Latest Post

Dari Kampung Sebelah

Posted By Ivan Kavalera on Sabtu, 30 Januari 2010 | Januari 30, 2010

dari kampung sebelah katanya
kami bertanya setelah melihat mereka melata.
perempuan-perempuan tanpa alas kaki,
kesuburan jiwanya turun temurun 
melingkari bukit-bukit kesetiaan sambil menjunjung padi

dari kampung sebelah
anak-anak mereka menekuni puisi di huma-huma
gadis-gadis melukis bulan di atas jerami.
listrik belum masuk katanya.
berabad-abad lelaki-lelaki mereka berkaki hitam legam
dan terpaksa memahat batu di ujung sungai.

tidak perlu merisaukan kasus century dan indonesia
sebab di sini tak ada koran dan televisi
di kampung sebelah
hanya memerlukan sedikit waktu saja
untuk menyalakan pelita di setiap senja.
lalu ronda akan dimulai dari ladang jagung

pada pagi yang lebih bersahabat  
kami tak mau kembali ke kota.

bulukumba, 30 januari 2010

Homage: G Sidharta Dalam Seni Rupa Indonesia

Posted By Ivan Kavalera on Jumat, 29 Januari 2010 | Januari 29, 2010


Jogjakarta dan dunia seni rupa Indonesia mengenang seribu hari wafatnya salah satu pelopor seni rupa moderen Indonesia, pematung Gregorius Sidharta Soegijo. Asosiasi Pematung Indonesia (API) bekerjasama dengan pihak keluarga G Sidharta  menggelar pameran retrospektif. Dalam pameran bertajuk 'Homage : G Sidharta Dalam Seni Rupa Indonesia' ini, setidaknya 72 karya seni akan ditampilkan, meliputi patung, lukisan dan karya cetak.

Pameran ini berlangsung dari Kamis 21 Januari hingga Jumat 5 Februari 2010 di Jogja National Meseum (JNM). Pameran tersebut akan menampilkan sebagian besar karya-karya yang dibuat Sidharta sejak masa awal karirnya di tahun 1950-an hingga karya terakhirnya, berupa patung, lukisan dan grafis pada sekitar tahun 2006.

Pada pameran ini setidaknya disuguhkan karya-karya Sidharta yang memiliki kecenderungan gaya konservatif, abstraksi, hingga mitologi. Sidharta yang lahir di Yogyakarta pada 30 November 1932 adalah seorang seniman patung moderen yang tak hanya terpaku pada satu gaya berkarya saja, tapi cenderung berubah-ubah, seperti membuat karya abstrak, figuratif, realis, patung berwarna, dan lain-lain.

sumber:  http://www.krjogja.com/


Indonesia Di Desaku

Posted By Ivan Kavalera on Rabu, 27 Januari 2010 | Januari 27, 2010




sebuah indonesia di desaku. anak-anak tak berbaju yang memanggul keranjang bambu. perempuan-perempuan separuh baya yang membawa pasu.

aku menulis kembali beberapa teks yang pernah kuanggap sebagai puisi. aku tidak akan ke mana-mana.
di sini saja. sebuah rumah yang pernah mengajarkan cara mencintai pohon, angin, sungai dan bunga.

tengoklah ke mana mereka pergi. suara renyah gadis-gadis tertawa di bawah pancuran.
jalan setapak di tengah ladang itu adalah jalan terdekat menjenguk ibu.

sebuah indonesia di desaku. tanpa blackberry, akun facebook. twitter apalagi weblog. di sini saja. lalu putik-putik kenangan berjatuhan dari hutan pinus. bocah kecil berlari di atas pematang.
memanggil-manggil. memanggil-manggil.



bulukumba, 25 januari 2010

Pertemuan

Posted By Ivan Kavalera on Senin, 25 Januari 2010 | Januari 25, 2010


sebuah pertemuan memecahkan beberapa metafora kata cinta. aku kini mendengarkannya dan bertemu denganmu adalah sangat bukan kebetulan. 

setiap penjelasanku kepadamu semestinya dibagi juga ke dalam buncah-buncah kerinduan yang pernah hilang di beberapa titik. ini bukan sekedar pertemuan. aku merasakannya dengan sangat yakin. sebaris hujan yang menggoda kerudungmu di suatu sore yang hangat, selarik angin yang menyelinap ke dalam buku yang kau baca di taman kota. aku ingin mengingatnya dengan sangat jelas. 

