Hot!

Guru, Siswa dan Pelajaran Sastra



Ibu guru berkata kepada semua siswanya di kelas, "Sekarang kalian menulis kejadian yang kalian alami hari ini." Lalu dengan patuh para siswanya menyiapkan alat tulis dan mulai menulis. Beragam tulisan mereka. Ada anak yang menulis kejadian hari itu dalam bentuk sajak. Beberapa anak lebih suka menuliskan kisah lucu dengan temannya hari itu. Ada pula yang serius menulis cerpen bahkan esai.

Tapi tunggu dulu. Kejadian di atas adalah peristiwa biasa sehari-hari di sebuah sekolah di Prancis. Jika itu terjadi di Indonesia maka perintah gurunya pasti akan disambut pertanyaan dari siswanya, "Kami harus menulis apa, bu?" Atau, "Bu, maaf, saya tidak bisa mengarang." Di negara-negara yang berperadaban lebih maju, pengajaran apresiasi sastra sudah begitu mendalam. Para siswanya sudah diakrabkan dengan karya-karya besar sastrawan dunia dan mereka menunjukkan sikap apresiatif yang lebih baik.

Sejenak kita menengok pedoman pengajaran dan pembelajaran sastra di tanah air. Ternyata porsinya sangat minimalis, muatannya juga jauh dari yang seharusnya. Hampir sebagian besar pengajaran sastra kita hanya terbentur pada apa, siapa dan kapan; yang berputar tentang judul-judul karya, jenisnya, penulisnya –sampai-sampai tanggal lahir dan kapan meninggalnya pujangga itu yang menjadi bahan hapalan siswa.

Benarkah apresiasi sastra dalam proses pengajaran sastra di sekolah-sekolah kita kian kering? Kenyataan yang dihadapi oleh para guru adalah metode pengajaran yang serba "menghapal" padahal sastra yang serba hafalan dapat menjadikan siswa sulit menikmati sastra sebagai pelajaran yang mengasyikkan. Sudah saatnya para guru-guru di sekolah melakukan pembenahan muatan pengajaran yang intuitif dan "melabrak" kurikulum. Dengan begitu mereka bisa menyeimbangkan antara nilai teoritis dengan apresiasi sastra yang lebih dalam. Hal ini sangat mungkin sekali dilakukan oleh guru-guru bahasa kita itu untuk lebih menekankan pada pembelajaran apresiasi sastra.

Pengajaran sastra idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan ditafsirkan oleh siswa. Mungkin lebih indah jika pengajaran sastra juga diarahkan pada penumbuhan kemampuan siswa dalam menilai atau mengkritik kelebihan dan kekurangan karya yang ada dan akhirnya, berdasarkan penilaian atau kritik tersebut, siswa mampu membuat sebuah karya lain. Sudah saatnya para guru pelajaran sastra menyadari bahwa setelah ajaran agama, pengajaran sastra adalah juga kandungan nilai-nilai spiritualitas yang dapat mempengaruhi perilaku kehidupan siswa. Dengan mengakrabkan siswa dengan sastra, secara perlahan dapat memasukkan nilai-nilai humanisme bagi pembentukkan karakter para remaja.

SELAMAT HARI GURU 25 NOPEMBER (^_*)

26 apresiator:

  1. pertama....
    selamat hari guru bwt para pahlawan bangsa...

    BalasHapus
  2. Selamat Hari Guru kepada seluruh Guru di Indonesia. Semoga makin memajukan dunia pendidikan kita.

    BalasHapus
  3. Semua genre harus lebih dibudayakan kembali untuk para murid ,minimal dari mulai sekolah dasar ,agar mereka terbiasa dan menikmati.

    * Selamat hari guru pahalawan tanpa tanda jasa.

    BalasHapus
  4. Mohon izin pasang link nya Ivan ya ?! ...makasih banyak.

    BalasHapus
  5. wah... kalau guru-guru di negara ini bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh guru-guru di Prancis sana, tentu akan ada lebih banyak orang-orang yang memiliki kemampuan handal dalam tulis menulis... btw makasih ya mas atas saran dan dukungannya terhadap rumahku...

