sastra, di samping puisi, novel, dan drama. Setelah Putu Wijaya, berpuluh tahun kemudian lahirlah generasi berikutnya. Barisan cerpenis yang belakangani ini tentu jauh lebih banyak jumlahnya. Aliran dan corak pun jauh lebih beragam. Mulai dari nama Gola Gong hingga Zara Zettira. Lalu, saat ini?

0 apresiator:

Posting Komentar