seperti apakah kerinduanku  sekarang dibanding dahulu?  tapi aku selalu ingin menjelaskannya. bahwa semestinya masih ada buncah rindu. dan hanya itu satu-satunya penjelasanku kini yang harus kau anggap  yang tersisa dariku sebagai titik paling romantis. 

meski aku tak lagi bisa mengingat dengan jelas. 

bulukumba di sore hangat, 25 Januari 2010 



20 Panggung di Java Jazz Festival 2010

Posted By Ivan Kavalera on Minggu, 24 Januari 2010 | Januari 24, 2010


Untuk keenam kalinya, Java Jazz Festival (JJF) 2010 akan digelar di Jakarta. Lokasi pertunjukan pun berpindah ke tempat yang lebih besar. JJF 2010 akan menyiapkan 20 panggung.

Acara yang akan digelar pada 5 hingga 7 Maret 2010 mendatang tersebut kini berlokasi di Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Sebelumnya, konser tersebut selalu mengambil tempat diJakarta Convention Center. Akibat membludaknya jumlah penonton di 2009, maka tempat pun diperbesar. Hal tersebut membawa tantangan bagi JJF 2010 untuk menyuguhkan sesuatu yang baru.

“Panitia akan memakai sembilan hall besar, ada empat outdoor stage, dua akustik hall di dalam gedung dan beberapa additional stage. Jumlahnya sekitar 20 stage," kata Eki Puradireja, project manajer JJF. Eki memastikan suasana festival akan lebih terasa di tempat baru tersebut. Tentu saja line-up yang kuat akan disiapkan untuk mengimbanginya.

Untuk pertunjukan tanggal 5 dan 6 Maret akan dimulai pada pukul 18.00 WIB dan pukul 16.00 WIB untuk tanggal 7 Maret 2010. Berbagai penampilan spesial pun siap disuguhkan. John Legend, Toni Braxton, Babyface, Diane Warren, The Manhattan Transfer akan jadi bintang tamu istimewa.


Pelajar Sulsel Selamatkan La Galigo

Posted By Ivan Kavalera on Sabtu, 23 Januari 2010 | Januari 23, 2010


Ratusan pelajar dari beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menyelamatkan La Galigo. Mereka unjuk kebolehan pada Festival Seni Tari Tradisional Sulselbar di Auditorium Prof Ahmad Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Rabu (20/1).

Festival ini digelar Pusat Studi La Galigo Unhas. Pada kegiatan bertajuk Revitalisasi Kebudayaan Menuju Penguatan Akar Budaya Lokal, para pelajar itu menampilkan beragam kebudayaan yang ada di Sulsel. Termasuk kebudayaan yang kondisinya kini hampir punah.

Salah satunya adalah  seni massureq yang dilakukan pelajar dari Kabupaten Wajo. Massureq yakni membacakan naskah sureq galigo yang terdapat dalam epik La Galigo. Epik La Galigo merupakan maha karya nenek moyang masyarakat Sulsel. La Galigo juga merupakan naskah karya sastra terpanjang di dunia. Naskahnya mengalahkan panjang naskah Mahabrata karya sastrawan dari India.

Naskah La Galigo sudah dipentaskan di beberapa negara di dunia di antaranya di Belanda, Italia, Spanyol, Madrid, Australia, dan Singapura. Namun seiring waktu, semakin minim jumlah orang tua yang bisa menghapal ataupun mementaskannya. Saat ini dibutuhkan transformasi gerakan ke generasi muda.

Selain pelajar asal Wajo, pelajar mulai SD, SMP, hingga SMA daerah lainnya juga memamerkan kemampuannya berseni pada festival tersebut. Di antaranya pelajar dari Madrasah Tsanawiyah DDI Gusung Makassar, SMP Tanasitalo Kabupaten Wajo, SD 16 Tempe Kabupaten Wajo, pelajar dari Bone, dan Pangkep.

Pelajar asal Wajo menampilkan Tari Ma'genrang, massureq, dan tari anak maseri. Pelajar asal Bone mementaskan Tari Pajaga. Sedangkan pelajar dari Kabupaten Pangkep mementaskan musik gendong-gendong. Sedangkan Makassar menampilkan seni barazanji.


