Hot!

Sajak Hati Kecil Untuk Sebuah Pertemuan Kecil




seru juga memahamimu. setelah meniup harmonika aku datang dari lembah-lembah yang jauh lalu mengetuk pintu rumahmu di sebuah kota kecil pada larut malam.

siapakah dia, perempuan yg mencuci rambut diatas karang. wajahnya diguyur rembulan di sebuah kota kecil. dia selalu menungguku membawa berita singkat tentang rindu di tanah purba, tanah alang-alang.
tapi kerjap waktu begitu sejenak, lelahnya aku rasakan begitu lekang menempuh jarak ke situs hati, dimana masih tercatat puisi-puisi lampau, diorama kampung halaman dan bukit-bukit batu.

seru juga memahamimu. saat sebutir huruf tak tereja dan aku meninggalkanmu.
"maafkan," tulisku pada selembar daun lontar. biarkan hanya angin yang membacanya kali ini.

Bulukumba, Minggu 29 Nopember 2009

18 apresiator:

  1. udah datang dari mudik daeng wah puisi yang bagus kalau sudah ahlinya yang bikin nggak bisa komeng deh

    BalasHapus
  2. Semoga tetap bermuara pada kerinduan ya mas.. :)

    Tulisannya bagus banget!

    BalasHapus
  3. Herinduan membuktikan adanya cinta yang dalam, ada award untuk anda dari kami!

    BalasHapus
  4. nice poem......
    salam kompk selalu brother...

    BalasHapus
  5. memang bang...memahami sesuatu yang belum kita pahami itu emang mengasyikkan!!!
    apalagi kalau bermain dengan Theater of mind kita Mantap....!!!
    Dan aku selalu menulis sesuatu dengan khayalan tingkat tinggi!!
    Keren tulisannya!!!

    BalasHapus
  6. datang malam - malam, ingin mengucapkan salam hangat!

    assalamualaikum wr wb!

    BalasHapus
  7. berkunjung di malam hari,membaca puisi yang indah ..

    BalasHapus
  8. setelah kucari2 daun lontarnya ga ada, ywdah saya ga jadi komentar . met malam ...

    BalasHapus
  9. Seru juga memahami puisi ini...
    seperti aku memahami tentang diriku
    karena hanya diri inilah yg memahami ,tanpa orang lain memahami.

    Nice poem ...

    BalasHapus
  10. Mantab..mantab ! sajaknya top markotop, tapi bolehkah bertanya..dosa apakah yang kau sematkan pada perempuan dari tanah purba itu..?

    BalasHapus
  11. @Munir Ardi- Wah, daeng bisa saja. Puisi iseng saja nih.
    @-Gek- ya, semoga. makasih.
    @nuansa pena- ooh terimakasih banyak ya, awardnya keren banget.
    @Sungai Kuantan- salam kompak juga.
    @duniaira.blogspot- lebih keren lagi "Surat pada Y"
    @Isti- apa kabar, mbak.
    @ateh75- seru juga menghindari mati lampu hehehe
    @TRIMATRA- daun lontarnya hanya imajinasi, bang hehehe
    @Noor's blog -bukan dosa mas. tapi sebuah perpisahan.

    BalasHapus
  12. -secangkir teh dan sekerat roti- he he waalaikumsalam, mbak. kok kelupaan ya tadi?

    BalasHapus
  13. Puisi mas Ivan selalu menggungah hati..
    namanya juga sastrawan

    BalasHapus
  14. Mas Ivan pasti suaranya bagus ya?
    kalo penyiar radio kan biasanya suarnya bagus gitu

    BalasHapus
  15. wah.. puisi yah... kelihatannya lagi falling in lope... kwkwkwkwkwkw

    BalasHapus
  16. @Itik Bali- eeh ada Itik..makasih ya.
    @Learning On Perspective- hehe biasa aja kok.
    @RanggaGoBloG- hehe, sedikit..wkwkwk

    BalasHapus
  17. wah...puisinya mantaf...salam kenal mas ivan..

    BalasHapus
  18. Oke... aku maafkan kok... ^_^

    Sajaknya bagus, ngiri juga pengen bisa nulis sebagus itu..

    BalasHapus