Hot!

Prosa Puitik Dan Puisi Yang Naratif


Salah satu kecenderungan baru sejak sepuluh tahun terakhir di jagad sastra tanah air adalah  prosa yang puitik dan puisi yang naratif. Penulis-penulis mutakhir Indonesia seperti Puthut EA, Nukila Amal, Nova Riyanti Yusuf, Radhar Panca Dahana, dan  Ayu Utami mungkin telah  menemukan cara tutur puitik yang dimaksud. Misalnya dalam kumpulan cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta karya Puthut EA. Dalam antologi ini dapat dilihat kepiawaian Puthut dalam menyampaikan isi cerita dengan pilihan kata-kata puitik yang walaupun rumit, namun tetap memukau. Seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:   

Aku memasuki rumah ini seperti memasuki diriku sendiri, seperti memasuki ingatanku sendiri. Sebagaimana aku pernah berdsusta dan berkhianat pada diriku sendiri, berdusta pada ingatanku sendiri, aku juga pernah berdusta dan berkhianat pada rumah ini (Rumah, hal. 39).

Sementara Puthut, Nukila Amal dalam novelnya Cala Ibi, pun berhasil menyeret emosi pembaca untuk terus mengikuti jalan cerita dengan pilihan kata-kata berirama serupa puisi. Mengutip Budi Darma, dalam novelnya ini Nukila berjuang keras, agar bahasa (yang didedahkan) benar-benar puitik (kata penutup dalam Cerpen Pilihan Kompas 2005).

Lalu puitika yang bertutur ala Nova Riyanti Yusuf yang  berusaha memikat pembaca dengan memasukkan kata-kata puitik dalam ceritanya, seperti yang terlihat dalam penggalan berikut:
Kucari-cari dia
Semakin tak sabar
Kupanggil dia
Tidak ada jawaban
(Imipramine)
  
Walaupun kata-kata yang dipilih adalah sesuatu yang umum, namun disanalah letak kepuitisannya. Kesederhanaan yang dipilih Nova cukup memikat dan juga dalam jika ditinjau dari segi makna.

Selain Afrizal Malna, penyair yang termasuk dalam barisan  ini antara lain, Wendoko, Oka Rusmini dan sederetan nama lainnya. Dalam karya-karyanya, mereka tampak memasukkan beberapa ciri narasi yang dimaksud, misalnya dengan memakai kata-kata biasa serta percakapan seperti prosa. Dengan bentuk puisi yang demikian tidak serta merta menjadikan puisi mereka menjadi puisi polos namun tetap  dalam dan tajam. Para penulis yang disebutkan terakhir bahkan telah menemukan semacam bentuk-bentuk baru instalasi kata. 

(berbagai sumber)

22 apresiator:

  1. Amankan pertamnya dulu, Mas Ivan...

    BalasHapus
  2. Wah, saya malah gak ngerti teori-teori sastra, Mas Ivan. Yang saya tahu, saya hanya suka menulis dengan berjibun kata-kata. Entah orang menilainya sebagai prosa, puisi, atau bahkan hanya sampah kata-kata...

    Dulu, Jamal D. Rahman pernah berkata dalam sebuah pertemuan kepenulisan, bahwa seorang penulis puisi adalah sebebas Tuhan. Entah apa maksudnya, saya masih kurang paham...

    Salam sukses Mas Ivan...

    BalasHapus
  3. penu makna dan amat menyentuh...sajak...wouw...

    BalasHapus
  4. tiap kata yg diungkapkan dalam sajak mengandung arti tertentu...kelihaian sang penyair membuat sajaknya...bs menggambarkan gimana pribadi penyair tsb...

    BalasHapus
  5. Pengetahuan dibidang sastra Ivan ternyata sangat luas... Salut...

    BalasHapus
  6. saya suka cemburu sama mas Ivan. Cemburu pada pengenalan para penulis. Pengen kayak githu tapi, saya nggak pernah baca atau jarang baca refensinya. Setidak2nya, mas Ivan telah memperkaya saya dengan tulisan2nya.

    BalasHapus
  7. jujur saya dulu sebenarnya ingin sekali membuat puisi ataupun buku karna itu saya ngeblog,,semoga bisa menjadi sebuah buku,,makasih sobat saya banyak belajar di sini

    BalasHapus
  8. sahabat dulu saha selagi masih sekolah alergi dengan puisi tetapi semenjak melihat puisi yang terpappang di monumen nasional (monas) dengan judul karawang bekasi saya jadi tergugah ternyata puisi juga bisa dijadikan motifasi baik itu semangat berjuang kebangsaan , agama maupau hidup dan cinta

    BalasHapus
  9. Wuh...keliatan, mas ivan ni psti py byk koleksi sastra ya..

    BalasHapus
  10. Saya suka prosa yang puitik, suka juga puisi yang naratif. Keduanya bisa mengekspresikan apa saja, tentang banyak hal secara lebih leluasa, bebas. Ya, salut buat ivan, minatnya yang konsisten pada sastra telah membuat blog ini semakin layak dikunjungi. Selamat weekend ya.

    BalasHapus
  11. betapa indahnya dunia sastra
    berkunjung sebelum jumatan

    BalasHapus
  12. salam sejahtera
    Puisi Nova Rianti Yusuf benar-benar bagus ya
    indah banget

    BalasHapus
  13. Pengin beli dong bung, bukunya...plz.

    BalasHapus
  14. -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-
    Assalamualaikum,
    --Ke tanah abang beli mangga--
    --Harganya 7 juta--
    --Halohaaaaa--
    --Bagaimana kabar saudara?—

    *******Salam ‘Blog’!!*******
    “Setuju banget ama daeng Ivan. Saya juga sedang mencoba menyelami puisi yang kaya gitu, and sastra yang kaya gitu...lagi trend hahahah
    tapi aneh ya,,kadang ketika buat cerita yang puitis terbaca lebayyyyyy...hahahaha”

    Jaga badan selalu, setiap hari, biar tetap sehat, supaya tetap bisa bloging, writing, posting, walking, praying, eating, singing, and ngisssssing, ops…sory…
    -_-_-_-_-_-_-Cosmorary-_-_-_-_-_-_-

    BalasHapus
  15. Sarapan Pagi Penuh Dusta.....kayaknya bukunya menarik nih

    BalasHapus
  16. Kutipan "Rumah, Hl. 39" itu bagus sekali mas. Saya suka... hehehe...

    BalasHapus
  17. Kutipan "Rumah, Hl. 39" itu bagus sekali mas. Saya suka... hehehe...

    BalasHapus
  18. Kucari-cari dia
    Semakin tak sabar
    Kupanggil dia
    Tidak ada jawaban

    tapi begitu kutinggalkan komentar di blog nya....dia pasti akan menyahut "apa kabar kawan" hehehe

    BalasHapus
  19. ARTIKEL KEREN LAGI NIH, SOB.

    BalasHapus
  20. Terimakasih kunjungan, komentar dan apresiasinya, untuk semua sahabat. Maaf kalau aku agak jarang lagi blogwalking. Kesibukan menderaku beberapa hari ini. Salam budaya.

    BalasHapus
  21. sibuk berarti job dunk sahabat

    BalasHapus
  22. Makasih infonya mas, jadi bisa lebih banyak belajar...

    Salam hangat & sukses selalu..

    BalasHapus