Puisi Yang Kuat dan Puisi Yang Lemah

Posted By Ivan Kavalera on Jumat, 22 Januari 2010 | Januari 22, 2010


Menurut sebuah penelitian puisi dapat mencerdaskan karena membuat otak kanan manusia terasah dalam memilih kata dan memahami makna yang terdapat di dalamnya. Puisi juga media paling independen untuk bersuara. 

Memahami sebuah puisi, sesungguhnya kita menghadapi sebuah obyek yang berada di balik tirai. Ada kalanya kain tirai terbuat dari rajutan yang sangat rapat sehingga kita memerlukan mata yang jeli dan kesabaran dalam melihat dan menafsirkan obyek yang berada di balik tirai. Ada kalanya juga kain tirainya tersulam dengan renggang sehingga secara mudah kita dapat mengetahui siapa yang berada di baliknya.

Begitu juga puisi, terkadang kita sangat susah dan lambat untuk memahami maksudnya, terkadang begitu mudah dan cepat untuk mengerti maknanya. Puisi terpilah dalam dua jenis, yaitu puisi transparan atau disebut pula diaphan dan puisi prismatis. Transparan berarti jernih, bening, dan tembus pandang; sedangkan prismatis akan sukar tertangkap oleh mata karena sinar yang menembus sebuah prisma akan terurai kandungan warnanya.

Contoh kutipan puisi prismatis :
Pada jam ke-24
kota seperti kiamat:
Sydney telah terkunci
dalam gelas pagi.
Ada bulan mengukur luas
laut dan musik panas
Ada beton membentang bentuk
dan bayang hanya merunduk
….(Sydney: Goenawan Mohammad, 1979)

Contoh kutipan puisi transparan ;
Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
pohon jambu di halaman ruman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
Memainkan daun yang berguguran.
…(Episode : W.S. Rendra) 

Sebenarnya tidak ada istilah puisi yang baik atau pun yang puisi yang buruk. Jika bicara baik atau buruk, maka tentu ada kepastian nilai yang menjadi ukuran sedangkan puisi bersifat relatif. Semua puisi adalah karya seni.  Puisi yang abstrak sekali pun menggunakan kata-kata yang nyata sebagai alat eskpresinya. Maka yang ada hanya istilah puisi yang lemah dan puisi yang kuat.

Yang membuat puisi menjadi lemah adalah :

1. Puisi mengandung kata-kata, ungkapan, atau pernyataan yang berlebihan atau bombastis
Kata papa,
Jiwa muda adalah jiwa satria
yang menegakkan kebenaran
yang menegakkan keadilan
….(Kata Papa : Sri Yulianti, 1979)

2. Puisi menampilkan masalah atau tema yang terlalu kecil tak sebanding dengan alat ekspresinya yang terlalu kuat
Dik Dani,
Sedang banjirkan Jakarta?
Sehingga kau tidak bisa datang
Menengokku di sini
.
….(Sajak buat Dik Dani : Nunik Yulianti, 1979)

3. Puisi lemah dalam penalaran
Semalam hujan begitu derasnya
entah mengapakah
ramalan cuaca TVRI yang benar?
…(Rahmat: Thoha Masrukh A., 1979)

4. Puisi mengandung sisipan obyek yang melemahkan obyek utama dan mengganggu keutuhan sajak.

Oh Ibu sangat besar jasamu
Wahai kawanku janganlah kamu melawan ibumu
Dan jangan pula membantah kata ibumu
…(Ibu: Muh. Zen. 1982)

5. Puisi mengandung lebih dari satu sudut pandang
Kutulis syair ini
Ditemani oleh sepasang lilin
Ia menyala dalam kegelapan
Untuk menerangi kamarku
Betapa tulus hatimu
Rela berkorban untukku
Kau bakar dirimu
…(Sebuah pengorbanan: Dewi S., 1981)

6. Puisi menggunakan gaya pengucapan atau gaya bahasa yang kurang sempurna
Daunmu yang rimbun menutup surya
sehingga di bawahmu terbayang keteduhan dan kedamaian
sunyi, lembab mengingatkan akan maut
…(Hutan: Roslaini, 1982)

7. Puisi mengandung kelemahan rima

Bercucuran air mataku
Jika aku mengenang nasibmu
Tapi jika takdir Tuhan Mahatahu
Kita tak boleh menggerutu.
(Aku: Paramita I.S., 1979)
8. Puisi terlalu prosais
empat orang pemetik menggigil di (antara)
rerimbun pohon (an) teh
pucat mukanya
(sudah) beberapa hari (ini)
hanya rebusan singkong
dan jagung bakar mengganjal perut mereka
…(Badai Di Perbukitan Teh: Sherly Malinton, 1979)

Semoga bermanfaat, sahabat hati. Hidup ini sebenarnya adalah juga sebuah puisi. 