    BalasHapus
  6. guru adalah pahlawan tampa tanda jasa

    BalasHapus
  7. wkt smp guru bhsa saya sering menyuruh kami membuat puisi.mungkin hal itu berpengaruh bagi saya shg suka pd sastra ya.

    BalasHapus
  8. maafkan saya guru! saya blogwalking di pelajaran agama. huaaaaaa.....

    BalasHapus
  9. Waktu aku jadi anak SD, pelajaran sastra diselipin cuma 15 menit. Dan guruku hanya suruh kita ke perpustakaan sekolah dengan misi yang mulia: Pinjam buku apa saja. Pinjam lho ya, bukan baca.

    Pelajaran mengarang cuma bekutetan antara menulis puisi dan menulis surat kepada teman yang isinya berlibur ke rumah nenek.

    Waktu SMP, mulailah seni menghafal tanggal lahir pengarang itu dimulai. Kegiatan paling bermutu hanya instruksi buat meresensi cerpen.

    Pelajaran sastra terhambat beberapa kendala:
    1. Gurunya nggak kreatif.
    2. Buku sastra Indonesia nggak ada di perpustakaan.
    3. Mengarang bukan prioritas utama untuk kelulusan murid.

    Solusinya jelas:
    1. Untuk uji kompetensi guru, calon guru yang tidak kreatif jangan diluluskan.
    2. Ijinkan murid meresensi Harry Potter atau komik Naruto.
    3. Hasil karangan murid ditempel di dinding sekolah.

    BalasHapus
  10. Saya membiasakan anak-anak pustakawan binaan saya untuk menulis buku catatan harian. Harapan saya mereka terbiasa menumpahkan apapun yang dialami dalam bentuk kata-kata.
    Semoga ada jejaknya ...

    BalasHapus
  11. Terima kasih untuk ucapannya.

    Ah, engga juga kok. Murid saya dari negara2 maju, masih sering bengong dan merengek kalo disuruh nulis.. Murid2 ASIA adalah murid TOP yang bekerja keras, walaupun kadang kurang kreatif, tapi.. kreatifitas bisa dilatih kok!
    Hidup Murid dan Guru Indonesia!

    BalasHapus
  12. Terima Kasih Guru, tanpa guru tulisan saya tak akan tampil disini! Selamat Hari Guru!

    BalasHapus
  13. Pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari hari ke hari semakin sarat dengan berbagai persoalan.

    Tampaknya, pengajaran sastra memang pengajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, subjek didik, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

    Hanya sekolah yang membuka jurusan bahasa yang mempunyai beban belajar yang agak banyak. Sehingga pembelajaran sastra cenderung termarginalkan.

    Moga Guru Indonesia kedepan bisa meningkatkan kepedulian tentang hal ini.

    BalasHapus
  14. Efektif tidaknya pengajaran sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra, bertumpu pada kreativitas guru bahasanya. Jika sang guru bahasa tidak memiliki minat terhadap sastra, serta apresiasi dan pengetahuan sastranya rendah, maka sulit diharap akan melaksanakan pengajaran sastra secara maksimal, kreatif dan efektif.

    Dan, jika kebanyakan guru bahasa Indonesia berkarakter demikian, maka pengajaran sastra akan tetap menuai kegagalan. Kenyataannya, rata-rata lulusan SMA saat ini memiliki minat baca dan apresiasi sastra yang sangat rendah.

    Karena itu, seperti berkali-kali dikemukakan oleh Taufiq Ismail, sangat penting untuk mengusulkan kembali agar pelajaran sastra dipisahkan saja dari pelajaran bahasa Indonesia. Rasanya, inilah cara paling tepat agar pengajaran sastra di SMA dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.

    Namun, sembari menunggu kebijakan 'pemisahan pengajaran sastra dari pengajaran bahasa' yang belum jelas akan disetujui atau tidak alangkah baiknya jika para guru bahasa dapat memaksimalkan pengajaran sastra di sekolah masing-masing. Meskipun hanya menyumbang 20 persen pada nilai bahasa Indonesia, pengajaran sastra perlu diefektifkan dengan menekankan pada apresiasi.

