
Akhirnya saya menyimpulkan ini semua adalah berkat jasa nenek yang pernah mendongeng beberapa kali ketika saya hendak beranjak tidur. Sebenarnya saya tidak seberuntung anak-anak lainnya. Nenek hanya beberapa kali sempat mendongeng sebelum meninggal. Namun ternyata itu telah cukup memberi saya rasa penasaran kuat terhadap buku-buku cerita sejak masih bocah.
Tidak semua bocah di negeri ini bernasib beruntung pernah ditidurkan oleh nenek ataupun ibunya dengan dongeng pengantar tidur. Kenyataan perubahan telah di depan mata. Kesibukan orang tua merupakan salah satu sebab lunturnya tradisi dongeng mendongeng di lingkungan keluarga.
Banyak ibu-ibu di tanah air yang kebetulan tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi. Sebahagian dari mereka malah buta huruf. Namun amat menakjubkan mereka mampu mendongeng dengan fasih, menarik dan teratur. Dongeng yang beragam itu mampu menghipnotis penikmatnya, yaitu anak-anak mereka yang memang membutuhkan sentuhan edukasi melalui cerita lisan. Ketika beranjak dewasa, anak-anak itu lebih memiliki minat baca yang tinggi dibanding mereka yang tidak pernah menikmati dongeng lisan di masa kecil.
Unsur pendidikan dalam dongeng sangat mudah menjadi rekaman kuat hingga penikmatnya beranjak dewasa. Dengan banyak – banyak mendongeng kepada anak – anak di usia dini mudah – mudahan saja kita bisa menaklukkan musuh literasi, yaitu televisi!. Tapi cobalah menengok kampung kita, bahkan mungkin dongeng telah hilang sama sekali.
pertama...senengnya...
BalasHapusberuntungnya ivan punya kesempatan memiliki nenek yg perhatian dan pandai mendongeng...
seiring waktu emang tv kayaknya jadi magnet yg lebih kuat ya, beruntung sekarang ada novel anak2 Kecil2 Punya Karya, adikku suka banget sm cerita2nya, plg engga bs meminimalisir agenda nonton tv
dongengmu sebelum tidur mimpikan yang indah biar kuterlelap.... malah nyanyi nih.
BalasHapusdlu yang sering mendongeng adalah mbak aku , terus terang beliau pandai banget menghanyutkanku dalam tiap alur yang dibacakannya...
mungkin kesukaan membacaku berawal dari itu semua,...
sungguh ironis y :(
BalasHapuspadahal salah satu keistimewaan dodongengkan adalah mengasah imajinasi anak
perkembangan teknologi membawa dampak luar biasa. baik dan buruk datang bersamaan.
BalasHapusKita bs lihat, televisi telah menjadi guru bagi anak2, adik2 kita. Sementara tak ada yang mengarahkan mereka untuk memilih mana yang lebih baik untuk mereka. Memberi sedikit waktu untuk mereka mengenal dunia lewat buku dan cerita kita yang lebih mengasah imajinasi mereka.
cerita-cerita kancil dan Abunawas yang sering didongengkan oleh ayah semasa kecil masih terekam jelas dibenak saya nice posting urang hiks(sedih inget ayah)
BalasHapushhhmmm anda sungguh beruntung kawan...
BalasHapussaya dulu suka membaca koran bekas bungkus belanjaan dari warung...
kalau dulu para orang tua mendongenkan cerita kepada anaknya sebelum tidur, dan sekarang televisi yang mendongenkan cerita, berita sebelum tidur, pengalamanku sendiri. biar ngantuk liat televisi dulu
BalasHapusYa....setuju, tradisi mendongeng sangat bermanfaat juga penting. Sebagaimana pentingnya sastra tutur/lisan yang banyak terdapat di seluruh pelosok tanah air. Saya juga termasuk beruntung van, sempat didongengkan kakek dan nenk saya saat bocah dulu. Tentang legenda si pahit Lidah, Si Mata Empat, betapa itu membekas kuat di benak. Nice post. Rekam jejak yang mantap kawan.
BalasHapusmama saya juga suka mendongeng tapi tidak setiap hari. biasanya cerita puteri salju dan bawang merah bawang putih.
BalasHapusmama saya juga suka mendongeng tapi tidak setiap hari. biasanya cerita puteri salju dan bawang merah bawang putih.
BalasHapussudah lama aku tidak mendengar orang tuanya mendongeng untuk anak cucunya sewaktu akan tidur
BalasHapusSaya termasuk yang kurang beruntung, karena rasa2nya saya tak pernah mendapat dongeng dari ibu apalagi nenek..hiks..hiks !
BalasHapushanya segelintir mungkin ya yg didongengi nenek. nenekku dulu bisanya cuma bhs bugis, akunya yg ga ngerti... hehe...
BalasHapusskg aku lagi bc buku hikayat 1001 malam, baru aja malam ke - 2,wah bener² didongengi abisss, karya sastra timur tengah yg tiada duanya didunia...
eh tapi kemaren sambil kerja aku dibacain kisah para Nabi... emang betul, dibacain/didongengin.. (sebagai pendengar) memang lebih nikmat... gak tau kenapa, mungkin lebih nangkep kalii yaa
BalasHapus@All~ Terimakasih apresiasinya. Dongeng adalah saalh satu warisan leluhur yang masih dapat kita buktikan efektifitas sisi edukasinya.
BalasHapusIya benar sekali orang tua dulu membacakan tanpa buku,tapi kita begitu menikmatinya.Saat ini televisi sudah seperti guru untuk para anak,cerita2 yg ditayangkan begitu dinikmatinya...efeknya terhadap anak ,mereka lebih mengikuti televisi dari pada mengikuti orang tuanya...ironis ya.
BalasHapusMengingatkan saya dgn nenek yg dulu sering berdongeng...btw dongeng ini bgs utk mempertajam daya imajinasi anak...
BalasHapusSalam persahabatan selalu bang
Kalau dulu anak-anak banyak tertidur bag terhipnotis oleh dongeng yang dibacakan oleh orang tuanya, dongeng yang sarat akan pesan-pesan moral.....
BalasHapusKini anak-anak banyak tertidur oleh hipnotis siaran TV yang makin tidak mendidik.
sama, minat baca saya tumbuh gara2 wkt kecil sering didongengin
BalasHapusminum kopi sambil teringat dongeng ayah semasa kecil
BalasHapusWah..saya termasuk kurang beruntung...jarang denger nenek mendongeng waktu kecil.paling-paling cuma di nyanyiin aja kalau mau tidur hehehe.
BalasHapusXixixi... saya dulu juga sering di dongengi sama Ibu saya Mas Ivan dan itu adalah sebuah kenikmatan yg luar biasa
BalasHapus