(pelbagai sumber)


(

Khrisna Pabichara, Lelaki Paling 'Bicara'

Posted By Ivan Kavalera on Rabu, 20 Januari 2010 | Januari 20, 2010


Khrisna Pabichara, ia masih saja seorang motivator dan penggiat sastra. Seorang trainer dan motivator pengembangan kecakapan belajar. Puluhan tahun mengembara di dunia pendidikan alternatif, menemani para siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Nafasnya tetap  aktif menggeliat dengan berbagai artikel tentang pendidikan dan pola asuh anak di media massa dan dunia maya. Selain berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (KOSAKATA), juga bergiat sebagai penulis buku, dan penyunting di Rumahkata Publishing.

Krishna Pabichara juga seorang blogger yang 'khusyu'. Ia dan sebahagian besar pikirannya dapat ditemui di http://dusunkata.blogspot.com/. Saya menangkapnya sebagai salah seorang lelaki yang termasuk paling 'bicara'  dalam ruang humanisme ketika membaca dua contoh puisinya berikut ini. 

Perjalanan Rindu
Rindu berdiri di halaman hari. Matahari masih mengepul di mata sepinya. Mata pengap: menjerang air mata dan senyap. Kupu dan serangga berloncatan: melenting, menggelinding. Dukanya tanak, mengepul di cangkir kopi: menguapi cinta yang sederhana.
Rindu sekarang berjalan di beranda senja. Langkahnya ringan menapak pucuk rumputan sunyi. Wajahnya masih sama: tenang-terang, hening-bening. Detik dan menit berlomba-melaju: melompat, menjingkat. Rindu yang sepi menimang-nimang kenangan: menjaga cinta yang sederhana.
Rindu pulang ke pangku malam. Matahari sampirkan letih di kening bulan. Rindu gemeretak menahan gigil, berderit di telikung pilu. Malam ini ingin sekali dia menangis. Sudah lama dia tidak menangis: terakhir dia menangis ketika pacarnya pergi selepas merampok selembar selaput dara. Dan dia tercatat sebagai bekas perawan: meratapi cinta yang tidak sederhana. 

Lelaki Paling Puisi
Aku, lelaki paling sepi, menyelam ke perut laut. Memetik ingatan mencari kenang yang dulu karam di cangkang karang. Mengeruk arus. Menandai wajah ibu: ada rindu terdampar di pantai. Berkali-kali.
Hari ini, kubangun rumah pasir. Membayangkan ibu duduk tenang di salah satu lengang ruang, menyulam rabuk perahu yang lapuk ditulah usia. Tapi gelombang selalu menyapu rumah itu, bahkan sebelum aku usai memasang atapnya.
Aku, lelaki paling puisi, melepas matahari ke rahim laut. Agar tak ada lagi senja atau camar yang riang mengajak pulang. Sepanjang siang aku menjala kenangan: ibu, dulu dirimbun bakau, aku selalu membuang risau. Sekarang, sunyi:
Menghitung sesak.

Prokem

Posted By Ivan Kavalera on Selasa, 19 Januari 2010 | Januari 19, 2010


Seorang mahasiswa Prancis tiba-tiba kebingungan di depan komputernya. Baru saja dia mencoba menerjemahkan sebuah cerpen dari sebuah blog milik seorang blogger Indonesia. Google Translate pun tidak mampu menolongnya kali ini. Ternyata bahasa prokem alias gaul dalam cerpen tersebut tidak mampu diterjemahkan oleh fasilitas penterjemah secanggih apapun. Kecuali kalau saja ada ciptaan baru berupa alat yang bisa menterjemahkan bahasa gaul Indonesia. Masalahnya bahasa prokem memiliki eskalasi perubahan dan perkembangan yang sangat cepat. Alat penterjemah bahasa prokem secanggih apapun tidak akan mampu mengatasinya.