    Langkah sederhananya adalah mendorong atau mewajibkan siswa lebih banyak membaca karya sastra, seperti memberi penugasan pada siswa untuk membuat resensi karya sastra sebanyak mungkin. Sementara, siswa-siswa yang berbakat menulis kreatif dapat dipupuk melalui kegiatan ekstra kurikuler di luar jam pelajaran resmi.

    Tradisi kompetitif dengan memberi penghargaan pada karya siswa, baik resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), dapat juga dipilih untuk merangsang budaya baca dan tulis siswa. Dalam hal ini, kreativitas guru dalam mengajarkan sastra menjadi tumpuan utama.

    Hanya dengan kesungguhan, kecintaan, dan kreativitas guru, kualitas pengajaran sastra di sekolah dapat didongkrak secepatnya, agar apresiasi sastra kaum terpelajar kita bisa ditingkatkan lagi.

    BalasHapus
  15. saya setuju dengan bang setyawan "Hanya dengan kesungguhan, kecintaan, dan kreativitas guru, kualitas pengajaran sastra di sekolah dapat didongkrak" saat ini kualitas pendidikan sastra di indonesia masih kurang baik...buktinya banyak anak yang males dengan pelajaran bahasa indonesia,ini pengamatan loh....ohya saya punya award untuk anda... terima yah....trims :)

    BalasHapus
  16. salam sobat
    ya setuju banget kalau masih tetap ada pelajaran sastra, sejarah dan budaya.
    karena saat ini sepertinya murid-murid lebih suka pelajaran komputer siih,,

    BalasHapus
  17. aduh miris deh kalau lihat sekolah saya urang perpustakaan aja nggak punya bagaimana anak-anak mau punya minat terhadap sastra

    BalasHapus
  18. terimakasih sudah memposting tentang dunia pendidikan

    BalasHapus
  19. Sebuah kritik dan saran yang sangat membangun untuk dunia pendidikan kita...top markotop ! selamat hari guru..

    BalasHapus
  20. semoga cintaku terhadap sastra tak akan pernah tergoyahkan, cintaku tak terlepas dari guru sastra yang menyuntikan cinta terhadap sastra kepadaku,..makasih

    BalasHapus
  21. selamat hari guru ^_^

    * untuk mas setiawan dirgantara selamat hari guru mas ^_^

    BalasHapus
  22. yayayaya.... selamat hari guru dah buat semua guru se jagad negri ini....

    BalasHapus
  23. lalu salah siapa...???? jangankan sastra, pelajaran bahasa indonesia aja saat ini sudah mulai jarang digemari.... parahnya... kadang orang lebih bangga berbahasa asing daripada bahasa sendiri....

    BalasHapus
  24. Keterbatasan guru menjadi penyebabnya BRo..., PEngalamanku waktu SD, satu guru bisa mengajar 3 mata pelajaran berbeda...., gak ada yang spesialis pelajaran tertentu, wong guru olah raga juga ngajar Bahasa Indonesia.

    Kenapa..?? Karena keterbatasan tenaga guru, sehingga untuk menutupinya, guru yang sejatinya tidak menguasai suatu pelajaran (contoh : sastra) "dipaksa" ngjar....


    SALUT dan rasa Terimakasih tak terhingga kepada MEREKA, Guru2 bangsa tercinta, atas segala pengabdian yang telah dilakukan....

    BalasHapus
  25. Benar bang... Pengenalan Sastra pada anak2 sekolah sangat bagus manfaatnya buat si anak..

    BalasHapus
  26. Pelajaran sastra memang penting tapi waktu SMP dan SMA saya paling tidak bisa pelajaran Sastra :D
    sebenarnya di sekolah tidak hanya diajarkan pembentukan intelektual tetapi juga pembentukan pribadi.
    SELAMAT HARU GURU :)

    BalasHapus