Selain mahasiswa Prancis itu, ternyata jutaan orang-orang di belahan bumi lainnya banyak mengalami hal yang sama.  Bahasa Indonesia lebih sering menjadi bahasa yang sama sekali asing bagi mereka. Bahasa gaul, prokem dan semacamnya telah  menjadi agresor utama bagi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan  benar.

Abad baru menawarkan dua imperialisme bahasa. Imperium pertama adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional yang paling penting. Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kaum elite di banyak negara berkembang bahkan berhasil memilah-milah stratifikasi sosial dalam masyarakat. Imperium kedua adalah bahasa gaul atau prokem.

Keseharian kita, jujur 90% kaum terdidik adalah pembawa kedua imperialisme tersebut. Walaupun bahasa Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai bahasa nasional namun terbatas dalam penggunaan. Lalu di manakah lagi letak ide-ide cemerlang para manusia Indonesia terdampar ketika tak seorang pun menemukannya di belahan bumi lainnya. Keegoisan menggunakan bahasa prokem menjadikannya begitu asing di mata bangsa lain.

Lingkaran Aku Cinta Padamu

Posted By Ivan Kavalera on Minggu, 17 Januari 2010 | Januari 17, 2010


Lingkaran Aku Cinta Padamu
Iwan Fals & Sawung Jabo
(Album Anak Wayang 1994)

Kini kami berkumpul
Esok kami berpencar

Berbicara tentang kehidupan
Berbicara tentang kebudayaan
Berbicara tentang ombak lautan
Berbicara tentang bintang di langit
Kami berbicara tentang Tuhan
Berbicara tentang kesejatian
Tentang apa saja

Malam boleh berlalu
Gelap boleh menghadang

Disini kami tetap berdiri
Disini kami tetap berpikir
Disini kami tetap berjaga
Disini kami tetap waspada
Disini kami membuka mata
Disini kami selalu mencari
Kesejatian diri

Alang alang bergerak
Mata kami berputar

Seperti elang kami melayang
Seperti air kami mengalir
Seperti mentari kami berputar
Seperti gunung kami merenung
Di lingkaran kami berpandangan
Di lingkaran kami mengucapkan

Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu


Sejak lagu ini ditetapkan beberapa bulan lalu sebagai lagu penutup program sastra dan budaya 'Ekspresi' di RCA 102, 5 FM, banyak pendengar yang bertanya tentang lagu ini melalui email, SMS maupun telepon ke studio. Kebanyakan pendengar menanyakan, "Kenapa harus lagu itu?" atau "Kenapa tidak pilih lagu ini, atau lagu ini..misalnya" dan bermacam-macam lagi pertanyaan lainnya.



Dari sisi musikalitas, lagu ini sebenarnya tidak terlalu menonjol. Dari sisi popularitas, lagu ini tidak pernah menempati tangga lagu teratas di chart stasiun radio manapun. Bahkan tidak termasuk sebagai lagu yang melegenda. Berbeda dengan beberapa lagu Iwan Fals yang lainnya semisal 'Bongkar' yang dinobatkan oleh majalah Rolling Stones special edition Desember 2009 sebagai Lagu Terbaik Sepanjang Masa

Kami di RCA  hanya memiliki satu jawaban. Kami memilih lagu ini sebab menurut kami sampai saat ini hanya ini satu-satunya lagu di dunia yang pernah diciptakan dengan penuh idealisme dan dedikasi terhadap seni, kebudayaan, peradaban, humanisme dengan penuh cinta. Lagu ini sangat mewakili visi sebuah program sastra dan budaya di radio.

Rousseau, Esais Di Balik Revolusi Prancis

Posted By Ivan Kavalera on Sabtu, 16 Januari 2010 | Januari 16, 2010

Jean Jacques Rousseau (Geneva, 28 Juni 1712 – Ermenonville, 2 July 1778). Ia adalah seorang tokoh filosofi besar, penulis dan komposer pada abad pencerahan. Pemikiran filosofi dan beberapa esai kecilnya mempengaruhi rakyat kelas bawah dan menengah untuk melakukan revolusi Prancis.

Tidak banyak catatan sejarah yang menuliskan tentang sebuah karya sastra yang bisa menumbangkan sebuah Negara. Tapi Prancis mengenal dan tetap mengenang Rousseau menyumbangkan pemikiran untuk perkembangan politika modern dan dasar pemikiran edukasi. 

Karya novelnya, Emile, atau On Education yang dinilai merupakan karyanya yang terpenting adalah tulisan kunci pada pokok pendidikan kewarganegaraan yang seutuhnya. Julie, ou la nouvelle Héloïse, novel sentimental tulisannya adalah karya penting yang mendorong pengembangan era pre-romanticism dan romanticism di bidang tulisan fiksi.

Karya autobiografi Rousseau adalah 'Confession', yang menginisiasi bentuk tulisan autobiografi modern, dan Reveries of a Solitary Walker adalah contoh utama gerakan akhir abad ke 18 "Age of Sensibility", yang memfokus pada masalah subjectivitas dan introspeksi yang mengkarakterisasi era modern. Rousseau juga menulis dua drama dan dua opera dan menyumbangkan kontribusi penting dibidang musik sebagai teorist. Pada perioda revolusi Prancis, Rousseau adalah ahli filsafat terpopuler diantara anggota Jacobin Club. Dia diangkat sebagai pahlawan nasional di Panthéon Paris, pada tahun 1794, enam belas tahun setelah kematiannya.


Digitalisasi Warisan Budaya Sulsel

Posted By Ivan Kavalera on Jumat, 15 Januari 2010 | Januari 15, 2010

Warisan lokal Sulsel dari budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja akan segera didigitalisasi. Tujuan pembangunan perpustakaan digital untuk mempromosikan pemahaman dan kesadaran antarbudaya dalam lingkup nasional, menyediakan sumber belajar, mendorong ketersediaan bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya setempat, serta mendukung penelitian ilmiah.

Ide digitalisasi perpustakaan yang digagas Badan Perpustakaan Nasional akan dilakukan dengan cara mengkonversi berbagai warisan budaya, baik yang berupa benda maupun yang bukan benda ke dalam bentuk digital.

Setelah itu, mengintegrasikan warisan budaya yang berupa teks, gambar, video, dan audio ke dalam bentuk multimedia warisan budaya, kemudian menyebarkan dan memanfaatkan warisan budaya digital ini untuk pembelajaran dalam rangka pembentukan jati diri bangsa.

National Digital Heritage Repository sejenis "gudang" tempat menyimpan perangkat lunak yang berisi warisan budaya-budaya nasional yang telah diintegrasikan ke dalam bentuk digital tersebut. Bahan perpustakaan digital terdiri dari berbagai media, misalnya buku bahan kartografis, manuskrip, objek benda, rekaman suara, peta, notasi musik, dan lain sebagainya. Manfaat yang dapat dirasakan nantinya dari repositori warisan budaya digital adalah menghimpun warisan budaya dalam bentuk multimedia.



Template

Posted By Ivan Kavalera on Rabu, 13 Januari 2010 | Januari 13, 2010


loadingnya tidak lama jika hanya sekedar mengenang, biasanya. 
 banyak yang telah berubah di kotamu. termasuk template di hatimu, mungkin. beberapa tahun lalu seseorang yang lain telah memberimu tutorial untuk cara-cara mencintai. 

aku masih mengingatnya. hari itu kita membuat satu akun saja untuk sebuah perjalanan yang disepakati. "tapi aku akan membuat beberapa buah  akun untuk mengantisipasi musim-musim yang biasanya membanned hati kekasihku," katamu di hari itu. sebuah hari penuh hujan di kotamu dengan template klasik. 

aku masih saja mengingat berbagai macam widget yang telah kau pasang di waktuku yang lampau. aku mengingatnya dengan cara yang termasuk paling setia. aku belum pernah memikirkan untuk menggantinya. paling tidak sampai aku bertemu lagi dengan bermacam kode
javascript yang tidak aku pahami.
 

musim-musim yang senantiasa berubah memang kadang  ditugaskan membanned cinta. yakinku, diam-diam.

Bulukumba, 13 Januari 2010

 
Support : Creating Website | LiterasiToday | sastrakecil.space
Copyright © 2011. Alfian Nawawi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by sastrakecil.space
Proudly powered by LiterasiToday